
Pukul 11:00 waktu indonesia.
Rendy menatap wajah yang kini telah memikat hatinya. Wajah damai dan tentram karena tengah berselancar di alam mimpinya. Rendy mendesah gelisah. Mencoba mencari angin dengan bangkit dari posisinya. Jika yang saat ini bersamanya adalah Elena masa kecilnya, maka dia tidak akan melepaskan Elena dengan mudah. Pantas saja akhir-akhir ini kedekatan mereka berdua sangat kontras.
Tadi malam dirinya telah membahas perihal Elena dengan ayahnya. Intinya mereka akan menyembunyikan terlebih dahulu perihal Elena kemungkinan anak dari Monica dan Kevin. Menilik lebih jauh, pasti ada yang mendasari itu semua. Terlebih saat ini Elena hanya menginginkan balas dendam. Dia tak mengatakan hanya anak angkat di keluarga Vanhoutten. Rendy hanya takut dengan sikap naif dari Elena. Rencanya dia harus menyelidiki masa lalu Elena sampai tuntas.
"Sepertinya aku harus menghubungi Leo. Lelaki yang angkuh dan sombong itu aku rasa bukan orang sembarangan. Bahkan tatapan kedua matanya pada Elena bukan tatapan biasa. Aku yakin dia pasti tau siapa Elena."
Rendy mengambil ponselnya diatas nakas. Lelaki itu memencet tombol hijau di ponselnya untuk menelpon Leo. Sesekali dia melirik sosok yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Tut tut tut. Bunyi nada yang tersambung. Rendy menarik satu sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis.
Klek.
"Halo?" sahut sebuah suara dari ujung seberang.
__ADS_1
"Hallo. Leo orang yang ikut dengan kita untuk makan malam waktu itu siapa? Dia terlihat begitu sombong dan angkuh. Yang tidak membawa pasangannya waktu itu. Apa aku boleh minta nomor hpnya?" tanya Rendy.
"Siapa? Apa maksudmu Reza Eester Oxley? Dia memang jomblo. Makanya dia datang sendiri. Hei kau sialan! Berani kau mencari masalah denganku?" teriakan dari Leo membuat Rendy menautkan kedua alisnya.
"Kau ada apa?" tanya Rendy kebingungan. Sesekali Rendy mendengar suara keributan dari balik telpon itu. "Apa kau tengah membuat keributan?"
"Tidak. Aku hanya memberikan pelajaran kepada orang yang berani mengganggu istriku "
"Sialan kau! Namanya Reza Eester Oxley. Tapi aku tidak punya nomornya. Yang kupunya hanya nomor telpon dari Jones, asisten pribadinya. Bagaimana?" tanya Leo.
"Baikah, itu tidak masalah. Asal aku bisa meminta bantuan darinya. Kirim sekarang!" Rendy segera mematikan telponnya. Saat dia melihat satu pergerakan kecil diatas tempat tidur.
"Paman ... " sapa Elena dengan santai.
__ADS_1
"Kau lihat jam dinding dulu biar melek matanya. Kau babi ya? Tidur mengapa begitu hingga selama itu?" tanya Rendy. Dengan cepat Elena melihat jam di dinding. Seketika kedua netranya membulat.
"Paman! Mengapa kau tidak membangunkanku?" teriak Elena. Gadis itu segera bangun dari tempat tidurnya. "Aku belum mandi dan sarapan pagi! Aaarggghht bagaimana hari ini aku setor muka ke orangtuamu?"
"Wajahmu itu sudah jelek! Jangan banyak bicara segera mandi dan turun!" teriak Rendy kemudian dia meninggalkan Elena di kamarnya.
"Hah ... Sialan masa begini kelakuanku di rumah calon emak mertua? Bangun tidur jam 11 siang? Astaga ... Tadi malam sampai jam berapa? Aku bahkan tidak ingat sama sekali! Tunggu, aku baru sadar kalau sekarang sudah dikamar? Apa aku digendong oleh paman Rendy?"
Elena mencoba mengingat-ingat kepingan memory tadi malam. Karena sangat kelelahan dia tak sadar jika tertidur. Biasanya dia tak nyaman di luar. Entah mengapa karena keberadaan Rendylah, Elena merasa nyaman.
"Mengapa? Mengapa hatiku begini?"
Kenapa jantungku berdegup kencang begini?
__ADS_1