
"Ke-kenapa?" tanya Sabrina gugup.
Gadis itu mematung di depan pintu. Beberapa kali mengerjapkan kedua mata. Mendadak Sabrina merasa horor. Di ambang pintu, William sudah berdiri di sana. Tentu saja menatap tajam dan menghunus bak belati pada Sabrina.
"Kamu dari mana saja?" Suara bariton itu terdengar tegas.
"Da-dari kantor papa," jawab Sabrina dengan tergagap.
William menyipitkan kedua mata. Memindai Sabrina yang mematung di tempatnya berdiri. Gadis itu seolah menjaga jarak dengan dirinya.
"Kamu tidak lupa kan statusmu?" tegas William.
Mendapati pertanyaan itu, Sabrina mengkerut. Ia tahu betul, ini sudah memasuki jam 18:30 WIB. Tentunya William akan curiga padanya. Bukankah sekarang status Sabrina adalah seorang istri? Lalu mengapa ia harus bertemu sang papa untuk waktu yang lama? Sabrina memutar otak untuk memberikan alasan.
"Kenapa tidak menjawab?" sentak William.
Sabrina terjingkat mundur dua langkah. Gadis itu mengurut pelan dadanya. Ini adalah kali kedua William emosi. Sabrina mulai takut jika ia ketahuan menyelinap dari kantor Rendy. Pasti William merasa dibohongi.
"Statusku, aku tidak mungkin lupa. Aku mengingatnya selalu, meski Uncle tak pernah mengakui status ini," tutur Sabrina.
__ADS_1
Mendengar hal itu, emosi William perlahan surut. Ia merasa tertohok. Benar apa yang dikatakan oleh Sabrina. Jika ia tak pernah mau mengakui status Sabrina sebagai istrinya. Pikiran William kembali rumit. Emosi masih saja menguasai hati. Akan tetapi, ia juga tak bisa menampik apa yang diungkapkan Sabrina adalah kebenaran.
"Ada banyak hadiah yang ditujukan atas namamu," ucap William pada akhirnya.
"Hadiah?" terlihat sekali dahi Sabrina mengerut.
"Kenapa dia mengerutkan dahi? Apa dia tidak tahu jika ia mendapatkan hadiah? Tidak! Aku yakin dia sedang mencoba berkilah. Aku ini suaminya bukan? Aku harus bisa mengingatkan status Sabrina sebagai istriku!" William membatin kesal.
"Jangan berpura-pura, Brina! Jangan berpura-pura bodoh di depanku, padahal kau sendiri sudah tahu jawabannya!" Intonasi William semakin meninggi.
"Ap …" Sabrina menggantungkan kata-katanya. Saat mendapati senyuman sinis dari Artur yang berdiri di belakang William.
"Kenapa diam saja? Cepat jawab, Brina! Kau itu istriku! Kau harus paham situasimu! Sekalipun kau seorang remaja dan masih mahasiswi, kau tetap tak bisa membantah statusmu sebagai istriku! Kenapa kau bertindak seperti bocah yang baru jatuh cinta? Kenapa kau dengan berani menyuruh pacarmu untuk mengirimkan semua hadiah-hadiah itu ke rumah ini?" William menumpahkan segalanya. Kedua mata pria itu bahkan memerah.
Kata-kata William yang aneh, serta tingkahnya yang akhir-akhir berbeda membuat Sabrina paham jika rumah tangganya sedang tak baik-baik saja. Kedua mata Sabrina mengembun. Tak lama kemudian, bulir bening berjatuhan di kedua pipinya.
"I-ni, secara tidak langsung Uncle menuduhku?" tanya Sabrina dengan suara yang parau.
"Aku tidak menuduhmu. Tapi aku mengatakan fakta! Mulai malam ini, kau harus tidur di kamarku. Aku akan mengawasimu! Jangan harap, kau bisa bertingkah seenakmu!" bentak William.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, William memutar tumit. Meninggalkan Sabrina dan Artur. Wajah Artur berubah. Rencananya bukan untuk berakhir seperti ini. Ini bahkan jauh dari rencananya. Rencana yang ia susun setelah melihat hadiah-hadiah untuk Sabrina tanpa sengaja. Artur mengepalkan kedua tangannya. Kemudian berjalan mendekati Sabrina.
"Dengar, Sabrina. Aku tidak akan memudahkanmu untuk hidup bahagia bersama ayah. Ingatlah selalu, jika aku adalah satu-satunya penghalang untuk cinta kalian," tandas Artur.
Pria itu berlalu dan menabrak Sabrina dengan kasar. Membuat Sabrina sedikit limbung dibuatnya. Perlahan, Sabrina berjalan menuju sofa. Menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di sana. Tubuh gadis itu menegang. Dituduh sedemikian rupa dan tak benar.
"Aku memang ingin satu kamar denganmu. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Bukankah ini sama saja dengan menuduhku berselingkuh?" tanya Sabrina dalam hati.
"Ya Tuhan." Sabrina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Nona Sabrina, saya sudah membereskan semua barang Nona dan menaruhnya di kamar tuan. Lalu kata tuan, Anda diharapkan segera mandi. Anda belum makan malam. Takutnya nanti Anda sakit," kata Bibi Rosi.
"Terima kasih, Bi," sahut Sabrina sekenanya.
Bibi Rosi berlalu. Kemudian Sabrina bangkit. Gadis itu berjalan menuju kamar utama. Di mana menjadi kamar William selama ini. Sabrina menghentikan langkah ketika ia telah sampai di depan kamar William. Gadis itu meragu. Setelah menghembuskan napas pelan-pelan, Sabrina memberanikan diri mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Terlihat William telah selesai mandi. Saat Sabrina mengangkat wajah, kedua mata birunya melebar. William memakai handuk yang hanya dililitkan di pinggangnya. Pria itu bertelanjang dada. Seketika Sabrina menundukkan kepala. Sedangkan William tersenyum tipis.
"Kenapa hanya berdiri di sana? Cepat masuklah. Segeralah mandi, dan kita akan makan malam bersama," tutur William.
__ADS_1
William memundurkan tubuhnya. Memberikan ruang untuk Sabrina masuk ke dalam kamarnya. Setelah gadis itu memasuki kamar, dengan cepat William menutup pintu kamarnya. Seketika membuat tubuh Sabrina menegang.