Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 65


__ADS_3

Hah? Mama? Hei yang benar saja!!!


"Kau benar-benar sudah tak perduli lagi denganku !! Jangan panggil aku mama!!"


"Ma sudahlah nanti para karyawanku mendengarnya. Monica pergilah. Anggap saja kau tak mendengar dan melihat apapun."


"Jangan pergi !!!" Menarik tangan Monica. "Aku ada urusan denganmu !! Dan kau anak durhaka kapan terakhir kali kau ingat untuk pulang?"


"Sudahlah ma.... Aku akan pulang jika mama tak lagi membahas perjodohan konyol itu. Tolong biarkan Monica pergi. Apa Mama gak malu marah-marah seperti ini?"


Bukannya menjawab wanita itu justru beralih berbicara dengan Monica.


"Namamu Monica?" Tanya wanita itu.


"Hah? Ah iya Tante." Monica gugup.


"Baiklah ayo kita makan aku akan mentraktirmu. Jangan makan dicafe ini. Pemiliknya saja tak ramah. Kita makan ditempat lain ya." Menarik tangan Monica reflek Monica hanya menurut saja. Setelah mereka Sampi dibibir pintu. Sisi tangan yang lainnya tertahan oleh Kevin.


"Ma dia karyawanku. Ini masih jam kerja. Mama gak bisa begitu dong." Teriak Kevin.


"Tenang saja aku bakalan ganti rugi !! Aku hanya ingin curhat saja dengannya. Kenapa ?! Jangan menghalangiku !!"


Apa ini? Ah sakit kenapa mereka seperti ini. Hei ini bukan drama !! Aku tak mau mati konyol disini !!


"Mama.... !!!


"Diammmmmm!!!!" Monica kehilangan batas kesabarannya. Nafasnya tersengal karna ditarik sana sini. Lengannya juga mulai terasa sedikit sakit.


"Hah.... Apa-apaan ini sebenarnya ?! Aku bahkan hanya orang luar. Tapi kalian malah membawaku ke drama konyol kalian!! Ini sakit lepaskan." Tangan Monica pun dilepaskan. Dikibas-kibaskan tangannya yang habis ditarik-tarik itu.


Seperti anak kecil saja menyusahkan.


"Maaf nak aku tak sengaja." Wajahnya berubah sendu. Monica tak enak hati berteriak.


"Maaf Monic."Kevin menundukkan kepalanya.


Hah.... Ini melelahkan...


Monica melirik wanita itu. Dilihatnya raut wajahnya suram. Sedangkan Kevin masih saja stay dengan coolnya. Ditatapnya kembali mata yang mulai berkaca-kaca milik wanita itu. Apa dia membutuhkan teman untuk diajak ngobrol? Sepertinya mas Kevin juga akan bungkam.

__ADS_1


"Hah... Baiklah Tante aku akan ikut dengan anda. Dan mas Kevin maaf ambil saja hari ini sebagai cutiku."


"Enggak !!! Kamu kan juga sudah bekerja tadi. Biarlah kevin Tak perlu kau ambil pusing. Iya kan Kevin?" Tanya wanita itu sambil melirik tajam kearah Kevin. "Jangan membuatku marah!!"


"Terserah mama. Hanya sekali ini mama mengganggu karyawanku !!" Kevin pun berjalan dengan cepat menuju meja kerjanya. Diraihnya kunci mobil miliknya dan kemudian dengan cepat berlalu dari ruang kerjanya yang menurutnya sesak itu.


"Sudah jangan pedulikan dia. Ayo kita makan." Wanita itu tersenyum hangat. Diraih kembali tangan Monica kemudian berjalan dengan santainya keluar ruangan. Mereka lalu menuju restorant terdekat.


Makanan yang dipesan sudah dihidangkan diatas meja. Namun tak segera disentuh oleh Monica.


"Maaf?"tanya Monica memberanikan diri.


Wanita itu tersenyum hangat.


"Namaku Sarah. Seperti yang kamu tahu. Aku mamanya Kevin. Hah.... Sudah dua minggu dia tak pulang kerumah untuk menjengukku walau hanya sekali." Ucap Sarah. Sontak saja membuat Monica kaget.


"Dua minggu?" Tanya Monica memastikan.


Lalu dimana dia tinggal kalau sudah seminggu dia tak pulang kerumah.


"Dia tinggal diapartementnya." Melihat sorot mata Monica yang bingung.


"Kalau aku cerita apa boleh?"


"Eh.... Tentu saja Tante silahkan. Monic akan mendengarkan." Kata Monica. Dia tak enak hati untuk menolak Sarah. Karna sedari tadi memasuki restorant sorot matanya sendu. Seakan menunjukkan bahwa banyak sekali hal yang membebaninya. Berbeda saat dihadapan Kevin.


"Saya seorang janda. Papa Kevin meninggal sudah lama. Sedangkan dia anak tunggalku."


"Ah ia kemarin mas Kevin pernah cerita kalau papanya sudah lama meninggal."


Sarah tersenyum mendengarnya. Itu berarti Monica memiliki tempat dihati putra semata wayangnya itu.


"Benar saat itu juga keluarga kami pun jatuh bangkrut. Perusahaan yang dirintis oleh suamiku dan aku dari nol pun sudah disita pihak bank karna hutang perusahaan yang besar. Dan itu pun sisanya juga untuk membayar gaji para karyawan kami. Setelahnya Kevin lah yang berjuang. Dia selalu bilang bahwa sudah menjadi tugasnya untuk mencari nafkah. Beruntung karena keluarga Wijaya mau membantu kami. Setelah kondisi keuangan kami membaik. Aku merasa kesepian karna memang Kevin sibuk dengan restorant dan bisnis lainnya. Mencoba peruntungan. Sekarang aku bertanya untuk aku yang seorang diri yang semakin hari semakin tua ini apa yang diinginkan?"


"Maaf.... Saya...." Monica tak bisa melanjutkan kata-katanya. Seakan tercekat. Karna memang dia belum menjadi yang namanya orangtua.


"Kebahagiaan anaknya."


Jedaaaarrr.... Kata-kata yang sederhana. Namun menohok hati Monica . Rasa-rasanya seperti dia yang menginginkan kebahagiaan orang tuanya.

__ADS_1


"Bukankah uang bisa dicari? Tapi nikmat hidup? Ingatlah hidup hanya sekali jangan menyia-nyiakannya. Aku ingin dia segera menikah. Tapi apa. Dia malah menolak perjodohan yang aku siapkan. Bahkan sampai sekarang." Sarah mengaduk pelan minumannya. Kemudian meminumnya.


Monica tertegun. Perjodohan? Sampai sekarang? Pikirnya.


Lalu apa tadi pagi yang dikatakan Jessica itu?


Flashback...


"Hei !!! Kita perlu bicara !!"


"Ada apa?" Tanya Monica kesal.


"Jangan pernah mengganggu tunanganku !!"


"Tunanganmu?" Tanya Monica penasaran.


"Kevin !!" Ucap Jessica."jadi loe jangan pernah keganjenan sama Kevin. Jangan jadi PHO !! Ini peringatan.


Flashback off...


"Ah... Bukankah mas Kevin sudah memiliki tunangannya?" Tanya Monica. Bukan Monica namanya jika dia tidak mengutarakan langsung apa yang ada dipikirannya.


"Tunangan?" Sarah menautkan kedua alisnya. Kemudian terdengar tawa."Hahahahahaaa mana mungkin !!! Kalau ada aku tak akan bingung-bingung lagi."


"Tapi dia kuliah dikampus yang sama dengan saya."


"Kampus mana?" Apa mungkin salah satu dari gadis yang pernah aku siapkan untuk perjodohan. Pikirnya dalam hati.


"Universitas XX."


Sarah pun mencoba mengobrak-abrik ingatannya.


"Jessica?"


"Iya benar Tante. Bukankah dia tunangannya mas Kevin? Anda kan tinggal menentukan tanggalnya saja." Monica merasakan nyeri di hatinya. Entah perasaan apa itu. Namun perasaan itu segera ia tepis. Meminum jus alpukat miliknya.


"Apa maksudmu?! Jessica sudah ditolak oleh Kevin bahkan sebelum mereka bertemu. Hanya saja aku pernah menunjukkan foto Kevin ke Jessica."


"Bruftttt .... Uhuk uhuk...."

__ADS_1


 


__ADS_2