Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 97


__ADS_3

**Bagi yang gak suka gak usah baca... Jangan bikin greget author ya 😢😢 Karena semua punya peran masing-masing. Nanti kalau udah waktunya. Sekarang masih panjang ceritanya dan ini baru mulai memasuki tengah cerita😁😁 Nanti ada peran penting dari Monica dan Agnes. Ikuti aja alurnya yah.


Selamat membaca....


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž**


Ani POV


Entah kenapa perasaanku hari ini sedikit tidak enak. Namun aku tetap menepis semua perasaan serta fikiran negatif yang memasuki otak dan hatiku.


"Mas aku pamit dulu ya." Pamitku pada suamiku.


"Iya sayang. Diantar pak Surya kan? Agnes hari ini ngampus juga kan?"


"Iya mas. Assalamualaikum." Aku mencium punggung tangan mas Ardan.


"Waalaikum salam. Hati-hati ya."


"Iya mas." Kuulas sebuah senyum manis untuknya.


Begitu aku keluar rumah, kulihat Agnes sudah berdiri disamping pak Surya dengan tenang. Wajahnya begitu dingin tanpa keramahan disana. Gadis tangguh, pikirku.


"Selamat pagi nona." Ucap pak Surya dan Agnes bersamaan.


"Selamat pagi juga. Ayo berangkat."


Kini pak Surya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kami yang berada didalam mobilpun hening tanpa sepatah katapun. Kulihat pemandangan melalui kaca mobil yang kubuka setengah. Agar aku bisa merasakan angin yang berhembus dengan pelan. Cuaca dipagi hari memang menyejukkan, apalagi didesaku dulu. Saat aku mengedarkan pandangan, mataku menangkap kaca mobil depan. Lirikan mata dari Agnes yang sedari tadi menatap spion dengan sedikit resah. Aku mengikutinya, melihat kaca spion..... Dan kulihat ada mobil hitam yang sepertinya mengikuti kami. Mata Agnes bahkan memperhatikan mobil dibelakangnya dengan seksama. Sudah seperti detektif yang tak melewatkan setiap pergerakan apapun.


"Agnes.... Sepertinya ada mobil yang mengikuti kita ya?" Ucapku memecah keheningan diantara kami.


"Benar nona. Semenjak kita meninggalkan rumah." Ujarnya, kemudian dia menyambar ponselnya mengetikkan beberapa kata di sana. Aku hanya mengamati ketenangannya, sepertinya sudah mengambil langkah selanjutnya.


"Tapi, kenapa mereka mengikuti kita? Apa mereka berniat mencelakai kita?" Tanyaku berusaha untuk tidak panik terlebih dahulu. Tapi yakinlah aku mulai ketakutan.


"Entahlah nona, tapi biarpun begitu belum ada pergerakan apapun."


"Apa kita perlu menambah kecepatan?" tanya pak Surya mulai waspada.

__ADS_1


"Tidak, jangan gegabah dulu. Jangan sampai mereka berpikir kita sudah menyadari bahwa mobil mereka mengikuti kita. Tetap dengan kecepatan sedang saja pak. Biar mereka berfikir kalau kita belum menyadari bahwa mereka mengikuti kita. Kita lihat selanjutnya. "


Bagaimana bisa gadis seperti dia berbicara setenang itu? Aku memandangnya lekat-lekat dari kaca depan. Mencoba mengartikan mimik wajah gadis yang duduk dikursi depan disamping pak Surya.


"Tapi...."


"Aku sudah memberi sinyal pak Surya anda jangan khawatir." Ucap Agnes, kembali matanya terfokus pada mobil dibelakang kami yang mengikuti semenjak kami meninggalkan rumah.


Memberi sinyal? Apa maksudnya? Pak Surya sekarangpun tenang kembali. Sepertinya "Sinyal" yang dimaksud memiliki arti yang penting. Aku kembali melirik spion mobil. Saat mobil kami memasuki pintu gerbang kampusku, kulihat mobil dibelakang kami dihadang oleh sebuah mobil Jeep. Kemudian beberapa orang laki-laki bertubuh atletis serta berpakaian serba hitam pun keluar dari dalam mobil Jeep. Aku kemudian menengok kan kepalaku kebelakang melalui kaca mobilku yang kubuka setengah.


"Nona, bersikaplah biasa. Kepala anda." Agnes menarik tanganku dari kursinya.


"Ah... Maaf Agnes." Kembali ketempat duduk semula, begitu juga Agnes yang tadinya sudah mencondongkan tubuhnya untuk menarik tanganku. "Aku hanya penasaran. Orang-orang yang berpakaian serba hitam tadi."


"Lebih baik nona segera masuk kelas. Rasanya nanti nona Monica sudah disana."


"Ah benar, Monica. tadi aku sudah masak menu kesukaannya. Dia pasti senang." Aku bahagia Monica bisa ada di sampingku. Dia tipe heboh dan menyenangkan berbanding terbalik denganku.


"Terima kasih pak Surya." Kata Agnes begitu kami berdua turun dari mobil.


"Ya itu tugasku." Agnes menganggukkan kepalanya. Kemudian pak Surya melajukan mobilnya, berlalu meninggalkan parkiran kampusku.


"Tugas?" Tanyaku penasaran.


"Mari nona." Dia kemudian menggiringku untuk segera bergegas meninggalkan parkiran tanpa ingin menjawabku.


"Agnes !! Kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku. Tugas apa?"


"Tugas saya untuk mendesain taman dirumah nona. Lebih baik kita segera kekelas. Mari saya akan mengantar anda sampai kekelas anda."


Aku mengikutinya dengan tenang, tanpa penolakan lagi. Jawabannya terkesan dalih agar aku percaya saja. Sepertinya dia tak memiliki niat untuk menjelaskannya kepadaku. Begitu kami berada didepan kelas kulihat Monica terbengong disana, sepertinya gadis itu ada masalah. Namun sebelum aku bersuara dan menyapanya Agnes terlebih dahulu menarik Monica sedikit menjauh dariku. Dan.... Sepertinya mereka memiliki pembicaraan yang serius. Aku hanya memandang mereka dari kejauhan. Aku menangkap bahwa Agnes tengah menjelaskan sesuatu, dan sepertinya Monica mengerti karena dia menganggukan kepalanya.


"Nona saya masuk kekelas dulu. Permisi."


Aku mengangguk.


"Monic ayo. Sepertinya kamu lelah. Ada apa? Kamu ada masalah?"

__ADS_1


"Enggak beb."


"Terus kenapa tadi Agnes? Dia bicara apa?"


"Bukan apa-apa kok beb."


"Monica !!! Katakan ada apa?!" Aku bersungut-sungut kesal. Bagaimana mungkin tidak apa-apa? Bahkan baru lihat saja mukanya jelas lecek begitu. Dia menatapku lekat. Aku semakin dibuat penasaran.


"Mas Kevin melamarku tadi pagi." Lirihnya namun aku masih bisa mendengarnya.


"Hah?!" Teriakku kaget. Membuat semua yang ada dikelas menatapku.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Author POV


"Sepertinya dia sudah bergerak tuan muda."


"Hem."


"Sinyal dari nona Agnes. Tepat waktu sebelum mereka bertindak lebih jauh."


"Hem. Agnes memang memiliki karakter unik. Setidaknya aku tenang dia memang bisa diandalkan. Tambah pengawalan pada istriku. Perketat penjagaan dirumah. Pasang cctv ditempat sudut manapun dirumah. Bahkan dimobil sekalipun pasang cctv dan gps. Aku tak mau mengambil resiko sedikitpun."


"Siap tuan muda. Tapi apa kita perlu memberikan bodyguart untuk nona muda sewaktu dikampus?"


"Aku yakin dia akan menolaknya. Untuk sementara dikelas ada Monica. Dan selanjutnya ada Agnes. Sedangkan Agnes aku yakin dari kecil sudah dididik sedemikian, mengingat latar belakangnya."


"Baik tuan muda."


"Smith..... Sepertinya kau sudah sangat penasaran siapa istriku. Kita lihat siapa yang akan bertahan sebagai seorang Wijaya !! Dasar paman brengsek !!"


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


**Jangan lupa mampir di novel author satunya ya..... Belenggu cinta.


See you....😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2