Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 161


__ADS_3

"Kenapa jadi begini?" Smith memandangi tubuh lemah Rianna. Gadis itu telah diberikan obat penenang. Dia terlihat sangat histeris begitu melihat Smith.


"Smith… apa tidak seharusnya kamu pergi dulu, dari pada kamu ada di sini?"


"Kakak ipar mengusirku?" Smith menoleh matanya terlihat basah. Sepertinya dia menangis tertahan.


"Dia histeris juga karena siapa? Mengertilah! Seharusnya kau paham tentang hal ini," Nico semakin menaikkan volume bicaranya.


"Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini. Belasan tahun aku tidak bertemu dengannya. Apa salah jika aku ingin menungguinya disini?"


"Kau salah! Kau sangat salah Smith! Kau hampir membunuh anak kandungmu sendiri! Kalaupun dia bukan anak kandungmu kau juga tidak seharusnya berniat untuk membunuhnya!"


"Aku sudah bilang, aku tidak akan pergi dari sini!"


Smith dan Nico bersitegang. Gretha tak perduli lagi dengan keduanya, matanya yang sayu menatap tubuh lemah Rianna. Tangannya bergerak menyentuh tangan Rianna. Air mata terus menggenangi pelupuk matanya.


"Bangunlah sayang. Mami rindu kamu,"

__ADS_1


"Smith pergilah!"


"Tidak, kakak ipar tidak bisa mengusirku. Aku akan tetap disini," Smith tetap pada pendiriannya. Laki-laki itu tetap diam di tempat. Tak mengindahkan perkataan Nico.


"Smith, pergilah ke kantor polisi. Disanalah tempatmu berada," ujar Gretha tanpa menoleh ke arah adiknya.


"Kau dengar itu, Smith? Kakakmu sendiri yang mengatakan itu. Pergilah atau aku yang akan mengambil tindakan!" Nico memberikan penekanan. Agar Smith mau mengerti. Keadaan Rianna bisa saja jauh lebih buruk dari ini.


"Tapi aku ayah kandungnya," kini wajahnya tertunduk. Sangat sakit hatinya jika dia harus pergi dari sini.


"Tenang saja kami akan memberitahunya cepat atau lambat bahwa kamu adalah ayah kandungnya. Tapi itu semua juga butuh waktu,"


"Pergilah," Gretha kini menoleh kearah adik kandungnya. "Semoga kau selalu mengingatnya. Bahwa ini semua terjadi juga karena keserakahanmu sendiri, Smith. Mungkin saja jika kau tidak berbuat diluar nalar, kau bisa bertemu dengan Rianna dengan cara terbaik. Dengan keadaan yang lebih baik. Bukan dengan cara seperti ini! Kau harusnya lebih paham akan hal ini. Jadi pergilah,"


"Kalau begitu aku akan mengurus keluarga Hutomo,"


Nico dan Gretha segera menoleh kearah Smith. Smith adalah laki-laki yang bertindak di luar nalar. Jangan sampai karena perbuatannya mereka kembali menanggung akibat dari perbuatan Smith.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Nico.


"Aku akan memberikan pelajaran untuk keluarga Hutomo secara langsung. Beberapa waktu lalu mereka ingin mengajak perusahaanku untuk bekerja sama. Ini saatnya aku membalas dendam untuk anakku dan Rosita," Smith bangkit dari duduknya. Melenggang pergi meninggalkan Gretha dan Nico. Kedua pasangan senja itu hanya mampu menghela nafas panjangnya. Mau seperti apapun Smith termasuk bagian dari keluarganya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


"Kenapa kita harus kemari?" tanya Agnes begitu menginjakkan kakinya di apartemen Dion.


"Bukankah sudah jelas? Kau sekarang adalah istriku!" Dion membuka kunci apartemen miliknya. Kemudian melenggang masuk diikuti Agnes berjalan dengan kaki pincangnya.


"Rianna belum bangun, apa tidak apa-apa kita disini?" Agnes mengamati sekelilingnya. Matanya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut apartemen milik Dion.


"Tentu saja tidak apa-apa," Dion menjatuhkan tubuhnya disofa. Sedangkan Agnes masih berdiri di tempatnya.


"Hei! Kenapa kamarnya hanya satu?"


"Tentu saja! Memangnya kau pikir ada berapa?"

__ADS_1


"Lalu gue tidur dimana?" pertanyaan dari Agnes membuat Dion mau tak mau menoleh kearah gadis itu.


"Ya tidur di sanalah! Memangnya mau tidur dimana lagi? Apa kau lupa ini malam pertama kita?" seringai tipis muncul diwajah Dion.


__ADS_2