
"Jadi, mereka termasuk pembunuh bayaran?" William terkejut ketika ada nama lain yang menjadi terduga pembunuh bayaran itu.
"Benar. Untuk itu, bolehkan aku ke sana? Aku akan waspada. Mungkin saja, dua orang teman Lexi itu juga ada di sana." Sabrina memainkan jemarinya di dada bidang William.
"Aku tidak masalah. Tapi, keselamatanmu bagaimana?" tanya William.
"Tenang saja. Aku ada Artur yang menjagaku selama pesta itu berlangsung. Lalu ada Darren yang juga bisa mengawasiku dari kejauhan. Julia juga akan aku tempatkan sebagai snipper. Siapa tahu, ada yang berusaha untuk membunuhku dari kejauhan," tutur Sabrina.
Mendengar penuturan dari Sabrina, William menghela napas. "Baiklah. Sepertinya tekadmu sudah bulat ya. Aku juga sepertinya tidak lagi kau butuhkan, Honey."
"Ayolah, Honey. Bukan maksudku seperti itu. Aku ingin teka-teki pembunuh bayaran ini segera usai. Aku sudah lelah mencurigai orang-orang yang baru saja bergabung dengan kita. Ngomong-ngomong setelah masalah pembunuh bayaran itu selesai, kau tidak ingin mengajakku untuk pergi berbulan madu, Honey?" Sabrina mulai mengalihkan topik pembicaraan.
"Berbulan madu?" Kedua mata William mendadak berbinar bahagia.
Sebenarnya ia juga menginginkan pergi berbulan madu. Seperti para pengantin baru yang lainnya. Tapi mengingat hubungannya dengan Sabrina akhir-akhir terusik pembunuh bayaran. Maka William berniat mengurungkan keinginannya itu. Tentu saja memberikan ruang dan waktu kepada Sabrina untuk menyelesaikan hal yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Tentu saja, Honey. Setelah kau membereskan masalah ini. Aku setuju tentang pendapatmu. Sekarang, lebih baik kita segera menyelesikan masalah pembunuh bayaran ini," kata William mengambil keputusan.
"Baiklah, Honey. Ayo kita tidur. Besok kita akan ke acara reuni akbar itu kan?" Sabrina mulai menarik selimut dan menyembunyikan di bawah selimut.
Tanpa menjawab, William memeluk tubuh Sabrina dari belakang. "Selamat tidur, Honey. Selamat malam."
Di sisi lain, seorang gadis masih saja menatap layar monitor komputer. Di tangannya terdapat cemilan yang ia makan. Ia tampak fokus pada layar monitor yang menampilkan data-data rahasia. Baru saja ia berhasil mencuri data yang seharusnya menjadi rahasia besar.
Tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka. Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan yang memiliki banyak komputer tersebut. Wanita itu menaruh nampan yang ia bawa ke atas nakas. Lalu menjatuhkan bokongnya di kursi yang terletak di belakang gadis yang asyik menatap layar monitor.
"Sudah, Ma. Tinggal Sabrina mengerahkan pasukannya untuk membekuk dua orang itu. Sisanya, suaminya yang akan membekuk wanita itu," jawab Amelia dengan santai.
"Kapan rencana penyerangan?" Elena merasa tidak sabar. Ia cukup kesal dengan pembunuh bayaran yang berani mengusik kehidupan putrinya.
Amelia mengendikkan bahu. "Aku tidak tahu. Aku masih mengamatinya. Aku tidak ingin asal bertindak. Mengingat ada teman Sabrina yang masih disembunyikan. Aku masih belum bisa melacaknya. Beruntung saja, aku sudah bisa melacak identitas keduanya."
__ADS_1
Elena menghembuskan napas panjang. "Padahal, ini masih belum lama Sabrina menikah. Mengapa harus ada dua teror di dekatnya dalam waktu yang bersamaan? Kasihan, Sabrina. Seharusnya ini menjadi masa-masa yang indah sebagai pengantin baru."
Mendengar penuturan Elena, Amelia memutar kursinya. Ia menghadap Elena dan menatap lekat sang mama. Hal itu, membuat dahi Elena berkerut.
"Ada apa?" tanya Elena bingung.
"Mama senang, Sabrina menikah?" tukas Amelia.
Elena mengusap pipi Amelia. Wanita paruh baya itu tersenyum. "Senang, dong. Sebagai seorang ibu, mama senang dan bahagia. Terlebih, Sabrina juga yang menginginkan pernikahan ini. Hanya saja, mama sedih karena kakak laki-lakimu belum memikirkan pernikahan. Dia sangat keras kepala sekali."
"Aku sebenarnya khawatir. Jika suami Sabrina menikah dengan Sabrina hanya untuk harta. Takutnya, pria itu akan memanfaatkan Sabrina yang polos," ucap Amelia.
"Hei, Nak. Jangan bicara begitu. Kau belum saja merasakan jatuh cinta. Yang namanya jatuh cinta itu, duniamu hanya dia. Begitu indah." Elena tersenyum.
"Awas saja, jika pria itu benar-benar memanfaatkan Sabrina!" batin Amelia.
__ADS_1
Padahal, ia belum tahu. Jika Sabrina sendiri yang terlalu bucin.