
Di saat semua orang terlelap, sepasang suami istri yang berpakaian serba hitam berdiri angkuh di sebuah lapangan yang luas. Menunggu para bawahannya yang masih bersiap. Seorang pria berusia paruh baya melingkarkan tangannya mesra ke pinggang sang istri.
"Kita seperti bernostalgia, Sayang," bisik Rendy di telinga Elena.
Wanita itu tersenyum. "Iya. Perbedaannya, kita saat ini berada di satu kubu. Julia sedang mengawasi rumah Sabrina. Dia akan mengabarkan sesuatu yang mencurigakan. Sedikit melegakan hatiku."
"Jangan khawatir. Tugas kita, mendeteksi dari mana racun itu. Lebih tepatnya, musuh yang sedang membalas dendam kepada Sabrina. Aku tidak mungkin mengatakan kepada William, jika asal mula dari ini semua karena ulah Sabrina yang mengalahkan sekutu musuh, yaitu geng mafia." Rendy menghela napas. Perlahan memejamkan mata, merasai angin malam yang kian menusuk tulang.
"Selamat malam, Nyonya. Selamat malam, Tuan. Pesawat jet pribadi telah siap mengudara." Seorang pria muda membungkuk hormat.
"Baik, Mu. Kami berdua akan kesana. Ayo, Sayang. Sebelum pagi menyingsing, kita setidaknya telah sampai di separuh perjalanan." Rendy menggiring Elena untuk memasuki pesawat jet pribadi.
Keduanya bergerak cepat. Jika telah mengetahui tepat di mana racun itu berasal, setidaknya Rendy dan Elena bisa menghancurkannya sebelum mereka menyentuh Sabrina.
Keesokan harinya, Sabrina dan Artur telah bersiap. Begitu pula dengan William yang juga telah mendudukkan bokongnya di kursi. Hingga Bibi Rosi tergopoh-gopoh dari arah depan.
__ADS_1
"Nona Sabrina." Bibi Rosi menyodorkan sebuket bunga mawar.
Hal itu membuat Sabrina mendapatkan sorotan tajam dari William dan Artur. Seketika nyali Sabrina menciut. Belum sempat Sabrina mengambil bunga mawar merah itu, William terlebih dahulu menyambarnya dengan kasar.
"Apa ini?" William mencari kartu nama yang tersemat di sana. Lalu mengejanya dengan keras. "Lexi Permana Dirgantara?" William kembali menoleh ke arah Sabrina. "Siapa?" Pertanyaan penuh penekanan.
Sabrina dan Artur saling berpandangan. Segera Artur mengambil bunga tersebut dan mengulang membaca nama si pengirim surat. "Lexi Permana Dirgantara? Untuk apa dia mengirimimu surat?" Artur bertanya tak kalah herannya.
"Hei! Kau tahu apa yang terjadi antara aku dan Lexi." Sabrina mengambil dengan kasar bunga tersebut. Kembali membaca si penerima dan menatap Artur dengan tatapan bingung. "Kenapa dia lancang memberiku bunga?"
Sabrina bergidik ngeri. Menyodorkan kembali bunga mawar tersebut kepada Bibi Rosi. "Bibi, buang saja bunga ini."
"Kenapa dibuang?" Nada suara William terdengar mengejek. "Sayang lo. Bunganya cantik."
Sabrina kembali bergidik. "Hua. Berhentilah berkata begitu! Itu menjijikkan!"
__ADS_1
"Kalau begitu, bunganya dibuang ya, Nona Sabrina?" tanya Bibi Rosi.
"Buang! Siapa yang tahu, itu sudah diberi pelet. Bisa-bisa aku menjadi gila, hanya karena menghirupnya. Sudah, Bi. Buang saja. Takut membawa sial!" Sabrina kembali bergidik ngeri. Bibi Rosi yang mengerti, segera beranjak untuk membuang bunga tersebut.
"Lexi Permana Dirgantara. Sepertinya dari Dirgantara Grup ya? Pria dari keluarga kaya, pasti tampan bukan?" sindir William.
"Hua! Jika pria itu bernama Lexi, itu menjijikkan!" Kembali, Sabrina bergidik ngeri. Rasnya menjijikkan sekali menerima bunga dari pria itu.
"Menjijikkan? Dia saja, bahkan mengirimimu bunga. Bukankah itu artinya, dia menyukaimu?" William mengintimidasi.
Mendengarnya Sabrina berpura-pura seolah mau muntah. "Uncle tanya saja pada Artur! Hubungan kami tak sedekat itu!"
"Benar, Ayah. Sabrina dan Lexi bermusuhan. Tidak mungkin jika Lexi menyukai Sabrina," kilah Artur.
"Artur, kau membelanya? Baiklah. Mulai hari ini, kalian akan ayah antar! Tidak boleh keluar seenaknya dari rumah ini. Lalu, jangan membawa teman manapun masuk seenaknya ke rumah ini. Habiskan sarapan kalian, dan bersiaplah! Ayah mulai hari ini akan mengantar!" William sarapan dengan kasar.
__ADS_1
Sedangkan Sabrina dan Artur tak lagi bersuara. Sekalipun pikirannya rumit, keduanya memilih bungkam. Aura William saat ini buruk! Padahal itu hanya bunga. Sabrina membatin kesal.