Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 334. William Kacau


__ADS_3

William mematung di ambang pintu. Pria itu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 14:07 WIB. Menandakan Sabrina dan Artur belum pulang ke rumah. Keduanya hari ini ada acara kelas. Keakraban namanya. Tapi lihatlah, siapa yang berani-beraninya mengirimkan satu buket bunga mawar merah dengan nama penerima Sabrina?


William menyambar kasar buket bunga mawar tersebut. "Apa-apaan ini? Aish, ada lagi? Coklat? Sabrina?"


Entah mengapa William segera membuangnya ke tempat sampah. Bunga yang indah beserta coklat tersebut kini telah berpindah bercampur dengan banyaknya sampah di tong sampah. William tersenyum sinis.


"Hebat. Baru dua minggu berada di kampus baru, sekarang ada yang berani mengirimkan coklat dan bunga? Sepertinya istriku begitu populer!" William menendang tong sampah tersebut hingga berserak. Lalu berjalan memasuki rumah dengan perasaan yang gelisah.


"Tuan, Anda sudah pulang?" tanya Bibi Rosi yang kaget melihat William pulang lebih awal.


"Iya, Bik. Aku merasa tidak enak badan. Bisa buatkan aku bubur?" pinta William.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Bibi Rosi berlalu.


William segera berjalan menuju kamarnya. Pria itu menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang king size miliknya. Kedua matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Pikirannya tak tenang. Akhir-akhir ini pekerjaannya menjadi semakin banyak. Mengingat ia memenangkan bisnis senilai milyaran. Tubuh yang sebelumnya digempur, nyatanya tak lagi mampu bertahan.


"Hanya demi terlepas dari bayang-bayang keluarga Wijaya, aku sampai bekerja tak mengenal waktu. Aku harus istirahat. Semoga besok bisa kembali bekerja. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan." William memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pening. 


Pria itu segera melepas pakaiannya dan menggantinya dengan piyama tidur yang nyaman. William terlihat kepayahan. Kini pikirannya kembali pada sebungkus coklat dan sebuket bunga mawar merah.


Seseorang mengetuk pintu kamarnya. William meyakini jika itu adalah Bibi Rosi. Pria itu perlahan bangkit. Menepiskan rasa pening yang sangat terasa di kepalanya.


"Sebentar." William berhasil mencapai pintu. Lalu ia membuka pintu kamarnya. Benar saja, Bibi Rosi datang dengan nampan dan semangkuk bubur. "Terima kasih, Bi." William membuka pintu kamarnya sedikit lebih lebar. Membiarkan Bibi Rosi berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menaruh nampan di atas nakas.

__ADS_1


"Segera dimakan, Tuan. Nanti keburu dingin," ucap Bibi Rosi dan dijawab dengan satu anggukan kepala William.


Dengan perlahan, William segera menikmati semangkuk bubur panas buatan Bibi Rosi. Tentu saja dengan pikiran tentang pekerjaan yang seabrek. Ditambah dengan Sabrina yang seperti tengah menjadi incaran banyak pria. Siapa yang bisa menolak pesona Sabrina? Selain ia menjelma menjadi gadis dengan penampilan yang sempurna, Sabrina juga berasal dari keluarga konglomerat. Siapa yang tidak ingin menjadikannya kekasih hati?


Tap.


William meletakkan sendok. Kemudian mengambil segelas air putih, dan meneguknya sedikit. Pria itu sesekali menggelengkan kepala. Entah mengapa pikirannya hanya tertuju dengan satu orang.


"Ya Tuhan. Kenapa semenjak Sabrina kembali, aku terus saja memikirkannya? Apa ada satu kesalahan? Si*l! Aku tidak mengerti sama sekali."


William mengusap wajahnya kasar. Terlihat sekali wajahnya kacau. Pria itu seperti kelelahan dalam waktu yang lama. Ditambah hatinya gusar. Terdengar beberapa kali helaan napas berat.

__ADS_1


"Aku butuh liburan sepertinya. Sangat kacau sekali, si*l! Atau aku harus menjauhi Sabrina? Tapi, kenapa aku harus menjauhinya? Bukankah dia yang seharusnya menjauh? Oke, William! Kau hanya stress saja!" kilah William.


__ADS_2