
Sebenarnya aku cukup penasaran apa yang sedang terjadi. Kenapa Monica menyembunyikannya dengan rapi bersama Agnes. Agnes bahkan sangat tenang. Ya ampun apa aku sedang berada di tengah-tengah konflik? Tapi kenapa mereka menginginkanku? Aku punya apa? Tidak .... Apa mungkin karena aku istri dari mas Ardan? Sepertinya aku perlu membicarakan ini dengannya.
Ani bertarung dengan pikirannya. Firasatnya tadi pagi membenarkan. Rasanya seperti sebuah teka-teki yang sulit untuk dijelaskan. Hari ini dia memutuskan untuk tak pergi kerumah Gretha jika saja dia masih diikuti. Maka Rendy suatu saat akan menjadi target selanjutnya. Begitulah kata-kata yang diucapkan Agnes, dan memang ada benarnya juga.
"Agnes....."
"Ya nona muda."
"Apa menurutmu suamiku punya konflik dengan seseorang?"
"Saya tidak tau pasti nona, lebih baik anda tanyakan langsung pada tuan muda. Saya hanya menjalankan tugas nona."
"Tugas tugas tugas !! Dari tadi pagi kenapa kau bilang tugasmu sih!! Ini kan gak ada hubungannya denganmu."
Sudah pasti ada hubungannya, kenapa anda tak mau membantu saya nona. Dengan anda bersikap menurut saya akan terhindar dari masalah. Agnes.
"Hah.... Sudahlah kupikir hanya suamiku yang punya aura dingin. Tapi lihatlah ini, kau bahkan memiliki aura yang begitu dingin melebihi aura suamiku." Ani bersungut-sungut kesal. Dan Agnes masih dengan santainya mengutak-atik ponselnya.
"Loh bukannya itu mobil mas Ardan ya?" Tanya Ani begitu melihat mobil suaminya terparkir rapi dihalaman depan rumahnya.
Membuka pintu mobil dengan cepat, setelahnya berlalu menuju suaminya berada. Tak lupa tentunya menghentak-hentakkan kakinya karena kesal Agnes bahkan menutup dirinya atas semua pertanyaan yang dia lontarkan. Sepanjang perjalan dari kampus hingga kerumah gadis itu tetap kekeh dengan diam membisu tanpa memberikan jawaban tugas apa yang dia dapat. Benar-benar sulit ditebak.
"Mas Ardan." Teriak Ani. Dia sangat penasaran.
Setelah berkeliling beberapa waktu. Kini terlihat batang hidung suaminya di ruang keluarga. Bersama Dion. Entah apa yang mereka bahas namun dari raut muka keduanya sepertinya terlibat pembicaraan serius.
Ada apa ini? Batin Ani semakin penasaran. Tidak mungkin ada api jika tak disulut terlebih dahulu. Maka, tidak ada masalah jika tak ada hal yang memicunya.
"Sayang,..." Ardan mendekati istrinya yang masih berdiri di ambang pintu. Kemudian mengecup secara perlahan kening istrinya dengan lembut. "Pergilah mandi dan beristirahat. Nanti aku akan menyusulmu ya sayang. Oh ya apa Agnes ada?"
"Kenapa menanyakan Agnes? Mas Ardan gak lagi ada masalah kan?"
__ADS_1
"Sayang!! Apa maksudmu? Aku gak lagi dalam masalah. Nanti aku akan mencerikannya padamu ya. Sekarang bisakah panggilkan Agnes?"
"Iya..." Ani berlalu. Sudahlah. Mungkin saja memang ada hal yang penting. Nanti pasti mas Ardan bakalan kasih aku penjelasan. Aku benar-benar takut jika dia sedang menyinggung seseorang. Dan orang itu bakalan nyakiti aku. Begitu pikirnya.
💞💞💞
Diruang kerja Ardan.
Kenapa Ardan manggil nih cewek aneh ya? Pikir Dion begitu mendapati Ardan memanggil Agnes sosok gadis yang akhir-akhir ini menguji kesabarannya.
"Agnes.... Kamu tahu sekarang posisiku?" Tanya Ardan tanpa basa-basi.
"Saya mengerti tuan muda."
"Lalu... Bersediakah kamu tetap setia mengikutiku? Mulai sekarang aku akan menggajimu lebih dari kemarin."
Hei bro memangnya kau selama ini gak gaji diakah? Memang apa sih posisinya. Hah kau pasti akan menyesal Ardan.
"Hahaha baguslah. Sekarang aku berada di situasi yang sulit. Istriku pasti menolak jika aku memberikan seorang bodyguart untuknya. Bisakah kau menjaganya? Menggantikan bodyguard itu?"
"Eh bro kayaknya lu perlu minum obat deh. Dia mah cewek kagak bisa apa-apa." Sahut Dion.
"Tentu tuan. Hanya saja saya butuh pegangan."
"Katakan !!" Titah Ardan.
"Hei sialan loe pada, dia cewek bro !! Inget jaga diri sendiri aja pasti susah !!" Dion mendengus kesal sembari mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana mungkin Ardan sampai harus melibatkan gadis muda untuk sesuatu yang berbahaya. Baiklah gadis itu memang sulit ditebak. Ekspresi wajahnya sulit diartikan kita tidak tau apa dia sedang bahagia atau sedih. Karena wajahnya datar tanpa ekspresi apapun.
"Berikan aku revolver berkaliber 22."
Ardan ternganga. Ardan tau betul apa itu. Itu adalah benda yang sangat mengerikan. Hei dia gadis bukan?
__ADS_1
"Hahahaha Agnes... Tak kusangka kau berani meminta hal mengerikan itu?"
"Tapi bukankah Anda bilang tugas saya adalah untuk melindungi nona muda?"
"Hei ayolah apa itu? Kalian benar-benar mengabaikanku?" Teriak Dion.
"Hem.... Sepertinya benar, aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Tapi apakah kau yakin bisa memakainya? Aku punya yang lainnya jika kau mau." Ucap Ardan.
"Saya hanya ingin yang pasti saja tuan muda. Tenang saja saya sudah pernah memainkannya." Kata Agnes dengan tenang. Aura tatapan tajam terlihat dimata Dion. Dia sudah tak berisik lagi.
"Kupikir kau akan meminta pisau atau belati. Atau paling tidak knuckle?" Ujar Ardan.
Hei bisakah kalian menjelaskan kepadaku? Kenapa dengan pisau? Belati? Aku tahu kalau knuckle. Dion melongo. Tetap tak bisa mengerti arah mana pembicaraan itu.
"Tidak. Itu tidak akan bisa cepat melesat dan mematikan tuan muda. Ah knuckle juga boleh. Buat berjaga-jaga saja siapa tau mereka menyerang jarak dekat." Kata Agnes masih dengan tenang.
Baiklah gadis ini benar-benar sejalur denganku. Ardan menyeringai. Dion memang sedikit sejalur denganku tapi dia masih bisa goyah kapan saja. Karna dia tak pernah turun tangan langsung menghabisi musuh. Tapi gadis ini?
"Akan kusiapkan untukmu semua yang kau ucapkan tadi. Pergilah." Ardan mengisyaratkan tangannya agar Agnes segera menyingkir dari tempat itu. Meninggalkan Ardan yang kagum dengannya dan Dion yang kesal.
"Bisakah kau menjelaskannya padaku?" Tanya Dion.
" Apa yang ingin kau tahu?"
"Apa itu revolver? Kaliber? Apa tadi? Benarkan kaliber? Ahhh ber-ber itulah pokoknya!!"
"Cari saja digoogle. Pasti nemu tuh jawaban." Meneguk kopi dan menyesapnya.
"Hei !!"
"Aahahaha revolver berkaliber 22 adalah sejenis pistol. Jika tidak salah bisa berisi peluru 8-10."
__ADS_1
deg .... Pistol? Dia siapa? Kenapa bisa mengerti salah satu senjata yang mengerikan seperti itu? Dion menelan salivanya. Tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat.