
Dimalam yang sama dengan Ardan yang tengah bertempur.
Di sebuah kamar hotel itu terdapat dua orang pengantin baru yang kikuk. Duduk ditepi ranjang saling memunggungi. Monica duduk disebelah tepi kanan ranjang. Sedangkan Kevin duduk ditepi ranjang sebelah kiri.
"Apa malam pertama kita dilewati begitu saja?" tanya Kevin tanpa menoleh ataupun beringsut dari tempatnya. Monica membuang nafas berat.
"Aku ... aku bener-bener malu Mas."
"Kenapa malu? Kau istriku sekarang. Lalu baju apa yang kau pakai sehingga aku tak boleh melihatnya?"
"Diamlah Mas Kevin! Apa kau tak tau betapa malunya aku saat ini? Ini bahkan tak layak disebut baju." Menarik-narik ujung lengirie keluaran terbaru dari Victoria Secret. Berdecak kesal karena kado pernikahan dari Agnes benar-benar menjebakknya disituasi yang canggung.
"Monica, aku mencintaimu apa kau tau itu?"
"Aku tahu. Aku tahu Mas Kevin. Perjuanganmu pun sudah cukup membuktikan semuanya." Menganggukkan kepalanya perlahan. "Tapi aku takut mengecewakanmu Mas."
"Mengecewakan apa? Ehm, apa kau maaf. Sudah tidak perawan? Aku akan menerimamu apa adanya."
__ADS_1
Monica langsung berdiri mendengar penuturan dari Kevin. Matanya berkilat penuh amarah. Tuduhan yang tidak benar. Bagaimana mungkin dirinya tidak perawan? Bahkan dia tak pernah bergandengan tangan bersama laki-laki lain selain Kevin. Diraihnya sebuah bantal kemudian di merangkak naik keatas tempat tidur dan memukulkannya dengan sekuat tenaganya ditubuh Kevin. Membuat Kevin harus terjungkal kelantai karena tak ada persiapan untuk bertahan.
"Ayang beb! Apa yang kau lakukan?" teriak Kevin. Monica hanya diam saja tanpa mau menjawab. Tangannya terus bergerak memukulkan bantal ke tubuh Kevin. "Sayang!" Nada tinggi dari Kevin membuat Monica berhenti melakukan aktivitasnya. Kevinpun dengan segera menatap kearah wanitanya penuh mendamba. Tapi tiba-tiba dia meneguk salivanya.
Tampilan tubuh Monica terpampang dengan begtu jelasnya didepan kedua matanya. Seketika matanya melebar setelah beberapa lama mengamati penampilan istrinya yang begitu menggoda imannya. Bagaimana tidak menggoda? Istrinya itu hanya berbalut kain tipis berenda namun transparant. Apa yang berada dibaliknya masih terlihat begitu jelas. Dua bukit indah yang tak memakai bra. Kemudian lekuk tubuh yang begitu menggoda.
Wajah Monica terlihat menekuk. Masih menyimpan rasa kecewa dilubuk hatinya karena ucapan Kevin.
"Sayang ada apa?" Mencoba mengesampingkan nafsu yang sudah mulai membara. Mengulurkan tangannya untuk memeluk sang istri. Namun naas, tangan itu ditepis dengan kasar oleh sang istri. "Sayang katakan! Sekarang ini kita suami istri bukan? Katakan jika aku berbuat salah padamu." Mencoba berbicara dengan nada yang sehalus mungkin.
"Mas Kevin jahat! Hiks hiks kenapa tega ngomongin aku kayak gitu?" Monica menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Mas Kevin jangan pura-pura lagi. Bagaimana bisa mas Kevin mengatakan aku ini tidak perawan? Apa mas belum begitu mengenalku? Sehingga dengan begitu mudahnya mas Kevin mengataiku seperti wanita murahan begitu?" Monica semakin sesenggukan. Hatinya terlalu pedih mengingat ucapan sang suami yang begitu menyakitkan hatinya.
"Padahal aku selama ini begitu menjaga kesucian ku dengan segenap jiwa. Biarlah laki-lakiku yang sudah halal yang boleh menyentuhku. Aku ini seorang gadis. Ibarat aku ini sebuah kaca. Sekali retak maka akan membekas selamanya. Begitu pula dengan mahkota berharga milikku. Sekali kulepas maka harga diriku akan terkoyak bersama dengan murahnya diriku ini."
Kevin termenung mencoba meresapi apa yang dikatakan oleh istrinya. Ya benar. Ibarat kata seorang gadis itu adalah kaca bening. Sekalinya retak maka akan membekas selamanya. Seperti sebuah keperawanan, harga diri tertinggi milik seorang wanita. Sekali dilepas maka tak akan kembali lagi seperti sedia kala. Begitulah metode percintaan zaman sekarang. Begitu miris, karena mereka dengan begitu mudahnya memberikan mahkotanya kepada sembarang lelaki. Ada yang bilang jika masih perawan maka dia dibilang mainnya kurang jauh. Atau apaan tuh kudet, culun. Ah miris sekali kehidupan sekarang.
__ADS_1
Seulas senyum mengembang dibibir Kevin. Betapa bahagianya dia akan menjadi yang pertama menyentuh istrinya. Didekatinya Monica secara perlahan. Mencoba berbicara dari hati ke hati.
"Sayang ... Bukan begitu. Jujur saja zaman sekarang begitu modern. Sangat jarang menemukan seorang gadis yang masih tersegel seperti kamu. Aku bersyukur jika aku yang pertama mendapatkan mahkota berhargamu sayang. Tetapi jika saja, ini hanya seandainya saja Sayang. Jika saja kau sudah tak tersegel, aku akan tetap mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku akan menerimamu dengan hati yang besar. Aku harap kau juga menerimaku yang tak sempurna ini dengan hati yang besar."
Kevin berhenti sejenak. Dilihatnya raut wajah istrinya yang mulai tenang. Tak lagi terdengar suara isakan tangis dari Monica. Kevin membelai pipi yang basah milik Monica. Dihapusnya sisa air mata yang masih tertinggal dipipi mulusnya.
"Pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh hati padamu. Kau membuatku hampir gila hingga aku memutuskan segera meminangmu. Aku harap kau akan betah dengan segala kegilaanku padamu."
Kata-kata Kevin begitu menghujam hati Monica. Tanpa disadari gadis itu tersenyum. Kevinpun mendekat, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Monica.
"Sekarang aku menginginkanmu, bisakah kau serahkan dirimu seutuhnya padaku?" bisikan dari Kevin membuat darah Monica berdesir. Membuat selenyar aneh yang mulai merasuki tubuhnya. Melihat reaksi Monica yang terpaku, Kevin segera meraup rakus bibir mungil milik Monica. Gadis itu terkesiap kaget mendapati serangan yang tiba-tiba dari suaminya.
Kevinpun ******* dengan lembut bibir indah Monica. Namun karena Monica hanya diam saja, Kevin menggigit kecil bibir Monica dengan penuh birahi. Gigitan kecil itu membuat Monica membuka mulutnya. Dengan segera Kevin tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dimasukkan lidahnya kedalam mulut Monica. Mengobrak-abrik isi dari mulut Monica. Meskipun sedikit kasar, namun Monica begitu menikmati.
Jika boleh jujur, perlakuan Kevin yang baru saja dia rasakan memberikan sensasi yang tak pernah dirasakannya.
Hingga beberapa waktu lamanya keduanya saling memagut mesra. Melupakan bahwa keduanya perlu bernafas juga. Monica yang sudah mulai kehabisan nafas mencoba mendorong dada bidang milik suaminya.
__ADS_1
"Hah ... Aku nggak bisa nafas Mas."