
Kei dan Rendy kini telah meluncur ke alamat yang diberikan oleh Leo. Yap ... Lelaki itu sepertinya ada masalah. Terdengar dari suaranya saat di telpon. Rendy mendesah. Bukan hal sulit untuk menghabisi seseorang memang. Di tangannya toh ada kaki tangannya, Kei. Yang akan mengambil tindakan apapun untuknya.
"Siapkan pasukan kita Kei. Tapi jangan lupakan Elena. Pastikan tetap ada yang menjaganya. Ngomong-ngomong kita menuju Dieng, Jawa tengah. Jones juga akan ikut membantu kita, Kei. Sepertinya kita memang ditakdirkan satu sama lain untuk saling menolong. Meskipun, aku juga tidak begitu mengenal mereka. Tetapi, mereka sama dengan kita, Kei. Sama-sama dari dunia gelap. Jadi singkirkan pikiran negatif itu dari otakmu."
"Maafkan saya Tuan Muda. Saya telah lancang karena berfikir yang tidak-tidak. Karna bagi saya keselamatan andalah yang terpenting." Kei melirik Rendy yang tengah menikmati jalanan yang kian menggelap. Sinar senja bahkan hampir sepenuhnya dimakan oleh sang malam. Hiruk pikuk kota Jakartapun kini mulai terbangun dari tidurnya. Karena dunia malam, lebih menggoda hasrat dan ego manusia yang kelam.
__ADS_1
Di sebuah rumah yang jauh dari keramaian, mobil sejenis Koenigsegg CCXR Trevite hitam memasuki halaman rumah yang tak terpakai. Terlihat rumah itu tak terawat dan ditinggalkan sang pemilik begitu saja. Namun saat memasuki rumah itu, barulah terlihat ada sedikit yang berbeda. Disana sini terdapat para penjaga yang dilengkapi senjata-senjata. Atau CCTV dengan banyak tersebar di setiap sudut ruangan.
Kei dan Rendy berjalan masuk ke dalam rumah tersebut. Hingga mereka berdua sampailah pada sebuah ruangan bawah tanah yang berlantaikan ubin, dan berudara pengap. Disitulah terdapat berbagai macam alat persenjataan yang begitu canggih yang setara dengan peralatan tempur militer suatu negara.
__ADS_1
Setelah dirasa persiapan selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan di malam hari. Meskipun gelap gulita telah merangkak memenuhi langit, Rendy dan Kei tetap bergegas membelah jalanan kota. Tak perduli apa yang akan terjadi esok harinya.
Disaat Rendy dan Kei tengah menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Leo, berbeda dengan seseorang yang ada di Jakarta. Seorang gadis yang tengah dikerumuni oleh keluarga besar sang lelaki membuatnya begitu canggung dan kesal. Rasanya sudah ribuan kali Elena mengumpat dalam hati karena Rendy yang meninggalkannya begitu saja.
Ditambah Elena semakin pusing tentang pembicaraan yang mengarah pada pernikahan. Siapa lagi jika bukan Ardan Wijaya. Lelaki paruh baya itu begitu antusias mengenalkan Elena pada Kevin, Monica, Dion, dan Agnes. Terlebih, mereka mengatakan akan menikahkan Rendy dan Elena secara paksa. Membuat Elena semakin merutuki sang dewa kesialan yang terus saja menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Sialan sepertinya aku memang tak bisa kabur dari sini. Untungnya, aku sudah menghubungi Lady. Tunggu hingga dia sampai disini. Aku akan keluar dari rumah ini. Menyebalkan, mengapa paman Rendy begitu terburu-buru? Rasanya ada sesuatu yang dia sembunyikan. Kata Elena dalam hati.