Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 123


__ADS_3

Diluar ruang operasi itu terduduk lemas Dion Leonardo. Dia tampak gusar karena saat ini dokter sedang menangani Agnes. Calon istrinya yang baru saja dia ketahui tadi pagi.


"Tuan....," tangan kanannya yang bertugas sebagai seorang pengeksekusi itu membuyarkan lamunannya. Benar. Dialah salah satu dari sekian banyak tangan kanan yang setia kepadanya. Seorang pembunuh berdarah dingin yang sudah mengikrarkan janji setia kepadanya. Rolland Mahendra. Usianya tak berbeda jauh dengannya, 30 tahun. Namun laki-laki itu tak mempunyai belas kasihan. Hanya dari sebuah isyarat dari Dion maka dia tanpa segan dapat membuat musuhnya hancur dalam sekejab.


"Hem. Apa kau sudah memberi kabar papaku? Aku tak mau bila nanti dia terlambat tahu calon menantunya terkena luka tembak. Bisa habis aku,"


"Sesuai perintah anda tuan. Saya sudah memberi kabar untuk tuan Leon beserta tuan Bastian. Apa ada lagi tuan?"


"Tidak perlu. Panggilkan saja asistenku kemari untuk berjaga-jaga jika aku membutuhkan sesuatu nantinya,"


"Akan saya panggilkan tuan. Mungkin saja asistent anda, Hugo sudah selesai dengan pekerjaannya,"


"Oh ya tolong panggilkan juga Satria, mungkin pekerjaanku di club' dia yang akan menghandle. Aku banyak urusan untuk kedepannya,"


"Baiklah tuan saya permisi,"

__ADS_1


Rolland pergi setelah menundukkan kepalanya. Laki-laki berperawakan tinggi dan kekar itu melesat menyusuri koridor.


Aku sangat lelah. Kenapa papa harus menjodohkan aku segala. Apa gadis itu akan menerima? cih jangan katakan aku yang mengejarnya. Karena kami dijodohkan.


Dion melirik ruang operasi itu. Kegusaran kembali menerpanya. Dia tidak ingin disalahkan untuk kondisi terburuk gadis itu.


*Tolong jangan mati ya ini untuk masa depanku.


💞💞💞*


"Rianna !!!" Semua bersorak haru melihat gadis yang mereka khawatirkan akhirnya muncul dihadapan mereka. Rianna segera berlari dan menghambur kedalam pelukan Ani. Ya .... entah sejak kapan Rianna merasa Ani memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya. Membuat mereka semua yang berada disana diliputi suasana haru.


"Ri....maaf gara-gara aku...," rianna meletakkan satu jari telunjuknya dibibir Ani membuat Ani segera membungkam mulutnya rapat. Rianna menggelengkan kepalanya. Menghapus air mata yang membanjiri wajah kakak iparnya.


"Tidak ada yang bersalah kakak ipar. Ini musibah tidak ada yang tau. Hanya saja yang kita tau ada orang jahat yang sedang mengincar kita. Kita tidak tau kan siapa orangnya? Lagian kakak ipar sedang hamil. Jangan seperti ini kak,"

__ADS_1


"Aku takut Ri....aku takut kamu kenapa-napa,"


"Aku baik-baik saja. Tapi...."


"Tapi apa?" Ardan menyela pembicaraan. Yakinlah laki-laki itu sudah sangat kacau. Dia hanya terus membayangkan ada banyak kejahatan yang sedang mengintainya.


"Kak Agnes dan laki-laki yang nyelametin aku terkena luka tembak," ucap Rianna dengan lirih. Namun mereka semua masih bisa mendengarnya.


"Apa?!!!"


Ucapan Rianna tak pelak membuat mereka semua kaget. Membuat mereka semakin yakin kalau musuh bahkan tak segan menghabisi nyawa seseorang. Ani yang mendengarnya seketika juga langsung roboh. Tak lagi ada tangisan tapi dia langsung jatuh tak sadarkan diri. Ardan dan yang lainnya semakin kalut. Mungkin saja dia syok. Sedangkan Monica tubuhnya masih kuat hanya saja tiba-tiba kakinya kebas. Lemas seketika, begitu pula dengan air matanya langsung luruh terjatuh begitu saja.


💞💞💞


masih ada satu episode lagi

__ADS_1


__ADS_2