Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 187


__ADS_3

"Besok hari indahmu Nak. Semoga sekali seumur hidup. Ibu hanya mampu memberikan restu kepadamu dan calon suamimu. Patuhilah semua perintah suamimu. Jangan membantahnya, sayangnya kamu belum bisa masak," ibu Monica sehabis sholat shubuh segera menuju ke kamar miliknya. Karena besok adalah hari penikahannya dengan Kevin akan dilangsungkan. Membuat sang ibu sedikit belum rela untuk melepaskan kepergiannya. Padahal niat awal Monica hanya ingin menyelesaikan kuliah secepatnya dan mengangkat derajat kedua orangtuanya. Dia berasal dari kalangan biasa. Tentunya sangat mendamba sebuah kesuksesan. Monica sangat pintar hingga bisa mendapatkan beasiswa di kampus paling ternama dikota J.


"Ibu ini gimana sih. Tadinya bilang ngrestuin, sekarang malah ngejek Monic nggak bisa masak," memonyongkan bibirnya 1 cm.


Ibu ini niatnya mau hibur apa ngejek aku sih. Bikin hati rusuh aja.


"Hem...ibu kan sudah bilang menikahlah ketika kau sudah bisa memasak. Sekarang kau bingung sendiri merengek minta diajari. Makanya jangan suka makan aja, seharusnya dari dulu juga belajar memasak. Begini kan kalau dapat rejeki, dikasih calon suami cepet. Belum sempet belajar masak lagi," mengelus puncak ubun-ubun kepala anak gadisnya.


"Ya aku kan nggak tau Bu. Aku pikir aku juga baru kenal sama mas Kevin. Ternyata dia malah seserius ini sama aku. Apa keputusan aku benar ya Bu?" menatap wajah ibunya. Wanita paruh baya yang mulai terlihat guratan-guratan untuk usia yang semakin bertambah.


"Niat baik nggak pernah ada salahnya Nak. Masih ada hari ini, kamu bisa belajar sama ibu. Mulai besok kamu akan memulai kehidupan baru bersama suamimu. Nggak akan ada suara berisik lagi dirumah ini," menundukkan kepalanya. Terlihat mulai ada buliran air mata bening diujung pelupuk matanya.


"Bu jangan begini. Monica akan sering-sering kesini nantinya. Mas Kevin dan Monic udah ngomongin ini kok," menghapus air mata milik ibunya.


"Ibu hanya belum percaya kamu akan secepat ini pergi dari rumah ini Nak,"


"Ish Ibu! Aku bukannya meninggal ya! Aku ini hanya mau menikah. Bisa saja aku kesini tiap akhir pekan bukan?"


"Tepati saja janjimu itu. Sekarang ayo kita kedapur," bangkit dari posisi duduk ditepi ranjang milik anak gadisnya.


"Mau ngapain Bu? Ini masih setengah 5 loh,"


Bukannya menjawab tetapi malah menarik ujung telinga kanan Monica. Membuat gadis itu meringis dan mengaduh kesakitan.


"Aduh...Ibu sakit,"


"Mau jadi istri apa kamu? Ayo belajar masak mumpung masih pagi bukan?" melepaskan tarikannya pada telinga anak gadisnya.

__ADS_1


"Ini masih pagi Bu,"


"Segera!" suara ibunya mulai meninggi membuat Monica mau tak mau segera bangkit dan menyusul ibunya kedapur.


Dinginnya. Harusnya aku masih dibawah selimut pagi ini.


"Monica kupas bawang merah dan bawang putihnya. Kemudian ambil ketumbar dan ulek ya. Ibu mau lihat dagingnya apa sudah sedikit empuk atau belum. Setidaknya nanti kita akan mengungkepnya bersama dengan bumbumu itu agar lebih meresap bumbunya,"


"Iya Bu," membuka isi kulkas. Mengambil beberapa bawang merah dan bawang putih. Kini dia tinggal mencari ketumbar.


"Mana ya yang ketumbar? Ini merica apa ketumbar? Ah mungkin yang ini," kemudian mengambil cobek batu dan mulai menguleknya.


*******


"Ayo sarapan," teriakan Monica memenuhi seisi rumah. Hatinya begitu berbunga karena keberhasilannya memasak daging. Setelah mengukepnya dia menggorengnya sebentar sesuai arahan ibunya. Dari penampilannya saja sudah begitu menggoda. Jangan lupakan sambal terasi bersama lalapan daun kemangi dan selada.


"Kakak kan mau menikah jadi ya bahagia dong. Kan ganteng calon kakak ipar," celetuk Sonia gadis remaja yang duduk dikelas 2 SMP.


"Bukanlah. Kakak bahagia banget pagi ini. Lihat ini kakak loh yang masak," memperlihatkan menu istimewa pagi ini. Menu daging memang istimewa bagi keluarga ini. Harganya yang mahal membuat Ibu Monica berfikir dua kali untuk memasak menu tersebut.


"Wih kelihatannya enak nih," Sonia segera mengambil sebuah piring. Namun tangan Monica menghentikan Sonia yang hendak menyiduk nasi.


"Eh mau ngapain?"


"Sarapan pagi lah kak. Apa lagi?"


"Tunggu ayah dan ibu dong," ucap Monica dengan lembut. "Ini menu spesial jadi kita harus sarapan bersama-sama,"

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa belum sarapan?" tanya sang ayah yang baru selesai berbenah diri.


"Ini yuk Monica Ayah. Dia bilang ini menu spesial jadi kita harus sarapan bersama," Rania mengadu pada ayahnya.


"Sudah ayo sarapan. Mana ibu kalian?"


"Disini Ayah. Sebentar ibu ambilkan nasi,"


Setelah sang kepala keluarga mengambil nasi dan lauknya beserta sambal dan lalapan kini semua penghuni rumah pun mulai mengambil nasi dan lauk. Tak ketinggalan pula sambal dan lalapan sayur segar itu. Ayah Monica memimpin doa terlebih dahulu sebelum sarapan ( berbeda banget sama Monica yang langsung menyendok makanan masuk ke mulutnya tanpa berdoa terlebih dahulu. Jangan ditiru tingkah Monica ya gaes ).


Kini satu persatu anggota keluarga mulai menyendokkan makanan itu kedalam mulutnya. Namun saat mendarat di lidah, mata semua anggota keluarga melebar seketika. Secepat kilat menelan makanan itu dengan paksa untuk segera masuk kedalam perut. Semua orang kalap mencari air minum. Satu buah teko berisi air putih ludes seketika.


"Bagaimana rasanya bisa begini? Pedes banget tapi ini pedesnya kayak merica deh," Rania menjulurkan lidahnya. Raut wajahnya benar-benar panik karena rasa pedas dan panas dilidahnya. Begitu pula dengan anggota keluarga yang lainnya. Merasakan pedas dan panas dilidah mereka masing-masing. Sementara Sonia segera berlari kekamar mandi untuk berkumur dan kembali menyikat gigi sekali lagi.


"Tapi tadi bumbunya udah bener kok. Paling ini dari sambalnya," menunjuk sambal yang terlihat masih banyak.


"Monica sayang. Ayah bahkan belum menyentuh sambal sedikitpun. Hanya sepotong daging dan nasi saja,"


"Be...benarkah?" raut wajah Monica sulit untuk diartikan.


"Sudah jelas ini pedas merica Nak. Kamu beri merica seberapa banyak? Kamu lupa Sonia itu nggak suka pedas?"


"Ibu beneran deh aku tadi kasih ketumbar bukannya ambil merica," Monica masih membela dirinya.


"Yuk Monica kayaknya salah deh. Ini tuh rasanya merica bukan ketumbar. Kalau ketumbar pasti sedep bukan pedes menyakitkan gini," menyentuh lehernya yang masih terasa panas.


"Tapi beneran kok aku nggak ngasih merica. Ibu bilang tadi cuma ketumbar aja,"

__ADS_1


"Yuk....jangan bilang yuk Monica nggak bisa bedain mana merica mana ketumbar?" pertanyaan mengintimidasi dari Rania membuat Monica terdiam. Gadis itu membisu seakan kerongkongannya tercekat. Kini semua pandangan penghuni rumah tertuju padanya. Membuat Monica meneguk salivanya.


__ADS_2