
"Kamu mau kemana?" ulang William.
Sabrina menatap bingung ke arah William. Bukankah selama ini ia bisa bepergian bebas? Mengapa tiba-tiba William berubah? Hati Sabrina mendadak gelisah. Jangan-jangan William hendak melarang keinginan Sabrina untuk pergi dari rumah.
"Em, aku harus mengurus sesuatu," sahut Sabrina. Gadis itu tersenyum terpaksa.
"Apa tidak bisa besok saja? Ini sudah malam. Kau itu seorang gadis. Tidak baik bepergian malam-malam. Lihatlah, ini sudah jam 22:45 WIB. Sangat rawan di jalanan," tukas William.
"Huh. Tidak bisa, Uncle. Aku harus ke perusahaanmu. Ada yang harus aku selidiki. Tenang saja, aku membawa beberapa orang untuk membantuku. Jangan khawatirkan aku." Sabrina menyambar pistol revolver yang tadi ada di ras kecil miliknya.
"Sabrina! Bisa tidak kau jangan keras kepala! Ini sudah malam. Tolong, dengarkan kata-kataku. Jangan membuatku semakin merasa bersalah." William memelas.
__ADS_1
"Uncle, aku tidak sendiri! Ada yang menemaniku. Uncle jangan merasa bersalah. Ini musibah. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi," kata Sabrina dengan tenang.
William berjalan mendekati Sabrina. Pria itu menatap tajam ke arah gadis yang akhir-akhir ini membuat hidupnya jungkir balik. Sabrina menekuk wajah. Sepertinya tidak mudah bisa melepaskan diri dari William.
"Sabrina, aku suamimu. Sebagai seorang suami, aku melarangmu pergi dari rumah malam ini. Jika besok kau pergi, aku tidak akan melarangmu. Ini sudah malam, Sabrina. Tolong, mengertilah." William menatap sendu Sabrina.
Gadis itu nampak mematung. Berpikir bagaimana bisa melepaskan diri. Tetapi melihat wajah sedih dan khawatir William, Sabrina mendadak resah. Pria yang dicintainya saat ini tengah mengiba. Di saat Sabrina tengah merenung, William perlahan mengikis jarak diantara mereka.
Sabrina terjingkat ketika dua tangan kekar merengkuh wajahnya. Tak hanya itu, William mendaratkan bibirnya di bibir Sabrina dengan lembut. Membuat Sabrina terhanyut dalam buaian cinta yang membara. Tak lama kemudian, William melepaskan ciumannya.
"Kumohon, kau jangan pergi malam ini. Dengarkan aku, besok saja kau menyelidikinya. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Kau terlalu nekat, Sabrina," ujar William.
__ADS_1
"Tapi aku harus bergegas! Ini juga untuk kebaikan perusahaanmu, Uncle. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini menyangkut nyawa banyak orang," pungkas Sabrina.
"Aku tahu!" Suara William terdengar meninggi. "Tapi kamu ini seorang gadis. Aku yakin kamu bisa berbuat nekat lebih dari tadi. Kau melemparkan tubuhmu di kaca! Orang waras, tidak akan melakukannya Sabrina!" tegas William.
"Maafkan aku, Uncle. Sekalipun Uncle melarangku, aku akan tetap nekat." Sabrina kekeh dengan pendiriannya. Ketika Sabrina hendak berjalan, tangan Sabrina dicekal oleh William.
"Kalau begitu, aku ikut!" pinta William.
Sabrina tersentak mendengar penuturan William. Sabrina mendadak gelisah. Bagaimana jika William ikut? Bukankah akan ketahuan jika ia adalah seorang ketua mafia. Tak hanya itu, Sabrina bahkan memimpin dua geng mafia sekaligus.
"Tidak, Uncle. Lebih baik, Uncle di rumah saja," tolak Sabrina.
__ADS_1
"Aku tidak boleh ikut? Sana, berangkatlah! Aku bisa menyusulmu sendiri! Kau pikir hanya kau saja yang bisa nekat? Aku juga bisa, Sabrina!" William dilanda emosi.
Mendengar itu, Sabrina menjadi bimbang. Sabrina belum mengetahui siapa yang menjadi lawannya. Itu akan sangat susah sekali. Terlebih, Sabrina tak memiliki petunjuk apapun. Satu-satunya petunjuk adalah, musuh jelas berasal dari golongan mafia!