Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
YoBAB 197


__ADS_3

"Mas," panggilan lirih dari Monica yang terdengar resah. Rasanya ada yang salah, Monica mulai membatin frustasi. Mencoba membuka dua pintu lemari yang sama-sama tertutup rapat. Namun usahanya nihil. Pintu itu tak bergerak sedikitpun. Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Terlihat Kevin keluar dari dalam kamar mandi. Sebuah handuk yang melilit bagian perut kebawah. Sedangkan bagian atas tubuhnya, ia biarkan polos tanpa sehelai benangpun.


Monica segera mengalihkan pandangannya ke segala penjuru. Jangan ditanya lagi, betapa malunya ia kini. Wajahnya sudah memerah layaknya kepiting rebus.


Kevin berjalan mendekati gadis pujaannya. Seorang gadis yang telah mencuri hatinya. Sikapnya yang malu-malu, kejujuran dan kepolosannya mampu membuat kevin tergila-gila. Hingga mampu membuat Kevin untuk segera meminangnya.


"Ada apa? Mandilah ... apa kau tidak gerah?" kedua matanya menatap nyalang kepada istrinya, yang masih membelakanginya.


"Mas Kevin yakin baju ganti kita semua ada di dalam lemari ini?" menatap curiga kearah laki-laki yang telah menjadi suaminya.


"Ya. Mama yang sudah menyiapkan semuanya untuk dua hari kedepan. Kau tahu mamaku bukan? Dia sangat bahagia jadi mama yang mengatur semuanya. Dari pernikahan sampai malam pertama kita." pernyataan Kevin justru membuat Monica semakin merona.


"Apa kau yakin mama nggak lagi ngerjain kita?"


"Apa sih maksudmu?" nada bicara Kevin mulai meninggi.

__ADS_1


"Bukan begitu mas Kevin. Lemarinya nggak bisa dibuka!"


"Ini hotel mahal Sayang, mana mungkin lemarinya tak bisa dibuka."


"Coba deh mas Kevin yang buka, kali aja kebuka." Monica mengambil posisi mundur. Memberi kesempatan untuk suaminya ambil alih. Kevinpun akhirnya mencoba membuka pintu lemari itu. Perlahan ... 5 menit, 10 menit, bahkan kini sudah 30 menit berlalu dengan hasil yang masih saja nihil.


"Sialan! teriakan frustasi kevinpun akhirnya terdengar. Hingga membuat Monica mengumpat kesal. Terlebih Monica benar-benar kelelahan dengan gaun pengantin yang masih dia kenakan. Karena gaun itulah yang membebaninya. Kevin menatap istrinya dengan tatapan frustasi.


Tubuh Kevin kini dipenuhi oleh keringat. Padahal dirinya baru saja selesai mandi. Pandangan Kevin yang dia alihkan kepada istrinya. Seakan membenarkan perkataan istrinya, jika dua buah lemari itu sama sekali tak bisa dibuka.


Tanpa menjawab Monica lebih memilih memutar tubuhnya untuk segera berlalu kekamar mandi.


Beberapa waktu berlalu. Monica teringat akan gaun yabg diberikan oleh Agnes. Sewaktu baru menerima kado itu dia hanya bisa meliriknya. Kini kado itu telah ada ditangannya. Dengan perlahan dia membuka bungkusan kado itu dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Namun begitu melihat apa yang kini ada didepan matanya senyumnya hilang seketika. Diiringi dengan kedua mata yang melebar.


"Agnes!" umpatnya kesal.

__ADS_1


****


Agnes hanya mengumpat kesal begitu mendapati dirinya kini berada dibawah selimut tebal dengan tubuh polosnya.


Sialan ... niat hati aku mau ngerjain Monica, Napa aku juga ikutan kena sial begini? Agnes membatin frustasi. Diliriknya suaminya yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


"Dasar kadal buntung! Mentang-mentang udah dapat enaknya langsung molor. Cih! Badanku sakit semua hiks hiks," gumam Agnes dengan lirihnya.


Nampaknya itulah pepatah mengatakan, apa yang kamu tanam maka itulah yang kamu tuai. Begitu pula dengan Agnes niat hati ingin mengerjai sahabatnya malah justru dirinya juga kena imbasnya. Kini dengan perasaan kesalnya dimulai beringsut kekamar mandi. Memunguti semua baju miliknya.


******


"Lakukan secara perlahan jangan gegabah ingat itu," sambungan telfon itupun berakhir. Seorang wanita muda itu kini bak seorang tawanan. Karena dia saat ini tengah dijaga oleh puluhan penjaga.


"Lihat saja. Mariani, aku akan membalaskan dendam ku. Terlebih anda tua Bangka yang sombong,"

__ADS_1


__ADS_2