
"Mas Ardan kamu tau dari mana? Kalau aku ngumpulin uang buat beli sawah untuk ayah dan ibu?" Ani akhirnya membuka suaranya. Bagaimanapun apa yang diberikan oleh Ardan sudah lebih dari cukup. Namun sekarang ditambah dengan area persawahan yang mungkin cukup luas jika dilihat dari berkas-berkas tersebut.
"Gak usah banyak tanya. Aku tak mau mendengar penolakan dari kalian. Tolong terima. Dan saya minta berkas-berkas tentang Rendy. Akta lahir dan KKnya aku akan memasukkan dia kedalam kartu keluargaku. Dan menjadi anakku. Keturunan dari keluarga Wijaya . Sayang ambilkan semua berkasnya kesini."
Ani dan keluarganya melongo. Ardan memutuskan keputusannya secara sepihak tanpa membicarakan terlebih dahulu dengan keluarganya. Bahkan Ani pun tak tahu permasalahan itu.
"Kenapa diam? Ayo cepat ambilkan." Perintah Ardan. Ya.... Kini Ardan lah yang paling berkuasa disini. Semuanya hanya diam dan menganggukkan kepalanya saat Ani menatap kedua orang tuanya meminta persetujuan. Anggukan kepala itu tanda mereka menyetujui. Ani beranjak dari tempat duduknya kemudian memilah Milah berkas-berkas di laci. Berkas-berkas milik anaknya.
Setelah ketemu dia menyerahkan ke Ardan tanpa banyak bicara. Dia tau kini dia hanya bisa mengikuti semua perintah Ardan. Karna sampai saat ini dia masih belum menemukan sifat dari Ardan yang cela. Ardan terlalu sempurna untuknya.
"Ini mas."
Ani menatap suaminya. Memberikan berkas-berkas kemudian menatap Ardan entah apa yang sekarang dipikirannya.
"Mas..... Mas yakin ingin Rendy masuk ke KK kita?"
"Cepat atau lambat dia akan ikut denganmu. Lebih baik cepat diurus biar tidak kacau nanti. Dia akan semakin tumbuh besar. Dan dia akan semakin mengerti kehidupan ini. Kamu mau dia bertanya-tanya tentang ayahnya? Kalau tak segera diurus dan dia tak tinggal dengan kita bagaimana kamu akan menjawabnya jika dia bertanya tentang ayahnya?"
__ADS_1
Deg.... Kalimat yang paling menohok jantungnya itu memang benar adanya. Bagaimana mungkin suaminya yang tak memiliki hubungan darah dengan anaknya memikirkan semua itu? Sedangkan dia sendiri? Bingung untuk menjaga hati dan tubuhnya dari suaminya sendiri. Trenyuh memang. Dia kini hanya bisa menyesali semua prasangka buruk tentang suaminya. Merutuki betapa bodohnya dia. Mungkin malam ini dia bisa menyerahkan segalanya untuk suaminya. ya hanya itu yang bisa dia berikan. Dilihatnya wajah kedua orang tuanya. Mereka seakan tersentuh mendengar perkataan Ardan. Ibunya terlihat menitikkan air mata. Ibu dan ayahnya terlihat bahagia karena anaknya menikah dengan orang yang tepat.
"Jadi.... Mas gak keberatan jika Rendy ikut kita?"
"Kenapa keberatan? Aku sudah menikahimu jadi dia berarti anakku juga. Aku akan mengganti namanya. Rendy Saputra Wijaya. Aku yang akan mengurus semua jadi ayah dan ibu tinggal terima beres saja. Dan tugas untuk ayah dan ibu mengadakan syukuran nama baru Rendy. Jangan ada yang membantah. Semua biaya syukuran aku yang tanggung."
Semua tercengang sudah sampai tahap nama, Ardan memikirkan Rendy. Situasi kini berubah haru. Syukurlah anak mereka kini baik-baik saja bahkan diperlakukan sangat istimewa. Dan bukan hanya anaknya. Namun mereka semua satu keluarga mendapatkan keberkahan dalam pernikahan anaknya.
Kini mereka masuk kedalam kamar. Ardan merebahkan tubuhnya.
"Mas...."
"Makasih.... Aku gak tau harus ngapain. Aku benar-benar gak punya apa-apa buat mas."
"Tetap jadilah istriku. Aku mencintaimu." Direngkuhnya dagu istrinya kemudian memagut lembut bibir ranum istrinya itu.
Ani menyambut hangat kecupan mesra dari sang suami. Kini dia membalas ciuman itu. Ardan sempat kaget namun kemudian meneruskan ciumannya. Lama mereka beradu. Kemudian dilepasnya ciuman itu.
__ADS_1
"Mas.... Maaf kalau selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik buat mas. Sekarang aku membuka diriku pada mas. Ada satu hal yang ingin keperlihatkan pada mas. Aku harap mas bisa mengerti dengan sikapku selama ini. Dan dulu sikap egoisku pada mas sebelum menikah. Untuk semuanya aku minta maaf. Tolong berbalik lah sebentar ada sesuatu yang ingin kutunjuk kan padamu."
Ardan mengangguk. Kemudian tanpa banyak bicara dia membalikkan tubuhnya. Ani juga berbalik ke arah berlawanan. Kini mereka saling memunggungi Ani membuka bajunya perlahan.
"Berbalik lah mas."
Ardan membalikkan tubuhnya dan betapa kagetnya dia dengan apa yang kini ada dihadapannya. Itu bekas luka yang sudah mengering.
"Ba.... Bagaimana bisa?" Ardan mendekatkan tubuhnya. Mendekati tubuh mungil itu. Disentuhnya bekas luka yang kini membekas besar sekiranya ada 3 bekas garis yang tidak beraturan. Dan membentuk sebuah garis panjang masing-masing. Ada rasa ngilu saat melihat pemandangan dihadapannya. Karna itu adalah bekas luka yang sudah mengering. Yang mungkin tak akan pernah bisa hilang seumur hidupnya.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan ini?" Dia tak bisa membayangkan saat istrinya mengalami kejadian mengerikan itu. Imbuhnya "Apa kamu pernah kecelakaan?" Berbagai macam pertanyaan kini memenuhi kepalanya.
"Ini adalah Hadiah dari mantan suamiku dan yang menjadi pemicu untuk ku melayangkan gugatan cerai untuknya. Hanya karena aku tak sengaja bertemu dengan kakak kelasku. Dia berpikir bahwa aku berselingkuh darinya. Dan sahabatku bernama Intan memfitnahku sehingga mantan suamiku tersulut emosi. Ini adalah bekas cambukan ikat pinggangnya."
__ADS_1
Hari ini aku sudah update ya. Karna hari\-hari sebelumnya aku masih sibuk jadi baru bisa update. Maaf biasalah ngurus kerjaan dan ngurus anak. 😄😄😄😄 Aku harap kalian semua menyukai karyaku. Terima kasih karna telah membaca ya. Salam sayang dari author 😘😘😘😘\*
Â