Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 442. Rencana Kezio.


__ADS_3

"Honey? Kau tidak apa-apa? Apa kau terlalu banyak pikiran?" William panik. Wajah Sabrina terlihat pucat. Pria itu masih saja berdiri. Padahal Sabrina sudah berada di ranjang. Melihat William, Sabrina mengukir senyuman.


"Terima kasih, Honey. Sungguh, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku lihat kamu belum makan malam. Makanlah. Aku sudah di sini. Aku hanya kelelahan saja." Sabrina mengusap tangan William yang memegang tangannya.


"Bagaimana jika kita ke rumah sakit? Siapa tahu kamu butuh vitamin, Honey." William kini duduk di tepian ranjang.


"Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat. Makanlah. Jangan sampai kamu juga sakit, Honey." Sabrina menganggukkan kepala.


William pun menyerah. Pria itu mengecup kening Sabrina dan berlalu. Meninggalkan Sabrina yang merenung. Gadis itu tersenyum tipis. Keluarga besar Wijaya ternyata mau menerima kehadiran William dan Artur. Padahal sebelum ini, ia takut. Nyatanya memang keluarga Wijaya patut melegenda.


"Aku bersyukur terlahir di keluarga Wijaya. Opa Ardan, semoga engkau bisa melihat anak dan cucumu hidup berdampingan bersama. Perusahaan William juga hampir pulih setelah kejadian teror. Kehidupanku bersama William juga lebih baik. Eh, sejak kapan aku berani menyebut nama suamiku saja? Hihi, sudahlah." Sabrina terkekeh. Tiba-tiba senyuman raib dari bibirnya.


"Bagaimana caraku mendekatkan Aretha dan Artur? Aku saja hanya bermodalkan nekat. Ah, mama. Ada-ada saja. Aretha juga butuh waktu untuk pulih. Sekalipun Kezio bisa menggunakan obat-obatan dari Tiongkok. Mengingat mental Aretha sebelumnya juga minim. Rasanya tidak mungkin jika Artur langsung mengiyakan saja kata-kataku. Benar, kepalaku jadi pusing lagi." Sabrina memejamkan kedua matanya. Hingga ia tanpa sadar terlelap.

__ADS_1


Seminggu berlalu. Seperti yang dijanjikan Sabrina, Kezio ikut pulang ke rumah William. Artur dan William hanya bisa terpekur. Kezio, remaja itu seolah mencurigai William dan Artur. Itulah yang dirasakan oleh dua pria itu.


"Kamarku di mana?" Kezio bertanya dengan nada yang datar. Tatapannya menghujam hati William. Sepertinya memang Kezio tak bersahabat dengannya.


"Ikut aku." Sabrina berjalan menuju lantai atas. Lalu menghentikan langkah ketika telah sampai di kamar lama milik Sabrina. "Nah, ini kamarmu. Lagian hanya seminggu 'kan?"


"Kau yakin ini kamar?" Suara Kezio terdengar ketus. Sabrina melirik William. Takut jika William sakit hati.


Kezio mencebik. "Kau memberikan kakakku rumah yang kecil. Kau bangga akan hal itu?" Kezio kini menatap Sabrina. "Kau sangat lucu, Kak. Di keluarga Wijaya saja kau tidak pernah kekurangan apapun. Lalu kau tinggal di rumah kecil ini? Jangan bercanda, ketua mafia."


Sabrina mendelik. "Kezio, apa yang kau katakan? Selama ini kami tak mempermasalahkan rumah. Asal bisa untuk berteduh dari panas maupun hujan."


William tersenyum penuh kemenangan. "Sepertinya kau tidak paham karakter Sabrina. Dia gadis yang sederhana. Gadis yang sempurna dengan banyak kelebihannya. Akan tetapi seperti yang aku bilang. Sabrina sangat sederhana. Dia bukan wanita yang akan menginjak harga diri suaminya di depan orang. Sebelum masuk ke rumah ini, aku menyesuaikan dengan kepribadiannya. Rumah ini akan terasa indah jika Sabrina sebagai ratu di sini."

__ADS_1


Hening. Kezio mengangguk-anggukkan kepala. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sabrina sendiri tidak terlalu dekat dengan Kezio. Mengingat Steward dan Kezio dua pria yang sangat dingin. Sabrina sendiri juga heran. Empat orang yang lahir dari satu rahim, memiliki sifat dan karakter berbeda-beda. Kezio akhirnya menyeret koper masuk ke dalam kamar.


"Sangat sempit." Lagi, Kezio mengejek kamar itu.


Sebenarnya William tak ingin menanggapi. Tapi baru saja beberapa menit Kezio berada di rumahnya, William merasa seperti sedang diawasi. Berkali-kali William menepis prasangka buruk. Namun, tetap saja muncul di kepala.


"Ya sudah. Kenapa kalian masih di sini? Aku ingin istirahat, Kak," ucap Kezio.


"Oh, oke." Sabrina menarik tangan William.


Membuat pria itu menjauh sejauh mungkin dari Kezio. Sedangkan Kezio, memilih untuk menatap kepergian dua orang itu. Artur sendiri memilih untuk masuk ke kamar semenjak baru sampai.


"Maafkan aku, Kak. Aku hanya ingin melihat sendiri bagaimana perlakuan suami dan anak sambungmu kepadamu. Kak Steward takut, jika suami kakak tidak mencintai kakak dengan tulus. Aku hanya mengatakan di sini selama satu minggu. Akan tetapi, aku akan berada di sini lebih dari itu." Kezio membatin.

__ADS_1


__ADS_2