
"O-om!" panggil Sabrina kaget saat mengetahui William berada dibalik tembok. Yang mungkin saja juga mendengarkan apa yang mereka berdua bahas. Hal itu terlihat dari raut wajah William.
"Terima kasih. Kau gadis yang baik. Aku harap, kau dan Artur akan terus bersahabat," kata William dengan tulus.
Sabrina menganggukkan kepalanya. Kemudian segera pamit. Meninggalkan ayah dan anak itu bergelut dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan Sabrina, pergi meninggalkan rumah itu dengan kesal. Sesampainya di rumah Elena menyambut anak gadisnya itu dengan hangat. Tetapi Elena sadar, Sabrina pulang dalam suasana hati yang kesal.
"Ada apa anak gadisku hem?" tanya Elena dengan lembut. "Apa kau bertengkar dengan Artur?" imbuhnya kemudian karena Sabrina masih bungkam. Gadis itu justru menjatuhkan badannya di sofa.
"Ma, hari ini aku melihat langsung. Bagaimana sebuah keluarga yang tidak harmonis. Aku melihat dengan kedua mataku sendiri. Jika seorang ayah, bisa saja tega memukul anaknya sendiri."
Ucapan Sabrina membuat Elena terdiam. Wanita paruh baya itu menyadari jika ada sesuatu yang baru saja terjadi. Sabrina menghela nafas panjang.
"Hal itu membuatku bersyukur karena terlahir di tengah-tengah keluarga ini. Aku bersyukur memiliki keluarga besar yang menyayangiku. Terlebih lagi, untuk kedua orangtua hebat seperti papa dan mama." Sabrina memeluk Elena. Wanita paruh baya itu tersenyum.
"Mama juga bersyukur memiliki anak yang hebat." Elena mencium pucuk kepala Sabrina. Hari ini entah keduanya merasa bersyukur karena mendapatkan rejeki yang sangat luar biasa. Yaitu, kehangatan sebuh keluarga.
"Ma, bikinkan seblak." Seloroh Sabrina tiba-tiba.
"Astaga, Sabrina!" Elena segera melepaskan pelukannya. Detik sebelumnya dia merasakan haru, sekarang wanita paruh baya itu kini diliputi suasana hati yang dongkol. Sedangkan Sabrina tersenyum melihat perubahan raut wajah mamanya.
*****
"Sabrina," panggil Artur pada gadis yang tengah berjalan di lorong sekolah.
Gadis itu menoleh. Saat mengetahui Artur yang memanggilnya, Sabrina tak menanggapinya. Dia justru kembali melangkahkan kakinya. Melihat hal itu, Artur berlari mengejarnya.
"Hei berhentilah!" bentak Artur. Sabrina menoleh.
"Keras kepala!" seru Sabrina sembari kembali melangkahkan kakinya. Arturpun menarik tangannya.
"Bisakah nanti kau mengajariku pelajaran tambahan?" tanya Artur dengan lembut. Membuat Sabrina mematung.
"Pelajaran tambahan? Apa kau berubah pikiran?" ejek Sabrina.
__ADS_1
"Ya! Sudah, nanti pulang sekolah aku akan membawamu ke rumahku! Jangan membantah atau aku akan melaporkanmu ke mamamu!" ancam Artur.
"Kau mengancamku?" tanya Sabrina dengan senyum meremehkan Artur. Artur meneguk salivanya. Mengapa ia baru sadar jika Sabrina itu berbeda dari gadis lainnya?
"Bagaimana kau akan menghubungi mamaku? Jangan bercanda!" imbuh Sabrina.
"Kau pikir aku bodoh? Aku bisa mengatakan kepada ayah kalau kau yang tidak mau mengajariku!" sentak Artur tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar keras kepala!" desis Sabrina saat Artur telah menghilang dari pandangannya.
Bel pulang sekolah berbunyi. Sabrina memutar kedua bola matanya. Lihat, Artur dengan cepatnya sudah berada di depan kelasnya. Bahkan membuat bocah remaja lelaki itu menjadi pusat perhatian. Rasanya Sabrina ingin melemparkan tas miliknya ke wajah Artur.
"Hai!" sapa Artur pada Sabrina. Lelaki itu mendekati meja Sabrina. Membuat seluruh pemandangan kelas tertuju pada mereka berdua.
"Hem." Sahut Sabrina singkat.
Sabrina yang menyadari akan sorot mata teman-teman perempuannya. Segera saja tanpa membuang waktu lagi, Sabrina segera bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan kelas. Menyisakan sejuta pertanyaan pada teman-teman sekelasnya. Bukankah terakhir kalinya keduanya bertengkar hebat? Lalu sejak kapan keduanya bisa sedekat itu?
"Kau lain kali jangan ke kelasku!" desis Sabrina saat Artur telah menyamai langkahnya.
"Turuti saja! Kau itu menarik perhatian tau! Atau, kau sengaja. Sengaja ingin membuat aku diteror oleh penggemarmu itu!" bisik Sabrina. Gadis itu kesal bukan kepalang. Pasti esok pagi berbagai gosip mengenai mereka akan menyebar luas.
"Kau ini aneh. Aku ini baik hati, kau protes. Aku mengganggumu, kau emosi. Memang laki-laki tempatnya salah. Begitu juga wanita, mereka maha benar!" ungkapan Artur seketika menghentikan langkah Sabrina. Dengan kesal, Sabrina menahan emosinya. Jika bukan masih di lingkungan sekolah, maka sudah dipastikan jika dirinya akan menghantam Artur dengan pukulan.
*****
"Kalian sedang belajar?" sebuah suara bariton mengagetkan Sabrina dan Artur. Kemudian seorang lelaki dengan parfum yang maskulin segera muncul di ambang pintu. Sabrina yang melihat sosok itu tersenyum lebar bak sinar mentari. Sedangkan Artur, bisa dipastikan membuang wajahnya kesal.
"Baiklah, belajarlah yang rajin. Ayah ada pekerjaan sebentar. Sabrina, nanti makan malamlah disini. Jika kau tidak keberatan dengan undanganku," ucap William.
"Tentu saja saya bersedia, Om. Tentu saja dengan senang hati." Apa yang diungkapkan oleh Sabrina disambut baik oleh William.
Lelaki itu tersenyum dengan coolnya dan kemudian berpamitan. Saat Sabrina melihat punggung William sudah menghilang, gadis itu masih saja tersenyum tanpa sebab. Entahlah, namun sungguh-sungguh hatinya seakan dipenuhi bunga yang seakan meledak.
__ADS_1
"Wah!"
Tanpa ia sadari, sebuah kata lolos dari bibir mungilnya. Membuat Artur hanya mampu melongo melihat kelakuan gadis di hadapannya itu. Jika saja para gadis pada umumnya akan mengejarnya dan bahagia karena berdekatan dengannya, tetapi kali ini pengecualian. Sabrina, gadis yang menurutnya abnormal karena selalu memasang wajah yang cuek, judes dan sangat jarang sekali untuk tersenyum, justru menjadi bucin ketika bertemu ayahnya.
"Apa kau waras?" pada akhirnya Artur jengah dengan kelakuan gadis yang bersamanya. Masih tersenyum lebar tanpa kata. Sabrina menoleh, membuat Artur memutar kedua bola matanya sebal.
"Artur, ayahmu tampan sekali!" seru Sabrina.
"Kau gila! Dia 15 tahun lebih tua darimu! Apa kau yakin menyukainya? Aku rasa kau memang benar-benar tak waras!" gertak Artur.
"Ya! Aku tak waras Artur, dia lembut. Dia dewasa! Dia tampan, dia cool! Aku tak pernah menemukan lelaki sepertinya dalam hidupku. Kau tau, ayahmu benar-benar tampan! Oppa," ucap Sabrina.
"Aku yakin kau hanya cinta monyet. Singkirkan air liurmu itu dan ayo kita lanjut belajar!" sungut Artur.
"Artur, ayahmu benar-benar tampan!" celoteh Sabrina.
Bugh.
"Ahhh, kau tidak waras Artur! Kenapa kau melemparku dengan buku?" tanya Sabrina kesal.
"Sudah cukup angan-anganmu itu. Ayo cepat selesaikan pelajaran hari ini dan aku akan segera mengantarmu pulang!"
"Tidak! Kau kan punya telinga. Ayahmu mengundangku untuk makan malam. Aku harus memenuhi undangannya. Aku tidak mau membuatnya kecewa!" seru Sabrina.
"Astaga! Kau ini keras kepala sekali!" Kembali nada bicara Artur semakin meninggi.
"Apa yang salah? Kau saja keras kepala! Bukankah aku hanya mengatakan dengan jujur jika ayahmu itu tampan? Seharusnya kau senang kan? Karena ada yang memuji ayahmu!" Sabrina mendengus kesal.
"Astaga mulutmu itu! Apa kau tidak tau, jika lelaki tampan itu seperti ular berbisa?" tanya Artur yang tidak ingin mengalah.
"Idih, jangan sok-sok an pakai peribahasa! Yang jelas, ayahmu itu tampan! Kau jangan banyak omong lagi, Artur! Heran, ayahnya tampan tapi anaknya jelek!" seru Sabrina.
"Oh, jadi aku ini tampan?" suara seorang lelaki yang tiba-tiba muncul diambang pintu mengagetkan keduanya.
__ADS_1
"Oppa tampan!" desis Sabrina tanpa sadar.