Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Luka Dua Hati.


__ADS_3

Maaf jika beberapa hari ini aku gak up ya. aku lagi sakit. benjolan tumor jinak di belakang telingaku tumbuh lagi dan posisi aku kehabisan obat. besok mutiara tamat ya kurang 4 bab lagi.


*****


Kini keduanya saling menegang menatap satu sama lain. Cinta yang ada di hati mereka berdua entah bagaimana. Tidak ada yang tahu sekuat apa cinta di dalam diri mereka masing-masing. Namun dihati Elena, cintanya maaih berkobar untuk Rendy. Meskipun lelaki itu sepertinya salah paham padanya. Biarlah, nyawa Lady lebih penting dari apapun.


"Aku hanya ingin memastikan, apa yang kau katakan padaku itu bohong atau hanya bualanmu saja," ucapan Rendy membuat Elena yang termenung segera tersadar. Gadis itu masih membisu setelah ucapan penyambutan yang dia lontarkan.


"Apa maksudmu?" tanya Elena dengan raut yang tidak terbaca.


"Jika kau mencintaiku. Aku rasa kata-katamu itu hanyalah bualanmu saja. Nyatanya kau berdiri di sebelah yang lainnya. Menandakan jika kita adalah musuh," kata-kata Rendy begitu menghujam hati Elena.

__ADS_1


"Lalu apa maumu?" tanya Elena. "Jika kau berani maju selangkah, aku juga bisa menghabisimu."


Rendy memberikan sebuah isyarat kepada Kei. Lelaki itu menganggukkan kepala dan seperkian detik berikutnya, terdengar bunyi dentuman yang sangat keras. Kedua netra mata Elena melebar. Bukankah itu tempat dimana maminya berada? Bukankah disana juga ada Lady yang sedang dipenjara?


"Sialan! Apa yang kau lakukan?" geram Elena sembari mengeratkan lehernya.


"Menghancurkan tanpa batas!"


Deg.


"Orang-orang disini tidak bersalah. Berhentilah menyakiti orang yang tidak bersalah," ucap Elena mencoba menenangkan emosi Rendy.

__ADS_1


"Lalu bagaimana aku? Tapi baiklah, bagaimana jika kita bermain? Kau bawa katana milikmu, aku membawa katana milikku. Kita buktikan, siapa yang harua bertahan. Jika aku kalah, aku akan menyerah. Jika kau kalah, maka aku akan menghancurkan tempat ini hingga tak bersiasa." Seringai senyum licik bertengger di bibir Rendy.


"Aku tidak setuju. Jika kau menang, jangan hancurkan tempat ini. Tetapi cukup kau ambil nyawaku saja." Elena menjawab dengan penuh ketegasan.


Biarlah, aku mengakhiri hidupku sekalipun. Aku sudah tidak memiliki tempat untukku pulang. Yang jelas saat ini, Lady bisa lolos. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Kata Elena dalam hati.


"Baiklah, ayo kita mulai. Jangan membuang waktuku!"


Dengan emosi yang membara, Rendy segera melesat menuju Elena berdiri. Kini keduanya saling mengayunkan katana (Pedang) bahkan mengarahkannya ke leher masing-masing dari mereka. Semua anak buah Rendy dan anak buah Elena hanya bisa mematung sembari menyaksikan dua ketua geng mafia terhebat seantero London.


Hingga berada di satu titik, Elena dapat menangkap raut wajah kekecewaan yang mendalam. Dengan sangat mantap dan penuh tekad berikut dengan kekecewaan yang kian menjalar di hatinya, Rendy menghunuskan katana kearah Elena. Begitu pula dengan Elena yang menghunuskan katana ke arah Rendy.

__ADS_1


Saat katana milik Rendy mengarah tepat di dada Elena, Elena membalikkan arah katana milik dirinya. Tepat, kedua katana itu menancap telak di dada Elena. Rendy yang menyadari Elena tak menghindar saat dirinya mengarahkan katana itu ke arahnya cukup terkesiap kaget. Ditambah Elena yang memutar ujung katana itu mengarah pada dirinya sendiri. Apakah itu berarti Elena tak ingin dirinya terluka? Apakah itu artinya Elena mencintainya?


Kini dua hati tengah berada di jalan lara. Mengoyak asa dalam jiwa. Elena roboh bersimbah dengan darah yang kian menggeluti tubuhnya. Tanpa beban dan tanpa harapan. Bersamaan dengan kekecewaan yang meruntuhkan kepercayaan dan komitmen keduanya. Elena yang tersenyum, membuat hati Rendy terasa tercabik, terkoyak, namun tetap saja tak mampu mengembalikan Elena dalam kesadarannya.


__ADS_2