Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 333. William Salah Tingkah


__ADS_3

Dua minggu berlalu, pada akhirnya Sabrina telah masuk ke kampus baru. Begitu pula dengan Artur. Seperti biasa, mereka akan sarapan bersama. Namun, selama dua minggu tersebut, William merasa Sabrina menjauh.


"Apa Sabrina akan menghilang kembali?" Batin William bertanya-tanya.


Pria itu keluar dari kamarnya. Meskipun belum waktunya untuk berangkat bekerja, entah mengapa pria itu penasaran untuk melihat gerak gerik Sabrina.


"Selamat pagi, Uncle!" sapa Sabrina.


William mematung. Sabrina begitu cantik dengan dress selututnya. Memang sederhana, tetapi jika dilihat lebih lekat lagi Sabrina sangat menawan. Dipadu dengan sepatu flat berwarna putih. Rambut hitam Sabrina tergerai indah. Menampakkan pesona gadis itu. Mata William mengerjap berulang kali. Menyadari pesona seorang gadis yang tergila-gila padanya.


"Hem." William enggan menjawab. Pria itu memilih mendudukkan bokongnya di kursi.


"Bri, aku nebeng mobilmu ya?" pinta Artur.


"What?" Sabrina terkesiap. "Emang, motor kamu kenapa?"


"Kita toh satu kampus. Lebih baik berangkat bersama kan?" ucap Artur tanpa beban.


"Sekalipun kampus kita sama, kita mungkin saja beda jurusan!" sentak Sabrina.


"Maaf, Sabrina. Tapi Artur satu kelas denganmu. Dia juga masuk ke jurusan bisnis. Kau tidak keberatan bukan? Hanya sekedar memberikan tumpangan?" kata William.

__ADS_1


Mendengar William yang berbicara, wajah Sabrina berubah. Gadis itu menganggukkan kepala sembari memberikan senyuman manis. Meskipun hatinya dongkol, tetapi ia juga tak ingin menjadi galak di depan William.


"Okay, no problem. Asal dia tidak mengotori mobilku," sahut Sabrina. Gadis itu sedikit menaikkan gengsinya. Tidak mungkin terang-terangan mengiyakan kata-kata pria yang dicintai kan? Jangan sampai William besar kepala.


"Ingat harga diri, Sabrina! Kau hampir saja kehilangan kendali!" batin Sabrina mengingatkan dirinya sendiri.


William menganggukkan kepala. Tak bicara lagi, karena tak ingin Sabrina melihatnya salah tingkah. Hei, William sedang menahan detak jantungnya yang menggila! Sesekali pria itu meringis. Merutuki hatinya yang aneh beberapa waktu belakangan ini.


"Dengan Artur ada di satu kelas yang sama dengan Sabrina, Artur bisa mengamati gerak-gerik Sabrina. Jangan sampai Sabrina lupa statusnya saat ini. Argh! Tunggu, kenapa aku harus menekankan status Sabrina? Bukankah terserah Sabrina dia mau mengakui pernikahan ini atau tidak? Mengapa aku harus marah? Tidak, kurasa ini bukan marah. Aku hanya takut jika Sabrina mempermalukanku saja." William membatin gelisah.


"Eh, bocah! Ayo kita berangkat! Kau jangan membuang waktuku!" sungut Sabrina. 


"Apa ini?" suara William terdengar sedikit serak.


"Aku harus ingat statusku sebagai istrimu bukan?" balas Sabrina.


"Ehem." William berdehem lalu menyodorkan tangannya.


Sabrina lalu mencium tangan William layaknya seorang suami dan istri yang sebenarnya. Kemudian Sabrina mengulum senyuman seraya membalik tubuhnya dan berlalu meninggalkan ruang makan. Melihat Sabrina dan Artur yang telah raib, William menjatuh bobot tubuhnya di kursi. Pria itu memegang kembali dada bidangnya yang bertalu-talu layaknya genderang perang.


"Aku ini kenapa?" gumam William.

__ADS_1


Mobil milik Sabrina telah melaju. Di dalam mobil, Artur mencebikkan bibirnya ke arah Sabrina. Gadis yang duduk di sampingnya itu menyilang satu kaki dan bermain ponsel.


"Kau masih tidak berubah," sindir Artur. Tatapan penuh ejekan mengarah ke arah Sabrina. Gadis itu menoleh. Lalu terlihat sebuah senyuman sinis.


"What wrong?" tantang Sabrina. "Kurasa aku tidak perlu menjelaskan tentang diriku. Karena percuma saja penjelasanku, untuk orang sepertimu. Orang yang memiliki hati buruk, pasti akan selalu berfikir buruk tentang seseorang. Kalau begitu aku juga bisa bilang, betapa piciknya pikiranmu terhadapku. Memang benar, jika kau adalah orang yang picik. Yah, tidak berubah bukan dari Artur yang dulu dan Artur yang sekarang?"


Artur tak mampu membalas kata-kata Sabrina. Bisa saja Artur yang tersulut emosi itu membalas sindiran pedas dari Sabrina. Akan tetapi mengingat kelakuan itu, bisa mengancam William, akhirnya Artur hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Menahan gemuruh di dalam dada.


Sabrina tersenyum sinis. Memang, ia tak akan memberikan celah lagi kepada Artur untuk bisa menginjak harga dirinya. Yang terpenting, di hadapan William Sabrina adalah gadis yang polos dan lugu. Gadis yang menyenangkan dan selalu ceria. Tetapi sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang sesungguhnya.


"Darren, kau nanti tunggu di dalam mobil saja. Atau kau bisa pergi ke kantin. Tugasmu hanya menjagaku kan? Tapi tetap ya, kau harus menjaga jarak denganku," ucap Sabrina.


"Tapi, Nona Sabrina. Saya harus menjaga Anda kemanapun Anda pergi," sahut Darren.


Sabrina memutar kedua matanya kesal. "Turuti saja apa kataku! Aku tidak ingin dianggap aneh."


"Ck! Kau kan memang aneh. Apa kau baru menyadarinya?" ejek Artur.


"Artur, jaga lidahmu. Jangan sampai aku kesal dan memotong lidahmu. Sekali dua kali, aku bisa mengampunimu. Tapi, jika kau kelewat batas tentu aku tidak akan tinggal diam. Sekalipun kau anak dari Uncle William. Kau pasti tidak lupa akan penghinaanmu terhadap harga diriku terakhir kalinya bukan?" ancam Sabrina. Artur tersentak seketika. Pria itu tak menyangka jika Sabrina akan mengancamnya dengan ancaman yang menakutkan.


Sabrina mengikis jarak antara dirinya dan Artur. Bahkan Artur bisa merasakan deru napas dari Sabrina. "Apa kau tidak tahu? Kau sangat menjijikkan, Artur."

__ADS_1


__ADS_2