
"Baiklah saya akan memberi Anda waktu satu Minggu. Saya akan kembali datang kemari untuk mendapatkan jawaban memuaskan. Kalau begitu saya permisi." Dion berpamitan karena dirasanya istri Marzuki memang tak memiliki hak untuk memberikan jawaban padanya. Dengan dia memberikan waktu untuk keluarga itu berpikir mungkin mereka akan membicarakan hal itu lebih lanjut. Terutama masalah harga yang dia tawarkan tiga kali lipat. Perempuan itu mengangguk. Dionpun kemudian berlalu meninggalkan kediaman Marzuki yang hanya dihuni oleh istrinya dan beberapa pelayan saja.
"Aku harus hubungi papa." Dia kemudian mengambil handphone miliknya. Menelpon suaminya untuk memberikan kabar yang mengagetkan itu. Bagaimana tidak kaget mereka bahkan tak pernah membicarakan akan menjual kebun teh itu. Dan lagi orang tak dikenal itu menawarkan harga yang cukup fantastis.
Tut Tut telpon tersambung. Klik.
"Halo pa." Lili memulai pembicaraan dengan tergesa-gesa.
"Ada apa ma? Papa masih belum bisa pulang."
"Bukan itu pa mama mau bilang tadi ada orang yang kesini mau beli kebun teh kita. Mama gak kenal sama dia. Tapi dia tiba-tiba datang dan bilang mau membeli kebun teh kita."
"Heh... Papa kan gak bilang akan jual kebun teh kita itu !!! Kenapa malah membiarkan orang asing datang kerumah? Papa disini sibuk !! Bukan keluyuran gak jelas ma !! Sudahlah jangan cari alasan-alasan yang gak masuk akal. Lagian kita kan gak sedang butuh duit banget kan? Perusahaan papa yang ada disitu kan masih jalan !! Walaupun kecil. Gak mungkinlah mama kelaparan !! Sudahlah jangan bicara yang gak jelas."
__ADS_1
"Tapi pa. Dia menawarkan harga besar. Mama bingung. Mama gak tau dia dengar dari siapa kalau keluarga kita punya kebun teh luas. Mama gak kasih jawaban apa-apa sama dia. Dia bilang mau datang kembali kerumah kita satu Minggu lagi."
"Harga besar?" Marzuki mengernyitkan dahinya. Seberapa besar memangnya. "Jangan percaya dengan omong kosong itu !!"
"Mama gak tahu pa. Yang jelas dia menawarkan harga tiga kali lipat dari harga yang seharusnya begitu dia bilang."
"Apa? Tiga kali lipat?!!" Mata Marzuki melebar mendengar harga yang dinego orang tak dikenal itu. Memang Marzuki adalah tipe orang yang serakah.
"Iya pa. Makanya mama tanya papa dulu. Nanti kalau Minggu depan dia kembali mama akan menolaknya..."
Kalau aku menjual kebun teh dengan harga begitu mahal bisa kubelikan lagi kebun teh dengan luas yang sama lalu aku bisa mendapatkan keuntungan 2 kali lipatnya bukan. Hihi
"Begitu ya pa. Yasudah kalau gitu sewaktu dia kembali seminggu lagi mama akan bilang ya. Yasudah pa. Kalau papa sibuk nanti mama telpon lagi."
__ADS_1
"Eh eh... Tunggu. Mama gak minta nomor orang itu?"
"Enggak pa." Lili menggigit bawah bibirnya. Pasti suaminya marah mendengar hal itu.
"Dasar bodoh kamu Lili !!! Gimana bisa kamu biarkan mangsa didepan mata kamu kabur ?!!! Gimana kalau dia gak kembali lagi? Ahhhh apa gunanya kau meneleponku sekarang hah!!! Dasar istri tak berguna !!! Aku akan pulang 5 hari lagi untuk menunggu orang itu !!! Jangan pernah meneleponku kalau bukan keadaan genting !!!" Marzuki mematikan telponnya. Terdengar rentetan umpatan yang dia lontarkan untuk istrinya itu. Ya..... Lili istrinya memangg cantik namun dia tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga dirumah Marzuki. Dan yang memegang kendali rumah tangga mereka adalah Marzuki. Laki-laki yang serakah. Menikahinya hanya karna cantik dan memiliki kebun teh dengan luas 10.000 hektar. Marzuki saat itu hanya memiliki sebuah perusahaan kecil.Namun sekarang Marzuki bahkan memiliki saham 7 persen di perusahaan Wijaya yang artinya dia memiliki harta yang lumayan. Namunyang mesti diingat adalah diatas langit masih ada langit. Marzuki yang didesanya terkenal sebagai orang kaya. Namun jika sudah kekota besar seperti kota J maka kekayaaannya bukanlah apa-apa.
"Ha.... Gimana ini." Monica menarik nafas berat. Kemudian mendaratkan sebagian tubuhnya diatas meja.
"Kenapa Mon? Bukankah kamu tak ada masalah selama ini?" Tanya Ani. Mendengar Monica mendesah gelisah.
"Gak ada masalah gimana ? Ini masalah."
"Masalah apa mon? Kamu kan pintar aku yakin desainmu pasti terbaik disini. Beda denganku. Otakku sudah berhenti bekerja empat tahun yang lalu. Aku harus berusaha keras untuk mendapatkan hasil yang baik. yah meskipun bukan yang terbaik sepertimu."
__ADS_1
"Hah... Apa sih an? Bukan itu yang jadi masalah. Aku gak punya mesinnya dan kamu tahu kalau beli pun harganya juga gak murah. Dan dosen cuma ngasih waktu satu bulan saja. Aku bahkan buat uang jajan sendiri harus kerja part time." Mimik wajah Monica berubah suram. Ani tahu tugas ini memang membuat Monica sedikit tertekan.