
Kemudian Ardan dan Kevin masuk dalam pertempuran sengit itu. Agnes yang masih dalam keadaan terluka pun tak ambil pusing dengan keadaannya. Rasanya gadis itu entah melompat menendang dan memukul masih seperti biasanya. Hanya saja tenaga didalam tidak seperti saat dia masih sehat.
Ruangan yang cukup terbuka. Namun jika menggunakan senjata api hanya akan menambah korban tak bersalah. Begitu pikir Ardan. Namun sialnya kepalanya yang masih pusing itu menjadi kendalanya untuk berkonsentrasi penuh. Hingga pada akhirnya seseorang hendak menikamnya dari belakang. Kevin yang melihatnya segera mendorong Ardan kesamping. Namun naas tak bisa berpaling, lengan Kevin pun terlanjur mengucurkan darah segar. Laki-laki itu meringis dan segera memberikan tendangan.
"Kampret !! Kenapa saat seperti ini rasanya gue mau mati," nafas Ardan tersengal-sengal jangan lupakan tangannya yang sudah memegangi kepalanya. Seperkian detik berikutnya Ardan menyadari bahwa lengan Kevin berdarah.
"Loe nggak apa-apa?"
"Masih bisa bertahan. Hati-hati Smith belum keluar jangan sampai kita sudah hancur lebur duluan," Kevin menepuk bahu Ardan. Memberikan semangat untuk laki-laki yang tengah pucat pasi tersebut.
Terlihat kedua orang kaki tangan Ardan berkumpul diruangan yang sama dengannya. Sepertinya sudah berhasil mengendalikan ruangan sebelumnya. Dengan keberadaan dua orang itu Ardan dan Kevin kembali menerobos masuk keruangan selanjutnya.
Dan di sanalah Smith sudah duduk dengan angkuhnya. Disisi kiri dan kanannya sudah ada bawahannya yang setia kepadanya. Dia tersenyum licik. Jika boleh jujur laki-laki itu masih dalam pikiran yang kacau. Pikirannya mengarah pada sosok gadis dengan netra meta biru. Bersamaan dengan kalung yang sudah didesain khusus dan hanya ada satu didunia.
__ADS_1
"Selamat datang keponakanku," Smith tergelak. Namun tatapan tajam dari Ardan membuatnya bergidik ngeri. Laki-laki itu masih sama ketika terakhir mereka bertemu. Mata elang yang seakan menusuk sanubarinya.
"Sudah cukup basa basinya paman !! Kembalikan Rianna !!" teriakan Ardan menggema di seluruh ruangan.
"Hahaha jangan konyol keponakanku. Aku sudah bersusah payah hingga detik ini," seringai mengerikan kembali terpampang disudut bibir laki-laki paruh baya itu. "Kalau kau berhasil mengalahkan semua anak buahku yang berada disini. Hahahaa..."
"Brengs** kau !! Paman bajing**. Bagaimana bisa harta membuatmu tidak waras begini?!"
"Sayangnya uang tidak dapat membeli sebuah kesetiaan," ucapan singkat Ardan mampu menohok jantung Smith.
"Apa kau yakin? Hahaha aku bukan bocah ingusan seperti kalian. Sayangnya kalian akan babak belur sebelum menghancurkan aku,"
*Sial disini paling tidak ada tiga puluh orang. Mana mungkin kami bisa menghabisi mereka dengan keadaan pincang begini. Aku mungkin masih memiliki stamina. Tapi lihatlah Ardan. Dia seperti mau mati untuk membawa tubuhnya sendiri saja. Kalau begini kita sudah kalah telak.
__ADS_1
Sial kenapa ruangan ini berputar sih. Rasanya pengen muntah*.
Sesaat Smith menggerakkan tangannya. Menandakan pertempuran sudah dimulai. Mereka semakin mendekat. Sedangkan Ardan dengan tangan yang masih memegang erat jaket Kevin itu membungkukkan badannya. Kepalanya benar-benar berat.
"Kampret lu ndro !! Elo ngajak kesini malah teler begini !! Yalord kita sepuluh menit juga udah mampu*," cerocos Kevin laki-laki itu sudah sangat kesal. Bagaimana bisa mereka berkelahi berdua saja sedangkan pihak musuh ada lebih dari tiga puluh orang.
Namun saat mereka sudah memasang kuda-kuda untuk sebuah pertempuran sebuah suara tembakan beruntun terdengar. Itu bukan berasal dari ruangan yang sama dengan Ardan. Namun ruangan yang berada dibawah tanah itu. Mata Smith tiba-tiba melotot. Tubuhnya bergetar hebat. Dia teringat sesuatu. Keringat dingin keluar dengar begitu derasnya. Segera laki-laki itu melesat pergi meninggalkan Ardan dan Kevin bersama dengan tiga puluh orang yang siap bertempur.
Gadis itu !! Tolong...aku belum menemukan kebenarannya. Rintihan suara hati Smith seakan menghujam didadanya. Dia teringat Rangga sang eksekusi. Begitu sampai ditempat yang diketahui sebagai sumber suara tembakan itu, matanya menatap sosok yang sudah menggantung ditiang dengan aliran darah yang menetes. Dengan tangan terikat dan dua luka tembak bersarang ditubuhnya. Entah kenapa matanya menatap nanar sosok itu.
💞💞💞
Mau lanjut lagi malam ini? Kasih komen !! like dan vote.
__ADS_1