
Pantengin novel ini terus ya. Sebentar lagi pengumuman Pemenang novel Elegi Buana yang terakhir.
Semuanya saling pandang. Tak ada yang berani bersuara. Terlebih, mereka tahu siapa keluarga Wijaya. Suasana kini berubah tegang. Sabrina membuka kacamata hitamnya. Lalu mengulum senyuman termanisnya.
"Keluarga Wijaya juga akan ikut andil dalam perusahaan Xander Grup nantinya. Lalu, beritahu saya. Perusahaan mana yang menurut kalian bisa saya akuisisi?" tanya Sabrina.
"Anda ingin membeli perusahaan?" tanya seorang pria muda.
"Anda siapa? Tentu saja. Saya ingin bertanya, siapa di sini yang memiliki nama Tuan Ozi?" Sabrina mengedarkan pandangannya.
"Saya, Nona Sabrina. Ada apa?" tanya Tuan Ozi. Pria yang masih tampak muda.
"Kudengar, Anda membutuhkan dana besar untuk perusahaan Oz Grup?" Sabrina menyeringai. Menampakkan giginya yang berderet putih dan rapi.
Tuan Ozi membisu. Tebakan Sabrina tepat sasaran. Wajah pria itu tampak memerah. Ia hendak memberikan Sabrina pelajaran. Akan tetapi niat itu hanya tinggallah niat. Mengingat, apa yang telah dilakukan oleh gadis itu sebelumnya.
"Benar. Dari mana Anda mengetahuinya?" tanya Tuan Ozi.
Sabrina tersenyum manis. "Gampang. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh penerus Rendy Saputra Wijaya. Aku berikan penawaran. William akan mengambil alih perusahaanmu. Aku berikan suntikan dana di perusahaan indukmu. Hanya sebuah perusahaan kecil. Aku berikan kau keuntungan lebih besar."
__ADS_1
William menatap tak percaya pada sosok Sabrina. Bukankah itu malah merugikan? William mengamati Sabrina dengan lekat. Gadis itu masih saja tenang dan santai. Entah apa yang dipikirkannya.
"Ben!" panggil Sabrina.
Sesosok pria muda nan tampan dengan tatto yang memenuhi kedua lengannya, tiba-tiba telah berdiri tepat di belakang Sabrina. Membawa sebuah map coklat di tangannya. Pria bernama Ben memberikan map tersebut kepada Sabrina.
"Ini! Baca dan cermati apa yang saya tawarkan. Bila kalian setuju, tanda tangan di atas materai. Saya tidak akan memberikan kesempatan dua kali. Hanya mereka yang bisa mengetahui apa maksud dari penawaran, maka tanpa berpikir dua kali ia pasti akan menerima tawaranku." Sabrina tersenyum angkuh.
Gadis itu memberikan map kepada orang-orang yang namanya tertera di setiap map coklat itu. Semua orang menerima dengan tatapan bingung dan penasaran. Begitu pula dengan William dan Artur. Keduanya tidak memahami apa maksud dari sabrina.
"Kerugian apa yang akan aku dapatkan? Sedangkan aku bisa membobol data suatu perusahaan dengan mudahnya. Dasar, manusia serakah! Aku melakukan ini untuk mendapatkan sekutu. Dalam keterpurukan Uncle William, hanya sekutu yang setia bisa menemaninya. Aku yakin, kejadian itu pasti ada sangkut pautnya dengan dunia mafia. Sepertinya, mereka mengetahui sesuatu tentangku. Huh, aku sepertinya harus bertindak lebih kejam lagi! Beraninya mengusik suamiku!" batin Sabrina.
"Benar. Tuan William pasti bangga memiliki wanita hebat seperti Anda di sisinya. Well, saya kaget. Mengapa anda memiliki perusahaan yang bahkan tidak diketahui oleh publik?" tanya tuan Ozi.
Sabrina menarik senyuman seringai. "Aku sudah memilikinya di usia muda. Papa memberikan banyak hal. Begitu pula dengan mamaku. Tidak mungkin aku berkoar-koar tentang apa yang aku miliki. Jika aku tiba-tiba terjatuh, bukankah itu terasa menyakitkan?"
Di dalam mobil, William melirik bingung ke arah Sabrina. Gadis itu memiliki segalanya. Entah mengapa menimbulkan rasa malu di hatinya. William tak menyangka, jika apa yang dikatakannya tempo hari tentang perusahaannya yang kecil, adalah kebenarannya.
"Jangan dipikirkan. Itu hanya akan menambah bebanmu saja. Yang terpenting, mereka tidak menarik investasi di perusahaanmu. Lagipula, perusahaanku juga tak pernah aku tengok. Uncle bisa ke sana untuk sementara waktu. Setidaknya, perusahaan Uncle masih aman. Hanya libur dua bulan. Itu bukan hal besar. Masalah di baliknya, itu yang harus kita pikirkan," kata Sabrina memecah keheningan.
"Maafkan aku. Aku pria tidak berguna," gumam William.
__ADS_1
Artur terdiam. Hatinya ikut pilu, merasakan sakit saat melihat sang ayah tercinta putus asa. Pria muda itu semakin menyesal akan sikapnya yang selalu memusuhi Sabrina. Justru orang yang ia rendahkan itu, kini tengah mati-matian membantu menyelamatkan perusahaan peninggalan ibundanya.
"Jangan meminta maaf. Aku bukan Tuhan," celetuk Sabrina.
"Sabrina, pria tadi siapa?" tanya Artur. Mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Satu pengawalku setelah Darren. Dia kaki tanganku," jawab Sabrina dengan enteng.
"Itu tadi, bagaimana bisa kau memiliki sebuah pistol?" tanya Artur.
"Oh, setiap keturunan Wijaya pasti memilikinya. Mengingat, banyak yang ingin mendapatkan kami untuk mengambil kesempatan. Makanya, di sekolah aku hanya menjadi gadis biasa. Jika aku menjadi sosok dari keturunan konglomerat, coba pikirkan. Seberapa rumitnya hidupku, ketika harus menghindari atau bersembunyi dari para penjahat," papar Sabrina.
Hening melenggang. Artur dan William tak berani membuka suara. Apa yang dikatakan oleh Sabrina memang kenyataan. Sabrina di sekolah bagai gadis biasa dan sederhana. Begitu pula di depan teman-teman sekolah Artur. Semuanya memandang Sabrina sebelah mata, karena mengira ia anak keluarga miskin. Padahal, kekayaannya ada di mana-mana!
Setelah sampai di rumah, Sabrina melesat begitu saja menuju kamar. Ia malam ini harus segera bertindak. Sabrina tak bisa lagi membuang waktu. Gadis itu dengan cepat berganti baju.
"Sabrina, kau mau kemana?" tanya William.
Saat pria itu baru saja membuka pintu kamarnya. Kedua mata pria itu meneliti penampilan Sabrina yang lagi-lagi terbuka. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Entah mengapa ada perasaan yang membara di hatinya. Terlebih, mengingat mata para investor yang liar saat pertemuan tadi.
__ADS_1