
"Wah, aku tak percaya ini. Apa benar Sabrina termasuk keluarga Wijaya?" celetuk Justin.
Semua teman-teman Sabrina yang datang telah duduk. Mereka duduk karpet yang telah digelar. Sebenarnya Sabrina enggan untuk menampakkan diri. Akan tetapi mengingat niat baik mereka, Sabrina memilih urung. Toh yang dibutuhkan oleh Alm. Ardan adalah do'a. Untuk itulah Sabrina mempertimbangkannya. Sabrina bersyukur. Hanya hitungan jari saja yang hadir.
"Kenapa kau tidak pernah jujur?" Lexi membuka suara. Ia begitu malu dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Sabrina.
"Kenapa aku harus mengatakannya? Aku rasa tidak perlu." Sabrina menjawab acuh. Entah mengapa akhir-akhir ini menjadi sedikit sensitif. Ia juga masih kesal terhadap William.
"Honey, ternyata kau di sini? Sudah makan?" William menegang. Karena ia hanya terfokus pada Sabrina, William tak menyadari tema-teman Artur dan Sabrina ada di sana.
Lexi, Justin, dan Dixton tampak melotot mendengar William memanggil Sabrina dengan panggilan honey. Beruntung, para dosen memilih duduk berdekatan dengan para orang yang lebih tua. Kini pandangan teralih pada sosok William. Terlebih William memanggilnya dengan nada yang lembut. Artur hanya mampu menghela napas. Ia paham jika ayahnya sedang menciut nyalinya. Dari gerak-gerik saja Artur bisa melihat dengan jelas. Jika Sabrina masih saja kesal dengan William. Entah masalah keduanya apa.
__ADS_1
"Gaes, aku pergi sebentar. Nanti aku kemari lagi." Sabrina bangkit.
Namun saat Sabrina belum berdiri senpurna, ia sedikit limbung. Kepalanya terasa berputar. Dengan sigap, William menangkap tubuh Sabrina. Lalu menggendong Sabrina. Pria itu mengabaikan banyak mata yang menatap interaksi keduanya.
"Mau kemana, Honey?" Suara William terdengar panik.
Sst. Aku tidak apa-apa. Bawa aku ke belakang sebentar. Aku lupa belum sarapan." Suara Sabrina terdengar manja. Membuat yang ada di sana semakin bingung.
"Apa aku saja yang butuh penjelasan?" Lexi melirik Artur.
"Jangan bertanya apapun padaku. Semua orang punya alasan masing-masing. Kalian sudah dengar sendiri kan? Jika Sabrina akan menjelaskannya? Sudah, jangan bahas itu." Artur memilih bungkam. Tak ingin mendahului Sabrina.
__ADS_1
"Sabrina. Kenapa aku merasa kau memiliki hubungan yang cukup dekat dengan ayah Artur? Apakah itu alasan kenapa kau menjauhiku? Sakit. Hatiku terasa sakit sekali. Kenapa? Baru kali ini aku gagal mendapatkan wanita. Bahkan gadis itu sangat berbeda dengan gadis-gadis zaman sekarang. Ah, malangnya kau Lexi." Lexi membatin sendu.
"Aku akan menghargai keputusan Sabrina," ucap Justin dengan mantap.
"Kurasa aku juga akan menunggu Sabrina menjelaskan. Aku tidak ingin berpikiran jelek. Masalahnya, Sabrina kan gadis yang lurus-lurus saja," timpal Dixton.
"Lurus? Hmm. Aku tidak yakin. Aku bahkan tidak yakin diriku masih lurus saja. Rasanya seperti mimpi. Tapi aku bersyukur. Di sini, aku mendapatkan kasih sayang dan tak pernah kesepian. Memang pantas keluarga Wijaya melegenda," gumam Artur dalam hati.
Di sisi lain, Sabrina menikmati bubur ayam hangat. Raut wajah yang tadinya pucat kini berangsur merona jingga. William tersenyum simpul melihat ulah Sabrina. Gadis itu sangat apa adanya. Tidak ada perihal jaga image ataupun sok cantik.
"Ternyata bahagia itu sederhana. Melihat dia makan lahap saja, membuat hatiku menghangat." William membatin bahagia.
__ADS_1