
"Kudengar ada yang memasuki rumah. Takut jika ada hal-hal yang tidak diinginkan," ucap William.
Terlihat Sabrina menganggukkan kepalanya perlahan. Tatapan William mengunci sosok pria muda yang berdiri tegak di samping Sabrina duduk. Sabrina yang memahami tatapan William, segera membuka suara.
"Dia orang yang ditugaskan papa untuk menjagaku. Kuharap, tidak akan membuat Uncle terusik. Namanya Darren, usianya 25 tahun," kata Sabrina memperkenalkan sosok pria tampan yang menjadi bodyguardnya.
William mengangguk. Meskipun ia sendiri merasa tidak nyaman ada pria yang akan sering di samping Sabrina. Tak lama kemudian, Ryu telah menyusul di ruang tamu.
"Baiklah. Terima kasih, Uncle. Darren, kau pergilah. Bibi akan membawamu ke kamar barumu. Terima kasih ya, sudah membantuku." Sabrina tersenyum.
Pria bernama Darren mengangguk. Lalu membungkukkan badannya di depan Sabrina dan mengikuti Bibi Rosi membawa dirinya. Kini di ruang tamu hanya ada Sabrina dan William. Situasi semakin canggung.
"Em, Uncle. Aku ke kamar dulu. Aku lelah. Sampai jumpa, Uncle!" Sabrina menyeret langkah kakinya. Menuju lantai 2 di mana kamarnya berada.
William mematung. Menatap punggung Sabrina yang perlahan menjauh. Bahkan sikap Sabrina begitu dingin padanya. Di belakang William, Ryu nampak bingung. Sikap William begitu aneh tatkala bertemu dengan Sabrina. Padahal sebelumnya, William begitu keras kepala. Mengapa sekarang mendadak William terdiam? Sungguh Ryu bingung. Terlebih, ada banyak pekerjaan yang juga menanti William di kantor.
"Kenapa aku merasa Sabrina berubah?" batin William.
__ADS_1
Pria itu justru menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa. Sesekali William menyugar rambutnya dengan telapak tangannya. Ryu menyadari jika William tengah gusar. Akan tetapi, Ryu tak berani membuka suara. Mengingat ia sendiri juga sudah berkali-kali disemprot oleh sang majikan.
"Ayah pulang?" sebuah suara dari putranya menyadarkan William.
"Oh, Artur. Kau pulang?" bukannya menjawab, William justru bertanya.
"Em, iya. Ayah sudah pulang? Bukankah ini masih jam 2 siang?" tanya Artur. Bocah remaja itu masuk ke dalam rumah. Terlihat ia masih memakai baju seragam. "Tumben sekali Ayah sudah berada di rumah."
William menganggukkan kepala. "Sabrina pulang. Jadi ayah pulang untuk melihatnya," ucap William.
Seketika tubuh Artur menegang. "Lalu, di mana dia?" Artur mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Nihil, tak mendapati sosok gadis yang membuat Artur resah.
"Ada apa dengan ayah? Mengapa sikapnya aneh? Apakah karena kepulangan Sabrina yang tiba-tiba?" tanya Artur dalam hati.
Ryu mengikuti jejak langkah kaki William. Keluar dari rumah tanpa mengatakan sepatah katapun. Artur hanya mampu menatap dua punggung kokoh yang berjalan keluar dari pintu. Lalu bocah remaja itu mengalihkan pandangan ke arah lantai dua. Di mana kamar Sabrina berada. Sebenarnya ia cukup penasaran, kemana gadis itu minggat. Sehingga membuat William begitu tertekan karena papa Sabrina.
"Lebih baik, aku mengamati keadaan dulu. Mengingat sekarang Sabrina baru saja pulang. Aku tidak tahu apa rencana busuknya. Tapi, jika dia kembali berulah, aku juga tidak akan tinggal diam. Sabrina!" Artur mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya penuh dengan kebencian.
__ADS_1
Senja telah berganti dengan pekatnya malam. William sudah bersiap hendak makan malam. Hari ini ia merasa ingin melihat wajah Sabrina. Apakah setelah sekian lama, ia merasakan kehadiran Sabrina yang telah memberikan warna pada hidupnya? Entahlah. Tetapi, hati William entah mengapa menjadi gelisah. Dengan cepat, William segera menepis rasa aneh yang ada di hatinya. Memilih berjalan keluar kamar untuk mengisi perut.
Namun, sampai di ruang makan justru langkah kaki William terhenti. Pria muda yang dibawa oleh Sabrina juga ikut duduk di kursi sana. Terlebih, posisi keduanya bersebelahan. Bahkan yang membuat hati William panas adalah, mereka seolah mengabaikan keadaan sekitar! William juga melihat Artur seperti sedang menahan emosi.
"Oh, Uncle!" Sabrina melambaikan tangannya ke arah William.
Hal Itu membuat Artur dan Darren menoleh. Mau tak mau William tersenyum. Lalu berjalan dengan santai ke ruang makan. Pria itu memilih duduk di samping Artur. Bibi Rosi telah memasak banyak sekali makanan. Terlihat dahi William mengerut heran.
"Hari ini Bibi Rosi memasak banyak sekali. Aku sangat rindu masakan Bibi Rosi," kata Sabrina memecah keheningan. Senyuman bahkan tersungging di bibirnya.
"Kupikir kau lupa rumahmu," celetuk Artur yang sudah tidak tahan lagi.
Sabrina tersenyum sinis. "Bagaimana mungkin aku lupa pulang? Besok aku harus ke sekolah. Bukankah sudah selesai liburannya? Aku tidak mungkin liburan dalam waktu yang lebih lama lagi," sahut Sabrina dengan santai.
"Kau liburan?" tanya William. Pria itu menatap tajam ke arah Sabrina.
Dengan cepat Sabrina menganggukkan kepala. "Iya. Karena aku sendirian, maka papa mengirim Darren untuk menyusulku. Kupikir aku juga harus sedikit membuang uang untuk mendinginkan kepalaku, atas kejadian terakhir kalinya di kantor Uncle," sindir Sabrina.
__ADS_1
Suasana yang sebelumnya canggung, kini menjadi suram dengan kata-kata yang dilemparkan oleh Sabrina. Bahkan William segera membuang wajahnya ke arah lain. Wajahnya memerah. Merasa tersindir dengan apa yang dilontarkan oleh Sabrina.