Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 50


__ADS_3

Ani kemudian secara perlahan memakai pakaian tidur yang telah disiapkan oleh Ardan. Laki-laki itu tetap berdiri didepannya tak bergeming bahkan bergerak satu centi meterpun tidak. Matanya melototi sang istri yang mengenakan pakaian tidurnya.


"Sudah mas." Ani kemudian berjalan menuju meja riasnya. Mengambil hairdrayer untuk mengeringkan rambutnya. Diliriknya sang suami menuju ranjang tidurnya. Merebahkan diri mencoba mencari posisi yang nyaman untuknya.


"Mas rambutnya masih basah Lo."


"Keringkan."


"Lah sini mas. Kalau disitu gimana bisa?"


"Malas."


Apa?


"Hah."


"Maksudku... Kamu yang kesini aku malas bangun.


Ani mencabut colokan hairdrayernya. Kemudian berjalan menuju tempat suaminya. Laki-laki itu tersenyum melihat kemolekan lekuk taubuh istrinya.


Dicolokannya hairdrayer itu kemudian diraihnya pelan rambut suaminya.


"Mas.... Sabtu mas Ardan kerja gak?"


"Kenapa?"


"Tadi papi sama mami bilang pengen merawat Rendy disana. Katanya rumah sepi."


Ardan pun bangkit. Ditatapnya wajah sang istri. Mencoba mencari kebenaran disana.

__ADS_1


"Kamu yakin mau membawa Rendy ke rumah papi dan mami?"


"Iya mas. Apa yang kalian lakukan selama ini aku percaya kalau papi dan mami akan menyayangi Rendy tanpa pilih kasih."


"Kamu benar. Nanti aku lihat jadwalku. Kalau gak ada meeting penting aku akan menemanimu menjemput Rendy."


"Iya mas makasih ya." Ani kemudian melanjutkan pekerjaannya mengeringkan rambut suaminya.


Namun tiba-tiba....


"Sudah sayang." Ardan menghentikan tangan Ani.


"Iya mas." Dimatikannya pengering rambut itu. Kemudian saat hendak beranjak untuk menyimpan kembali pengering itu Ardan menahan tangannya.


"Ada apa mas?"


"Boleh minta satu kali lagi nggak?"


"Boleh .... Sebentar aku simpan dulu ini."


Setelah menyimpan pengering rambut itu. Ardan tiba-tiba menarik tangan istrinya direngkuhnya pipi istrinya kemudian memagut lembut bibirnya. Adegan panas untuk ronde kedua pun dimulai. Entah berapa ronde mereka melakukan adegan panas itu. Dan mereka berhenti saat jarum jam dinding menunjuk jam dua akhirnya mereka terlelap kealam mimpi masing-masing.


 


Monica pun mengulurkan surat lamarannya.


"Baiklah silahkan bekerja hari ini. Kamu akan dibimbing oleh Karin. Karin kamu bimbing dia. Aku percaya padamu." ucap Kevin sembari menerima surat lamaran Monica. Dia melirik senang karna disurat lamaran itu Monica mencantumkan nomor teleponnya.


*Setidaknya aku akan berjuang dulu semampuku. Kamu menerima aku atau tidak kita lihat saja nanti*.

__ADS_1


"Terima kasih pak Kevin." Monica dan Karin pun undur diri. Kevin masih menatap lekat punggung Monica sampai bayangan gadis itu menghilang dibalik pintu.


Karin membimbing Monica dengan cepat Monica dapat beradaptasi dengan pekerjaannya di cafe itu. Dia benar-benar bersemangat saat bekerja. Mungkin dia bahagia karna akhirnya dapat membantu perekonomian keluarganya.


Karin dengan sabar membimbing Monica dia tak banyak memberikan penjelasan karna Monica dengan cepat dapat melaksanakannya dengan tepat. Tanpa Karin harus mengulangi sekali lagi penjelasannya. Mungkin memang benar otak Monica encer.


Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam itu berarti para karyawannya pasti sudah bersiap-siap untuk pulang. Kevin pun berlenggang menuju ke depan. Dia mendapati karyawannya pulang satu persatu. Terlihat Monica dan Riko masih bersiap-siap akan pulang.


"Monica Riko aku pulang duluan ya pacarku sudah menjemputku." kata Karin dengan senyum manisnya. Menunjukkan giginya yang rapi dan bersih itu.


"Iya terima kasih ya atas bantuanmu hari ini." sahut Monica. Dia bersyukur Karin dapat membantunya dengan sabar. Setelahnya Karin melambaikan tangannya pada Monica dan kemudian berlalu meninggalkan cafe itu.


Riko menatap kepergian Karin nanar. Monica dapat menangkap tatapan mata dari Riko. Monica tahu bahwa laki-laki itu memiliki rasa untuk Karin. namun karna Karin sudah memiliki kekasih Riko hanya mampu melihat kepergian Karin dengan tatapan nanar. Sungguh memprihatinkan hidupnya. Batinnya.


"Ehemmmm..." Kevin berdehem. Membuat kedua karyawannya itu menoleh kearahnya.


"Eh bapak...." Monica rikuh tiba-tiba bos barunya itu melihatnya dengan tatapan penuh arti.


"Mas Kevin kalau gitu saya permisi dulu ya. Mau pulang. Ini sudah selesai kok beres-beresnya." Riko kemudian berlalu setelah mendapatkan anggukan dari kevin.


"Sa... saya juga mau pulang pak." Monica menyambar tasnya untuk pergi meninggalkan cafe. Dia harus segera pulang untuk jadwal bus terakhirnya.


"Tunggu."


"Ya?"


"Mau saya antarkan pulang?" Kevin bertanya dengan hati hati.


"Hah?" Monica mencoba mencerna perkataan Kevin.

__ADS_1


 


__ADS_2