
"Sayang," memeluk lembut suaminya dari belakang. Laki-laki itu masih memfokuskan pandangannya dengan sebuah laptop didepannya. "Masih pagi begini tapi kenapa mas Ardan sudah bekerja sih,"
"Kau sudah bangun sayang? Kau tadi masih tidur dan ini masih pagi. Aku melihat email yang masuk siapa tau ada yang penting. Selama ini pak Herman sudah bekerja keras menggantikan aku dan lagi ditambah pekerjaan Kevin. Karena Kevin akan mengambil cuti menikah aku harus kembali kekantor secepatnya sayang,"
"Besok Monica dan mas Kevin akan menikah mas. Aku mau memberikan hadiah untuk pernikahan mereka,"
"Kalau nanti kamu keluar ajak Jesslyn dan Lita sayang. Sepertinya mereka butuh sedikit suasana baru,"
"Sebenarnya hari ini aku ada jadwal kuliah mas. Apa mereka aku ajak ke kampus juga?"
Monica dan Agnes nggak bisa ngampus. Sepertinya memang lebih baik jika Jesslyn dan Lita yang menjaganya.
"Sepertinya itu ide bagus sayang. Biarkan mereka ikut denganmu ke kampus,"
"Tapi kasihan mereka mas jika harus nungguin diluar kelas nantinya mas. Aku hari ini ada kelas hingga jam 3 sore. Setelah itu aku baru akan pergi mencari hadiah untuk Monica,"
"Sebentar," Ardan melepaskan pelukan sang istri. Kemudian menyambar ponsel miliknya yang dia letakkan diatas nakas.
"Halo selamat pagi tuan muda,"
"Ya. Pak Herman urus Jesslyn dan Lita untuk masuk ke kampus dan kelas yang sama dengan istriku saat ini juga,"
"Hah? Bukankah jurusan nona muda jurusan desain? Rasanya berbanding terbalik dengan kemampuan mereka berdua tuan muda,"
"Sudah urus saja pak. Hari ini aku juga akan mulai ke kantor,"
"Baiklah tuan muda. Selamat pagi,"
"Hem," panggilanku berakhir. "Sudah sayang mulai hari ini Jesslyn dan Lita akan menemanimu,"
__ADS_1
"Baiklah mas. Terserah saja aku mau mandi dulu,"
Mariani mulai bangkit dari tempatnya. Saat kakinya mulai menjejakkan ke lantai tiba-tiba dia serasa terbang.
"Ah," Ardan sudah menggendongnya ala Bridal Style.
"Kita mandi bersama sayang,"
"Mas Ardan!"
Sesuai firasat Mariani. Laki-laki itu tidak akan hanya mengajaknya untuk mandi bersama. Pasti akan berakhir dengan aksi mesumnya. Ketika keluar dari kamar mandi Ardan sepertinya akan menyesal hari ini. Jika dilihat dari raut wajah istrinya, bisa diartikan sebagai kode dari rentetan nasib buruknya hari ini.
"Sayang," mulai menyadari sikap istrinya mulai dingin.
"Diam!"
"Ehm hari ini aku ingin sarapan sandwich isi daging sayang,"
Hening melenggang. Istrinya kini telah berganti dengan sebuah dress sepanjang mata kaki dengan warna putih. Menambah kesan anggunnya meski saat ini dirinya tengah hamil. Ardan menatap istrinya lekat. Saat ini Mariani tengah menyiapkan pakaian kerjanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Sayang, apa kau marah padaku?"
Bukannya mendapat jawaban namun Ardan mendapatkan tatapan tajam dari sang istri. Seakan kini dirinya tengah menghadapi seekor harimau betina.
Kenapa sekarang istriku sensitive begini? Ya Allah sepertinya aku benar-benar mengharapkan jika aku saja yang mengalami ngidam. Daripada istriku seperti ini. Rasanya emosinya berubah-ubah. Kadang manjanya minta ampun dan kadang seperti macan betina begini.
Kini istrinya berlalu meninggalkan kamar. Ardan seketika membuang nafas perlahan.
"Bahkan untuk bernafas didekatnya saja sangat sulit saat dia mengaktifkan mode macannya,"
__ADS_1
Segera Ardan memakai pakaiannya. Dan kemudian keluar kamar mengikuti jejak istrinya.
Entah apa yang terjadi, Ardan merasakan sesuatu yang sedikit mencekam.
Keempat anak buahnya, Kaisar, Jack, Jesslyn dan Lita berdiri dengan kepala menunduk. Seakan menjadi tersangka kembali. Ardan menautkan kedua alisnya. Istrinya itu tengah menatap keempat anak buahnya dengan tatapan yang tajam.
"Sepertinya aku benar-benar telah merusak moodnya pagi ini," gumamnya pelan. Ardan kini menarik sebuah kursi disamping tempat duduknya. Mereka saat ini berada di meja makan.
"Siapa yang mengatakan mas Ardan boleh duduk disini?"
Ardan menatap istrinya heran, sebuah kode dari istrinya menunjuk keempat orang itu dengan kepalanya. Apa maksudnya?
"Berdiri disana,"
"Hah?"
"Aku bilang berdiri disana. Apa mas Ardan mau membuat moodku berantakan lagi?" ucapan penuh tekanan dilontarkan Mariani. Kini sepertinya Ardan mengerti satu hal, mood istrinya sedang buruk.
Ardan melangkahkan kakinya. Semua menatap heran kearah Ardan.
Kenapa tuan muda ikutan disini?
Kelima orang itu kini menatap kearah Mariani yang berada di meja makan. Wanita itu tanpa rasa bersalahnya memasukkan sandwitch berisi daging itu kedalam mulutnya.
"Hei Jesslyn dan Lita! Kemarilah,"
Panggilan dari Mariani membuat kedua gadis itu mendadak takut.
Jika tuan muda saja harus tunduk dan patuh kepada nona muda, lalu bagaimana dengan kami berdua ini? Apa kami akan bernasib sial hari ini? Jesslyn menatap Mariani frustasi. Sebelum akhirnya kedua gadis itu berjalan mendekatinya.
__ADS_1