
"Aku tidak percaya ini," ucap Pak Krisna.
Benar. Sabrina telah berhasil menjinakkan b*m di saat hanya tersisa waktu 30 menit. Semua orang menatap tak percaya ke arah Sabrina. Begitu pula William dan Artur yang telah berfikir tentang kematian akan datang.
"Syukurlah. Kita terhindar dari kematian," pungkas Soni.
"Belum selesai. Kita harus keluar dari sini," tukas Sabrina.
Kembali, tubuh mereka menegang di tempat. Sabrina memundurkan langkahnya. Kemudian ia berlari kencang dan mengeluarkan tendangan taekwondo untuk membuka pintu. Tendangan Sabrina cukup kuat. Sayang, hasilnya nihil. Sepertinya pintu terbuat dari tembaga. Kini Soni mengambil alih. Pria itu mengangkat kursi dan membanting pada satu-satunya pintu yang ada di sana. Hasilnya pun sama. Nihil.
Wajah semua orang kini menjadi pias. Mereka mulai panik dengan keadaan yang mencekam ini. Sabrina berdiri mematung. Ia kembali memutar otaknya. Gadis itu menyipitkan kedua matanya. Berharap menemukan sesuatu. Ya! Sabrina menemukan gorden. Ia segera menarik gorden yang ternyata ada kaca.
"Syukurlah, kita berada di lantai satu!" jerit Sabrina dengan mata yang berbinar.
"Sayangnya, satu-satunya kursi telah lenyap, Nona. Kita tidak memiliki apapun," sahut Soni.
"Mundur," titah Sabrina.
Reflek, mereka semua mundur. Sabrina juga melakukan hal yang sama. Seperkian detik berikutnya, Sabrina berlari dan melemparkan tubuhnya menghantam kaca. Tak ayal menimbulkan suara pecahan yang nyaring di telinga. Melihat kelakuan Sabrina, William menjerit.
__ADS_1
"Sabrina!" pekik William.
Di sisi lain, Sabrina bangkit berdiri. Tampak di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka akibat pecahan kaca. Gadis itu mengulum senyuman. Seolah, tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Keluarlah. Sudah aman," ucap Sabrina.
"Aku tidak percaya ini," celetuk Krisna.
Pada akhirnya mereka semua keluar dari ruang pengendali sistem. Saat hendak melangkah, seseorang mencekal tangan Sabrina. Membuat gadis itu menoleh.
"Kamu ini kenapa nekat sekali?" tanya William. Raut wajah pria itu terlihat khawatir.
"Tidak apa. Yang penting kita semua selamat. Di sini cukup bahaya. Tutup perusahaanmu selama satu bulan ini. Mengingat, ada yang berniat meledakkan kantormu ini," jawab Sabrina.
Kata-kata William membuat Artur terdiam. Pria remaja itu mengepalkan kedua tangannya. Perusahaan itu adalah satu-satunya bukti perjuangan nyata ibundanya dan sang ayah. Tiba-tiba Artur bersimpuh di tanah. Membuat semua orang kaget.
"Sabrina. Aku minta maaf karena aku selalu memusuhimu. Aku berjanji, setelah ini aku akan menerima statusmu yang mendampingi ayahku. Tapi, bolehkah aku meminta bantuanmu? Bisakah kau membantu perusahaan ayahku? Aku meminta belas kasihmu, Sabrina." Artur memelas.
Sabrina melirik William yang juga tengah melirik malu ke arahnya. Sejenak, mereka semua terdiam. Menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh Sabrina.
__ADS_1
"Bangunlah," pinta Sabrina.
"Tidak! Aku tidak akan bangun, sebelum kau bersedia membantu ayahku!" sentak Artur.
"Artur bangunlah! Tanpa kau meminta, aku pasti akan mencari jalan keluar. Bangunlah, jangan begini," ucap Sabrina.
"Jalan keluar? Bukankah satu-satunya jalan keluar adalah membantu keuangan perusahaan ayahku? Aku tidak mau kehilangan milik ibundaku," lirih Artur semakin menyayat hati William.
"Maka dari itu, bangkitlah. Urusan perusahaan, itu gampang. Saat ini perusahaan harus ditutup selama satu bulan. Kemungkinan bahkan lebih. Ini bukan sesuatu yang bisa dengan mudah kita simpulkan. Semuanya hampir tak terlihat. Sekarang, kita pergi dulu dari sini. Biarkan ahli forensik yang mengotopsi jasad korban. Aku akan memberikan santunan besar untuk keluarga korban. Ayo, kita pergi," ujar Sabrina.
"Artur, berdirilah. Sabrina sedang terluka. Lebih baik kita obati dia dulu. Ryu ada di depan. Ayo, Nak." William menarik tangan Artur.
Kini semuanya dilimpahkan kepada para polisi dan jajarannya. Artur, Sabrina, dan William, memilih pergi dari lokasi kejadian. Mobil dikemudikan oleh Ryu. Di dalam mobil, Artur dan William diam-diam melirik Sabrina yang tampak sedang berfikir.
"Tuan Ryu, kita menuju kediaman papaku. Aku harus membicarakan sesuatu kepadanya," pinta Sabrina.
"Tidak, Sabrina. Kau tengah terluka. Bagaimana jika papamu menyalahkanku?" William takut jika Rendy akan menghajarnya.
"Turuti kata-kataku saja, Tuan Ryu. Kau tenang saja, Uncle. Papa tidak akan menyalahkanmu. Aku yakin papa sudah mendapatkan kabar tentang kejadian ini. Jadi tenanglah," sahut Sabrina.
__ADS_1
"Tapiā¦" William belum sempat meneruskan kata-katanya.
"Nanti malam, ajak para investor perusahaanmu untuk bertemu. Aku yang akan mengambil alih semuanya. Itupun jika kau setuju," potong Sabrina.