Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 373. Keluarga Idaman


__ADS_3

"Hai, Uncle! Sedang banyak kerjaan?" tanya Sabrina.


William menoleh. Sabrina kini berada di atas ranjang. Memang, dari tadi keduanya hanya membisu. Terlebih, William sedang bergulat dengan dua perusahaan baru.


"Iya. Maklum saja, istriku baru memberiku dua perusahaan baru. Tentu pekerjaanku bertambah banyak. Bagaimana kuliahmu?" William kembali menatap layar laptopnya.


"Aman! Istri? Kyaaa Aku suka!" Sabrina bergulung di ranjang.


Hal itu membuat William tersenyum. Hanya dipanggil istri, Sabrina sudah sebahagia itu? Padahal, ia lebih banyak menyakiti Sabrina. Bahkan, Sabrina tidak protes sekalipun saat ia mati-matian ingin mempertahankan perusahaan miliknya dan mendiang sang istri. Jelas-jelas, perusahaan tersebut bangkrut total. Lantaran, ada teror menyeramkan yang terjadi di kantornya.


"Apa Artur membuat masalah? Sepertinya, akhir-akhir ini dia tak banyak membuat masalah. Dia tidak melakukan sesuatu secara diam-diam bukan?" selidik William.


Sabrina menghentikan aksinya. Kini ia memposisikan duduk di tepian ranjang. "Tidak. Aku juga berteman dengan kedua temannya. Mereka teman yang baik. Ngomong-ngomong, aku boleh mengajak mereka kemari? Sepertinya membakar sesuatu enak juga."


"Benar juga. Kurasa, ada baiknya Sabrina menjadi ibu tiri untuk Artur. Setidaknya, Sabrina membawa pengaruh yang baik untuknya. Kuakui, Sabrina masih begitu muda. Tapi, dia sama sekali tak menunjukkan keegoisannya," batin William.


"Uncle?" panggilan dari Sabrina membuyarkan lamunan William.


"Apa tadi?" tanya William.


Sabrina menghembuskan napas. "Kapan-kapan aku akan mengundang teman Artur kemari. Boleh?"

__ADS_1


"Mereka laki-laki?" selidik William.


"Benar! Aku sudah bilang, mereka teman Artur. Tentu saja, laki-laki. Mungkin, hari Minggu nanti. Boleh?" Sabrina mengukir senyuman manisnya.


William menatap tajam Sabrina yang tersenyum manis. Wajah pria itu begitu datar. Pikirannya tertuju dengan kata laki-laki. Entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman.


"Uncle mau aku buatkan kopi?" tawar Sabrina.


William segera mengerjapkan kedua matanya. "Boleh. Tidak merepotkan?"


"Tentu tidak. Kenapa merepotkan? Tunggu sebentar." Sabrina bangkit. 


"Laki-laki?" William mendesah resah.


"Kau belum tidur, Sabrina?" Artur terlihat berjalan menuju dapur.


Sabrina yang mendengar suara segera menoleh. "Aku membuat kopi untuk ayahmu. Kau mau sekalian coklat hangat? Aku juga sedang membuat satu ini."


"Boleh. Kau jadi mengundang teman-teman kemari?" Artur mencomot gorengan yang ada di atas meja makan.


"Aku sudah meminta izin pada ayahmu. Kau sepertinya ingin menjebakku ya? Bodohnya aku, mengikuti permintaanmu!" omel Sabrina.

__ADS_1


"Hei! Kau sudah mengiyakannya tadi sore. Jadi jangan mengingkari janjimu. Kau sudah mengundang mereka." Artur mencebikkan bibirnya.


Hening. Sabrina memilih mencari bahan di kulkas. Setidaknya, ia harus membuatkan sesuatu untuk menemani William bekerja selain secangkir kopi. Gadis itu mengeluarkan udang yang telah dibersihkan kepala dan kulitnya. Lalu mengambil tepung instan untuk menggulung udangnya. Tentu saja, Sabrina menggunakan sarung tangan. Jangan sampai suami tercintanya mencium bau busuk dari Sabrina.


"Kau membuat apa?" tanya Artur. Kedua mata Artur mengamati gerak-gerik Sabrina.


"Tempura udang untuk ayahmu," jawab Sabrina tanpa menoleh.


"Kau tidak membuatkan aku juga? Aku di sini makan tempe dan pisang goreng saja lo?" protes Artur.


"Sudah kubilang, ini untuk suamiku! Nah, kau sudah makan pisang dan tempe goreng itu kan? Jadi ini bagian ayahmu!" Sabrina kini telah menggoreng udang tepung itu.


"Ya beda dong. Kau memberiku tempe dan pisang goreng, sementara kau memberikan ayahku tempura udang. Jauh sekali perbedaanya?" Meskipun protes, Artur masih saja melahap makanan yang ada di piring.


"Beda dong! Ayahmu itu kan suamiku! Jelas harus istimewa. Hei, kenapa kau protes? Kau sudah membuat dompetku kering di restoran siang tadi, k*mpret!" umpat Sabrina. Gadis itu menyodorkan secangkir coklat hangat untuk Artur.


"Lebih baik aku diam dulu deh. Daripada protes. Sabrina kan selalu baik pada semua orang. Pasti aku tetap disisakan. Lihat ini, mulutnya saja yang kejam. Tapi, dia masih memberiku coklat hangat," batin Artur.


Sabrina meniriskan tempura udang itu. Setelah itu, menaruh udang tersebut ke sebuah piring. Mengambil nampan dan meletakkan piring beserta secangkir kopi dan secangkir coklat hangat. Detik berikutnya, Sabrina berjalan meninggalkan dapur. Artur pun bangkit, lalu melebarkan kedua matanya.


"Sabrina!" teriaknya saat benar-benar tak mendapati sisa udang yang terlihat lezat itu. "Dasar bucin!"

__ADS_1


__ADS_2