
Sabrina tak mengikuti kata-kata William untuk segera bersembunyi. Saat dua orang itu memasuki ruangan yang sama, Sabrina mulai menembakkan timah panas yang langsung membuat mereka mati seketika.
"Sabrina, rekaman mulai mengabur. Ada apa?" tanya William.
"Oh, bukan apa-apa. Baterai lebahku sudah hampir habis." Sabrina kembali mengeluarkan seekor lebah. "Sudah jelas lagi?"
"Sudah. Kau membunuh mereka?" William melihat dua sosok yang terkapar di lantai.
"Hmmm. Aku lanjut dulu. Di mana ada orang lagi?" Sabrina menyipitkan kedua matanya.
William mengamati keadaan sekitar. "Tidak ada. Tapi, ada di tempat lain."
Sabrina memencet tombol yang ada di jam tangannya. Hingga keluarlah beberapa ekor lebah. Sabrina mengibaskan tangannya. Membuat para kamera pengintai itu terbang mengikuti perintah. Kembali, Sabrina mengeluarkan sesuatu. Sebuah skateboard dari dalam tasnya. Gadis itu menaiki skateboard dan segera menaikinya.
"Lalu apa gunanya dia memintaku mengamati layar? Jika dia sendiri malah bermain skateboard? Dia ini, kenapa menggemaskan sekali?" William membatin dan mengukir senyuman.
Sabrina mencari musuh ke segala penjuru. Sepertinya ini akan memakan waktu. Sabrina menghentikan gerak kaki. "Uncle William, katakan pada Roki, para kapten tim 3 sampai tim 8 segera masuk ke dalam perusahaan."
__ADS_1
"Oke." William menoleh ke arah Roki yang nampak siaga." Em, Tuan Roki. Sabrina meminta Anda untuk memberitahu kapten tim 3 sampai kapten tim 10 segera masuk ke dalam perusahaan."
"Tuan William, Anda jangan sungkan terhadap saya. Karena notabenenya, saya adalah bawahan Anda," tegur Roki.
William mengedarkan pandangannya. Bukankah tak lagi ada manusia lainnya? Lalu di mana orang-orang yang dimaksud Sabrina? William menatap bingung Roki. Hingga terlihat Roki bersiul. Entah apa maksud dari siulan tersebut. Akan tetapi saat William menoleh ke arah layar monitor notebook, William mendapati ada banyak orang yang telah masuk ke dalam perusahaan.
"Mereka adalah tim 3 sampai tim 8. Ada 6 orang yang telah menjadi bantuan untuk Nona Muda," ucap Roki yang sepertinya mengerti raut wajah William yang bingung.
"Syukurlah." Meski bingung, William tetap merasa lega. Setidaknya ada yang membantu Sabrina.
William sendiri merasa ngilu dibuatnya. Padahal pria itu sudah mengamati layar monitor dengan waspada. Tapi ia masih kecolongan.
"Aku benar-benar tak berguna," lirih William.
Beberapa bala bantuan telah sampai di ruangan yang sama dengan Sabrina. Mereka menembaki musuh dengan beruntun. Sedangkan Sabrina melawan satu orang yang sepertinya mengincar nyawanya dari awal.
Keduanya justru baku hantam. Entah bagaimana awalnya, akan tetapi musuh itu terus saja menghunuskan senjata tajam kepada Sabrina. Sabrina menjaga jarak aman dari musuh. Menyimpan kembali senjata laras panjangnya. Menggantinya dengan katana yang mengkilat.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanya Sabrina.
"Kau tidak memakai topeng lagi?" Sebuah suara yang seperti tengah disamarkan.
"Suaramu aneh. Terdengar menjijikkan di telingaku. Siapa targetmu?" Sabrina masih saja menjaga jarak.
"Targetku? Siapapun musuhku, mereka semua targetku. Kupikir kau adalah pria yang telah matang. Tak tahunya, hanya bocah yang sedang menantang maut!" Suara musuh terdengar meninggi.
"Lihat bocah ini, apa dia sedang bercanda!" Sabrina melesat menembus angin.
Gadis itu menghunuskan katana ke arah lawan. Begitu pula dengan sosok yang entah itu pria atau wanita. Ia seperti sedang menyamar. Membuat Sabrina yakin, jika orang yang tengah dihadapinya itu memiliki posisi penting dari penyusup yang lainnya.
"Mundur!" Teriakan menggema di ruangan tersebut.
Musuh Sabrina merunduk dan melompat keluar jendela. Begitu pula dengan beberapa musuh yang lain. Melihat hal itu, Sabrina tak ingin melewatkannya. Mengeluarkan jarum akupuntur hingga mengenai beberapa penyusup itu. Beberapa yang terkena, justru menggelepar di lantai dengan mulut yang berbusa.
"Sayangnya, aku tidak memiliki belas kasihan. Jarum akupuntur yang sudah aku beri racun ular yang mematikan." Sabrina tersenyum menyeringai. Musuhnya telah tewas seketika.
__ADS_1