Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
108


__ADS_3

Pagi yang sangat cerah. Mentari pagi sudah mulai menampakkan dirinya. Sinar pagi mulai menelusup dibalik sela-sela jendela kamar. Di sebuah kamar masih meringkuk dua orang yang baru saja selesai dalam pergumulan cinta. Keduanya sangat kelelahan karena selesai dini hari. Dibalik selimut yang tebal, dua tubuh polos masih anteng tak mau bergerak. Tak berapa lama sosok wanita pun mulai mengerjapkan matanya. Mencoba mengumpulkan semua nyawanya. Kemudian merenggangkan otot-otot tubuhnya. Benar-benar kelelahan. Mulai beranjak dari tempatnya memunguti pakaian yang berserakan dilantai dan setelahnya menuju kamar mandi memulai ritual paginya.


Tiga puluh lima menit dia memulai aktivitas paginya dikamar mandi. Setelahnya dia beranjak keluar kamar mandi. Dilihatnya sosok yang masih meringkuk dibawah selimut tebal itu, mulai ada pergerakan dari balik selimut itu.


"Sayang bangun ini sudah siang. Waktunya kekantor bukan?"


"Emmm...." membalikkan tubuhnya. Ani mencoba meraih tangan suaminya mencoba membangunkannya.


"Loh mas.... badan mas Ardan anget banget,"


"Aku mual," lenguhnya seketika dia merasakan perutnya mual hebat dengan segera dia berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan semua cairan bening di wastafel. Ani meraih minyak kayu putih.


"Maaf mas mungkin ini efek hamilku,"


"Hoek," Ardan terus saja memuntahkan segala yang ada di perutnya, namun nihil yang ada hanyalah cairan bening saja.


"Aku ambilin air anget dulu," Ani memapah suaminya perlahan menuju ranjang mereka.


Tubuhnya lemas benar-benar lemas. Keringat dingin pun membasahi tubuhnya.


Ceklek....


"Mas minum dulu,"


Ardan mengangguk. Setidaknya perutnya sedikit lebih baik.


"Gak dibmhabisin?"


"Enggak, gak enak,"


"Mas mau makan apa? Nanti aku masakin," Ani meletakkan kembali gelas yang masih berisi setengah itu diatas nakas.


"Enggak, perutku gak enak banget," Ardan masih saja berbicara dengan mata terpejam. Kepalanya benar-benar pusing. Ani sudah membalur tubuh Ardan dengan minyak itu. Setidaknya membuat tubuh Ardan menghangat. Kemudian dia mengambil selimut tabal untuk membungkus tubuh Ardan yang sedang demam.


"Aku hubungi pak Herman ya mas," mencoba bangkit dari duduknya yang semula berada ditepi ranjang.

__ADS_1


"Berapa lama?"


"Apa?" tanya Ani.


"Berapa lama sayang masa seperti ini dikehamilan biasanya?" Ardan membuka kedua kelopak matanya. Menatap mesra sang istri.


"Dulu sewaktu hamil Rendy tiga bulan baru aku mau makan. Hilang semua rasa mual dan ingin muntah.ku,"


Apa tiga bulan? Jadi aku harus seperti ini tiga bulan? mata Ardan melotot tak percaya.


"Tapi kehamilanku kali ini berbeda. Malah mas yang merasakan itu semua. Maaf," Ani menundukkan kepalanya. Ardan menatap istrinya lembut kemudian tangannya menyibak rambut yang menutupi wajah istri tercintanya.


"Buat apa minta maaf? Bukankah mas tersangka dari ini semua? Mas yang bikin kamu hamil. Jadi gak apa, biar mas juga ikut menanggungnya toh cuma tiga bulan. Nanti gantian kamu yang bakalan susah karena kamu akan melahirkan dengan mempertaruhkan nyawamu. Jadi jangan khawatir ya,"


"Mas mau makan apa?"


"Entahlah,"


"Loh.... mas bilang aja mau makan apa jangan dipendam saja nanti anakmu ngiler loh,"


"Hei....mas Ardan bukan begitu. Namanya ngidam harus dituruti ingin makan apa aja. Ayolah pengen apa?"


"Tapi belum kepengen makan apapun sayang perutnya gak enak," keluh Ardan wajahnya memelas.


"Baiklah aku buatin wedang jahe ya,"


"Boleh,"


Ani meninggalkan kamarnya, menuju dapur untuk membuat wedang jahe.


"Loh kakak ipar mana kak Ardan? Kita sarapan yuk, lihat bi Inah sudah masakin nasi goreng Jawa katanya," Rianna menunjuk hidangan yang sudah tertata apik diatas meja. Senyum manis terukir dibibir mungilnya.


"Nanti saja. Aku mau bikin wedang jahe untuk mas Ardan. Biar perutnya enakan,"


"Loh kak Ardan sakit?" dia bingung pasalnya kemarin baik-baik saja.

__ADS_1


"Iya mungkin efek kehamilanku," Ani tersenyum kemudian beranjak menuju dapur. Rianna sebenarnya bingung, namun tak ambil pusing sekarang saatnya dia sarapan perutnya benar-benar minta diisi amunisi. Nanti jika dia setelah selesai sarapan dia akan kekamar kakaknya untuk menengoknya.


💞💞💞


"Kamu gila mas Kevin?!"


"Gila gimana? Aku waraslah !!"


"Ya kan baru kemarin aja kita lamaran !! Jangan aneh-aneh. Kita masih punya banyak waktu,"


"Tapi aku pengen kita nikah secepatnya ! Aku gak mau kamu lari dari aku,"


Monica mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar frustasi sekarang. Baru saja dia menerima Kevin untuk berada disisinya. Sekarang malah mengajaknya menikah secepatnya.


"Ya tapi aku belum siap!!" teriak Monica.


"Kalau kamu belum siap kenapa kamu nerima lamaran aku? Aku mencintaimu Monica. Lebih dari yang aku bayangkan?"


"Aku gak mungkin bilang tidak!! Karena orangtuaku tau kamu melamarku!! Kita masih punya banyak waktu. Aku gak mau menikah muda," lirihnya.


"Usia kamu dua puluh tahun Monica !! Itu bukan muda lagi. Setidaknya kamu pikirin aku,"


"Aku masih pengen kukiah!!"


"Memangnya aku melarangmu untuk kuliah? Nggak kan kamu masih bisa kuliah sayang,"


"Aku gak bisa nikah sekarang !! Aku masih ingin ngejar cita-citaku," lirihnya dengan perlahan dia beringsut dari tempat duduknya membuka pintu mobil.


"Monica tolong pikirkan sekali lagi," lirih Kevin.


Monica tak menjawabnya kemudian tetap melanjutkan meninggalkan mobil Kevin. Dari kejauhan sepasang mata menatapnya tajam penuh dengan api kecemburuan.


Lihat saja !! Akan kubuat kamu pergi ninggalin Kevin. Dasar perempuan ular !!


💞💞💞

__ADS_1


Tolong kasih author vote yang banyak ya😊😊😊


__ADS_2