
Semenjak kepergian orang suruhan Sabrina, William telah berganti pakaian dengan arahan Sabrina. Memakai atasan dan bawahan berwarna hitam pekat. Meski tidak tahu maksud Sabrina, William tetap mengikuti Arahan.
Ceklek.
"Sabrina? Aku sudah selesai." William mengangkat wajahnya.
Pria itu membeku di tempatnya tatkala mendapati Sabrina juga tengah memakai pakaian serba hitam. Jantung pria itu bertalu. Sabrina tampak menawan dengan pakaian serba hitamnya. William menyipitkan kedua mata, saat ia tak sengaja melihat sesuatu. Di salah satu paha Sabrina, terlihat sebuah senjata api.
"Aku penasaran, kenapa Sabrina bisa memakai hal-hal yang sangat tak biasa begitu?" William membatin gelisah.
"Sudah selesai bersiap?" tanya Sabrina.
"Sudah. Kita berangkat sekarang?" balas William.
Sabrina mengangguk. Gadis itu berjalan mendahului William. Di belakang, William menatap punggung Sabrina dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia cukup penasaran bagaimana sosok Sabrina bisa menggunakan senjata yang bahkan bisa menghilangkan nyawa seseorang.
__ADS_1
"Sabrina, di luar ada beberapa orang berpakaian hitam mencarimu. Siapa mereka?" tanya Artur heran.
"Sebenarnya, ini kenapa? Mengapa ada banyak sekali teka-teki yang tidak aku mengerti," kata Artur dalam hati.
"Artur. Kau lebih baik di rumah. Darren akan menjagamu. Mereka orang-orangku. Ingat … Jangan pernah membukakan pintu. Aku dan ayahmu tidak akan pulang malam ini. Jika aku memiliki banyak waktu, aku akan membawamu kepada keluargaku. Sayangnya, aku tak memiliki banyak waktu. Kami pergi dulu," ucap Sabrina.
Artur tak lagi berbicara. William menepuk bahu kokoh sang putra seolah memberikannya kekuatan. Sebelum akhirnya pria itu berlalu mengekor di belakang Sabrina. Benar saja, di ruang tamu ada banyak orang. William menyipitkan kedua matanya. Menghitung dalam hati berapa orang yang ada di rumahnya.
"Delapan orang kaki tanganku?" sapa Sabrina.
"Benar. Kami adalah para kapten dari tim 1 sampai 8, Nona. Perkenalkan saya Roki. Kapten tim 1. Mari, Nona. Mobil yang Anda minta sudah ada di depan. Tuan Ben sudah menyiapkan helikopter untuk Anda nanti," ucap Roki.
"Helikopter?" William membuka suara.
Akan tetapi, semua sorot mata itu justru menyorotnya tajam dan menghunus. Aura intimidasi begitu kental. William mengendikkan kedua bahunya. Hingga sebuah tangan menggenggam tangannya seolah mengerti kegelisahan hatinya.
__ADS_1
Seseorang melempar kunci mobil kepada Sabrina. Dengan tangkas, Sabrina menangkapnya tanpa bersuara. Gadis itu memencet tombol yang ada di kunci tersebut. Terdengar suara yang membuat dua pintu sisi mobil tersebut terbuka. Sabrina pun melangkah masuk ke dalam mobil disusul William.
Tak berapa lama, Sabrina menyalakan mobil dan segera menutup pintu mobil. Dengan cepat, Sabrina menginjak pedal gas. Mobil pun melaju dengan kencang. William bergeming di tempatnya. Pria itu malas untuk bersuara barang sedikitpun.
"Uncle, kau percaya padaku?" tanya Sabrina tanpa menoleh.
"Kau sudah banyak membantuku. Kenapa aku tidak percaya padamu?" William menatap bingung ke arah Sabrina.
Gadis itu tak menyahut. Memberikan sebuah earphone kepada William. "Pakai itu. Aku juga memakainya. Supaya kita bisa saling berkomunikasi. Kita sekarang ke kantor papa. Di sana kita berangkat memakai heli, untuk sampai di rooftop kantormu."
"Kenapa tidak langsung saja ke kantorku?" tanya William.
"Kita tidak tahu, berapa banyak jebakan yang telah dirangkai musuh untuk menjebak kita. Nyawa kita lebih penting." Sabrina terus menatap jalanan di keheningan malam.
"Benar juga. Mayat kemarin saja seperti itu. Menyeramkan. Siapa sebenarnya musuhku? Apa yang dia inginkan?" tanya William dalam hati.
__ADS_1
"Memangnya, siapa mereka?" William memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku tidak mungkin mengatakan jika itu adalah orang-orang dari organisasi hitam. Kemungkinan mereka tidak menerima kekalahan sang sekutu yang pernah aku kalahkan. Organisasi hitam ini mengincar nyawaku. Tapi, mungkin saja mereka juga menargetkan orang-orang di sekitarku. Jika keluargaku sendiri, itu akan aman. Sayangnya, tidak dengan Uncle William dan Artur." Sabrina membatin resah.