
"Hey bro !!! ngapain disini hah? Hari Minggu man. Gak pengen nongkrong dimana gitu?" Dion menyelutuk. Dia sebenarnya ingin pergi entah kemana. Namun jika sahabatnya itu tak keluar maka dia juga tak akan pergi. Memang ya sahabat sejati.
"Bro loe sudah menyelidiki siapa mantan suami dari istrimu? aku rasa dia benar-benar seorang psikopat." Kata Kevin sembari mendudukkan bokongnya disofa.
"Ya gue sudah menyelidiki mereka semua yang berhubungan dengan Ani. Kevin kau tau pak Marzuki?"
"Hey bro kalian benar-benar deh. Kenapa pada gak jawab sih tadi gue ngomong apa?!!" Dion merasa diacuhkan.
"Gue tau. Memang kenapa dengan pak Marzuki?" Tanya Kevin. Dia juga tau seberapa sombongnya orang itu padahal hanya memiliki kekayaan yang sedikit.
"Dia memiliki anak yang bernama Intan. Dan Intan inilah yang merebut Johan dari Ani." Kata Ardan.
"Sialan kalian berdua !!! Ciihh bilang dong dari awal cuma butuh Kevin bukan gue juga." Dion mengerucutkan bibirnya kesal lantaran dari tadi dia berbicara tapi gak didengarkan oleh kedua sahabatnya.
"Siapa Johan?" Dion kini ikut nimbrung juga.
Kevin mengangguk menyetujui pertanyaan dari Dion.
"Mantan suaminya Ani. Kemarin gue lihat Marzuki menampar Ani."
"Apa?" Serempak keduanya kaget bagaimana bisa Marzuki itu punya keberanian untuk menampar istri seorang Presdir.
"Dia belum tahu Ani istriku."
__ADS_1
"Lalu loe gimana?" Tanya Kevin dia tahu Ardan adalah tipe orang bisa membalas dengan keji.
"Gue gak bisa apa-apa. Karna gue takut jika istriku nanti akan membenciku jika dia tahu siapa suaminya yang sebenarnya."
"Kalau gue ya bakal gue Hajar dan." Kata Dion emosi.
"Masalahnya adalah gue baru aja dapetin hati istriku. Kalau gue macem-macem. Hati yang baru kebuka itu gue takut bakal dia tutup lagi kalau dia tahu seperti apa gue. Makanya gue nyuruh kalian berdua kesini."
"Bener juga. Tapi apa urusannya dengan kita berdua?" Dion tak habis pikir jika hati sahabatnya satu itu bisa luluh juga dihadapan seorang wanita. Namun dihari keduanya turut bahagia lantaran istri sahabatnya itu benar-benar sempurna dihadapan keduanya. Cantik dan benar-benar penuh cinta. Berbeda dengan semua perempuan kebanyakan.
"Gue mau loe Dion membeli semua kebun teh milik Marzuki yang ada didesa Ani. Cuma loe yang belum pernah bertemu dengan Marzuki. Dan kamu Kevin urus saham Marzuki yang berada di perusahaan cari kesalahan dia sekecil apapun. Gue pengen dia hancur berkeping-keping. Gue pengen ngambil semua yang dia miliki sehingga dia tak akan lagi bisa sombong lagi dihadapan istriku."
Ya... Ardan mungkin diam saja kemarin tapi dia ingin dengan cara halus menyingkirkan Marzuki. Tanpa diketahui oleh istrinya sendiri.
"Oke gue ngerti. Kapan gue bisa ke desa istrimu?"
"Kalau urusan di club' mu sudah selesai."
"Gue bisa mulai kapan saja bro toh kerjaan ku gak banyak juga. Lagian sudah ada Rio yang bisa gantiin gue jika ada urusan mendadak." Rio adalah sepupu Dion dia bekerja di club Dion menjadi tangan kanan Dion. Jika Dion ada urusan ditempat lain maka Rio yang akan menggantikan Dion.
"Bagus lebih cepat lebih baik. Gue bakalan kirim alamat Marzuki yang ada didesa lewat email. Dan kamu Kevin kamu bisa memulai juga dari sekarang. Gue berharap banyak sama loe karna selain pak Herman cuma loe yang bisa gue andalkan."
"Oke gue ngerti......" Kevin ragu ingin menyakan gadis yang bersama Ani tadi. Sekaligus malu.
__ADS_1
"Loe kenapa?" Tanya ardan.
"Gak apa-apa kok."
"Bro siapa gadis yang tadi bersama istri loe? Kayaknya Kevin pengen kenalan deh." Celetuk Dion.
"Loe peka banget ya Yon? Sampai-sampai gue belum ngomong aja loe tau." Kevin merasa kesal pasalnya mulut Dion ini benerr-bener gak punya filter. Asal jeplak.
"Maksudmu Monica?" Tanya Ardan. Jika Kevin bersama dengan Monica dia tak masalah. Karna dia tahu jika Kevin orang baik. Dia bukan tipe laki-laki serampangan seperti Dion.
"Namanya Monica?" Kevin mengulangi nama gadis yang menelisik hatinya.
"Nah sudah tau namanya sana pergi. Tunggu apalagi. Ayo pdkt. Kalau jadian jangan lupa Pajaknya ya." goda Dion.
"Terus gue mau ngomong apa sama dia? Siall". Kevin mengacak rambutnya sendiri. Serba salah tingkah.
"Nanti coba dekati dia sewaktu makan siang." Ardan mendukung Kevin.
"Boleh?" Kini Kevin dengan wajah tampannya terlihat berseri-seri.
"Hem."
"Baiklah musim semi cinta dari tuan Kevin dimulai......!!!!" Dion berteriak.
__ADS_1
Kevin meninju lengan Dion.