
"Apa ini?" tanya Elena penasaran.
"Itu adalah sebuah kartu kredit tanpa limit. Kau bisa menggunakannya untuk berbelanja di sini. Ingatlah untuk segera pulang. Aku paling tak suka wanitaku pergi keluyuran tak jelas. Apa kau mengerti?" tanya Rendy dengan aura yang penuh tekanan.
"Tentu saja Paman. Terima kasih ya. Nanti aku akan mengabarimu!" seru Elena sembari berlalu meninggalkan Rendy bersama dengan Kei.
"Kei ... Atur orang untuk menyelidiki kemana Elena akan pergi," kata Rendy sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Baik Tuan Muda. Saya akan mengutus Jack untuk mengawasi nona Elena." Kei membungkuk kemudian lelaki itu bergerak menjauh dari Rendy.
"Elena ... Jika aku menjadikanmu wanitaku, maka aku harus tahu betul siapa dirimu. Kau juga jangan harap untuk bisa bebas pergi dariku," gumam Rendy.
*****
Di sisi lain ....
"Queen ...," panggilan dari Lady terhenti begitu saja saat mendapati ada satu sosok tak dikenal tengah mengikuti Elena.
"Sssttt jangan memanggilku Queen. Ada yang mengikutiku dari semenjak aku keluar dari mansion itu. Panggil aku Elena. Aku akan memanggilmu, Shirly." Elena segera menarik tangan Lady. Dengan segera mereka berdua masuk ke dalam mobil. Kemudian dengan cepat Lady menancap gas untuk segera pergi dari halamanansion Rendy.
"Queen, jelaskan padaku. Mengapa sampai ada yang mengikutimu?" tanya Lady.
"Hah aku juga mana tau. Untuk sementara kita jangan melakukan tugas dari mami terlebih dahulu. Akan sangat beresiko untuk melakukannya sekarang," kata Elena..
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Elena? Kita bahkan tidak memiliki tujuan sekarang," keluh Lady.
"Siapa bilang kita tidak memiliki tujuan?" tanya Elena sembari tersenyum. Gadis itu kemudian mengeluarkan black card. Sejenak kedua bola mata Lady membulat.
"Ba-bagaimana bisa? Bukankah hanya beberapa orang saja yang punya kartu ini?" tanya Lady yang masih belum percaya dengan apa yang dibawa oleh Elena.
"Memangnya apa yang salah dengan ini? Sekarang ayo kita menuju mall Harrods itu adalah mall terkeren di London. Jalan Shirly!" teriak Elena.
"Baiklah kita kesana. Asal kau mentraktirku!" Ladypun segera menginjak pedal gas lamborghini miliknya. Kedua gadis itu segera meluncur ke sebuah mall terpopuler dan terhits di London.
"Heh ... Hari ini panggil aku sultan Elena!" seru Elena dengan hati yang begitu gembira. "Hei kau jangan lupa untuk menyampaikan apa yang terjadi. Entah mengapa sekarang paman Rendy begitu memperketat pergaulanku."
"Sudahlah sultan Elena. Yang terpenting kita akan bersenang-senang hari ini," hibur Lady.
*****
"Elena! Rasanya tanganku begitu gatal ingin menghabisi mereka. Apa kau yakin jika mereka mata-mata dari majikanmu itu? Bagaimana jika mereka dikirim oleh musuh kita?" tanya Lady.
"Apa kita perlu mengetest mereka?" Elena melirik kearah dimana dua orang mata-mata itu sembunyi. "Kalau begitu ayo kita sedikit memberikan kejutan." Elena memberikan sebuah isyarat menggunakan tangannya. Kemudian Lady mengangguk dan keduanya mencoba untuk memergokinya dengan memalui dua jalur yang berbeda.
"Hei ... Mereka kemana?" tanya salah satu dari mereka. Keduanyapun saling melongokkan kepalanya. Hingga sebuah tendangan tepat mengenai wajah-wajah mereka. Siapa lagi jika bukan Elena dan Lady.
"Siapa sebenarnya kalian berdua? Mengapa mengikuti kami hah? Katakan dengan jujur atau kami berdua akan memukuli kalian hingga sekarat!" seru Elena.
__ADS_1
"Maaf ... Maafkan kami berdua. Kami hanya mendapatkan perintah untuk mengikuti kalian berdua. Tolong ... Lepaskan kami berdua."
"Elena ... Habisi saja yuk mereka. Atau kita teriaki saja mereka ini maling?" tanya Lady.
"Tolong ... Ampuni kami nona. Kumohon." Kedua lelaki yang mengikuti Elena dan Lady itupun berlutut dan menangkupkan kedua tangannya.
"Kalau begitu katakan. Siapa yang menyuruh kalian berdua?" tanya Elena. "Kalian katakan atau kamu hajar sampai sekarat? Tenang saja kami akan bungkam. Asal kami berdua tahu siapa yang membayar kalian untuk mengikuti kami."
"Tuan Muda Rendy. Tolong ampuni kami."
Elena menghela nafas kasarnya. Sesuai dugaannya. Ternyata Rendylah yang bersusah payah membayar orang untuk mengikutinya. Pantas saja begitu aneh saat Rendy mengiyakan keinginannya. Hampir saja dirinya terjebak. Apa yang akan terjadi jika hari ini dirinya bersama Lady tengah melancarkan aksinya melaksanakan tugas dari mami?
"Baiklah ... Kalian kembalilah ke posisi kalian berdua. Anggap hal ini tidak pernah terjadi. Jangan bocorkan hal ini. Kalian paham bukan?" tanya Elena.
"Tentu kami paham Nona. Kami permisi," jawab keduanya sembari membungkuk dan pergi meninggalkan Elena dan Lady.
"Elena, apa kau yakin melepaskan mereka?" tanya Lady heran.
"Iya ... Rendy tidak tau siapa aku. Jadi ini masih aman. Jika yang mengikuti kita tadi bukan anak buah Rendy, justru kita yang akan tamat. Karena itu berarti musuh telah mengetahui siapa aku," ucap Elena.
"Setidaknya kita sudah mengecoh mereka, Elena. Bukankah lebih baik kita pulang?"
"Baiklah."
__ADS_1
Paman Rendy menolongku tanpa tau siapa aku. Dia bahkan lebih baik dari manusia sampah seperti Steven. Mau menampungku dan memberikanku kesan aman. Untuk itulah aku juga merasa nyaman saat dia ada di sampingku. Tetapi, bagaimana jika tau tentang identitasku yang lain? Apakah dia akan membuangku ke jalanan? Sepertinya ini semua akan rumit jika aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku harus menahan diriku lebih keras lagi. Batin Elena dalam hati.