Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 391. Merasai Hati


__ADS_3

Akhirnya situasi canggung mereda. Saat William menyelesaikan sarapan dan pria itu berlalu dari ruang makan. Keempat orang itu segera menghembuskan napas lega.


"Wow, Artur. Ayahmu benar-benar bikin sesak napas. Auranya bikin merinding," ucap Justin seraya bergidik.


Sabrina tersenyum kecut. Memang selama sarapan, William sesekali menatap dirinya. Ia tahu, dirinya belum mendapatkan izin untuk membawa tamu ke rumah. Jelas-jelas itu adalah teman Artur. Tapi tetap saja, sikap William aneh. 


"Aku ke dalam sebentar," pamit Sabrina. 


Gadis itu membawa semua piring kotor ke wastafel. Ketiga orang yang duduk di ruang makan itu mengangguk tanpa bersuara. Diam-diam dalam hati Sabrina, ia turut senang. Mengingat William mulai menaruh hati terhadapnya.


Sabrina membuka pintu kamar dengan pelan. Ia mendesah lega saat mendapati tatapan nyalang dari sang suami. Gadis itu menutup perlahan daun pintu kamar. Lalu berjalan mendekati William yang duduk di tepian ranjang.


"Uncle marah?" tanya Sabrina. Ia mendudukan bokongnya di samping William.


"Aku belum memberikan izin untukmu. Kenapa tiba-tiba ada tamu begitu?" William kembali menyorot iris biru milik Sabrina.

__ADS_1


"Aku lupa belum memberitahu mereka. Maafkan aku, Uncle. Jangan menatapku begitu. Aku juga kaget tadi," rajuk Sabrina.


William menghembuskan napas pelan. "Apa salah satu dari mereka ada yang pernah memberimu bunga?"


Sabrina menggelengkan kepala. "Tidak. Mereka setahuku dari keluarga broken home. Jadi, mereka sedikit nakal. Hanya itu. Aku sudah menyelidiki mereka. Ngomong-ngomong apa Uncle sedang cemburu?"


"Menurutmu?" Satu jawaban dari William menyentak Sabrina. Memberikan satu rasa yang membuncah. "Kenapa kau senyum-senyum?" Suara William kembali membuyarkan lamunan Sabrina. Bibir ranum itu mengerucut sebal.


"Ish, Uncle. Sudahlah. Uncle menyebalkan. Aku ke bawah dulu." Sabrina yang merajuk, memilih bangkit dan hendak berlalu menuju ke ruang makan.


"Uncle, di bawah ada teman Artur," lirih Sabrina. Ia paham kedua mata William yang berkabut itu.


"Ayolah, sebentar saja. Kau sudah memasukkan laki-laki lain ke rumah ini tanpa izinku. Tidak ingin menebus kesalahan?" Wajah William menatap dalam kedua mata Sabrina.


"Tapi…"

__ADS_1


Kata-kata Sabrina telah terpotong. Ciuman panas dari William membungkam mulut Sabrina untuk protes apapun. Sabrina yang tadinya kaget, kini justru memejamkan kedua mata. Menikmati setiap cumbuan dari pria yang membuatnya tergila-gila.


Sabrina bahkan meremas rambut William. Memperdalam ciuman yang semakin membuat napas kian memburu. Satu tangan William mulai nakal. Menelusup masuk ke dalam kaos oblong milik Sabrina. Perlahan, Sabrina mulai kehabisan napas. William segera melepaskan ciuman tersebut.


"Jangan pikirkan yang lainnya. Pikirkan aku, suamimu." Suara William terdengar serak dan berat. Kedua mata William menatap dalam kedua mata Sabrina.


"Bukankah aku selalu memikirkanmu?" Sabrina membalas kata-kata William.


"Kau tidak jujur pada mereka, statusmu?" selidik William.


"Aku ingin mengatakannya. Tapi aku takut Uncle yang tidak ingin mengatakannya. Jadi kupikir aku lebih baik diam," pungkas Sabrina.


"Aku tidak keberatan. Kau boleh mengatakannya. Justru ketika para laki-laki sial*n itu mendekatimu aku membenci hal itu. Aku tidak suka ada banyak kumbang di sekitar bungaku." William dengan menggebu memulai aktivitas percintaan mereka.


Mengabaikan rengekan dari Sabrina. William terus saja meluapkan gairahnya. Entahlah. Perasaan William sangat aneh ketika ada yang berdekatan dengan Sabrina. Seperti saat ini. Sekalipun itu adalah teman anak lelakinya. Ia sangat tidak menyukai kedekatan antara Sabrina dan pria manapun.

__ADS_1


__ADS_2