Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 341. Tawaran Kencan.


__ADS_3

...Baca sampai akhir ya! Ada isi bab! Untuk kak Yulia, ditunggu bukunya. Terima kasih sudah mengirimkan alamat ya😊😊 yuuuhuuu pantengin terus novel ini. Nanti ada pengumuman siapa yang beruntung mendapatkan Novel Elegi Buana milik Author. Ada dua lagi yang beruntung untuk slot Elegi Buana. sedangkan untuk Kapten Rojali, I Love You! Ada dua slot saja ya. ditunggu pengumumannya😁 gratiiiiisss kok. ...



"Kenapa hanya berdiri saja? Cepat mandi, keburu dingin," ujar William.


Mendengar itu, Sabrina bergerak cepat. Segera membuka koper besar, di mana baju-bajunya ada. Gadis itu mengambil handuk dan pakaian ganti. Setelahnya melesat menuju kamar mandi.


William menatap pintu kamar mandi dengan senyuman di wajahnya. Sikap Sabrina terlihat menggemaskan di kedua mata pria itu. Apalagi ketika melihat semburat rona merah muda di kedua pipinya. Sungguh pemandangan yang menghibur matanya.


"Dia dengan lantangnya mengatakan cinta padaku. Tapi saat satu kamar denganku, dia malah seperti kucing. Dengan begini, aku bisa mengawasimu. Jangan sampai dia dan pria tak dikenal itu semakin dekat," gumam William.


Pria itu lalu mendekati lemari. Segera berganti pakaian dan memainkan ponselnya. Tak sengaja kedua matanya mendapati ponsel Sabrina. William pun menyambar ponsel yang tergeletak di atas ranjang.


"Disandi?" lirihnya.


Kemudian diletakkan kembali ponsel Sabrina. Pria itu terdiam tanpa bersuara. Bahkan tangannya tak lagi bermain di ponselnya. William bergeming untuk beberapa waktu lamanya. Hingga Sabrina menyembul dari kamar mandi.

__ADS_1


Kedua mata William mendadak melebar. Seketika melihat Sabrina memakai celana hotpants sepaha. Dengan atasan kaos oblong berwarna hitam. Rambut panjangnya ia kuncir asal, menampakkan lehernya yang mulus dan jenjang. Degupan jantung William kembali bertalu-talu. Sabrina pun meraih ponselnya di atas ranjang. 


Tanpa bersuara lagi, Sabrina berlalu dengan langkah cepat untuk keluar dari kamar William. Baru saja hendak membuka pintu, William berlari ke arah gadis itu dan menutupnya hingga berbunyi dentuman keras. Sabrina melongo melihat apa yang terjadi. Tetapi itu tk lama, saat mendapati deru napas hangat William di telinganya. Posisi Sabrina masih membelakangi William, yang terasa sangat dekat dengan punggung Sabrina. Tiba-tiba William menyodorkan ponselnya.


"Isi nomor ponselmu," kata William.


Sabrina mengangguk tanpa bersuara. Menyambar ponsel dan mengetikkan beberapa angka di sana. Setelahnya, William menarik tubuh dan menerima kembali ponsel yang disodorkan Sabrina. Gadis itu dengan cepat membuka pintu, dan segera berlalu keluar kamar.


Di luar kamar, Sabrina membeku. Perlahan ia membawa tangannya menyentuh dada. Jantungnya bertalu-talu bagai genderang perang yang ditabuh.


Sabrina melirik sinis ke arah Artur. Kenapa dia harus memergokinya dalam keadaan linglung? Sabrina tak menjawab. Ia memilih meninggalkan Artur begitu saja dengan tatapan tajam yang menghunus.


"Hei! Dasar tidak sopan! Ada orang yang mengajak bicara, kau seharusnya menjawabnya!" teriak Artur.


"Artur, kenapa kau berteriak?" tanya William.


Artur menoleh ke arah William. "Oh, hanya bercanda. Ayo, kita makan malam, Ayah."

__ADS_1


William mengangguk. Kemudian berlalu dari sana. Diikuti oleh Artur di belakangnya dengan kedua tangan yang terkepal. Keduanya melangkah menuju ruang makan. Di sana nampak Sabrina telah duduk santai.


Makan malam telah selesai dalam diam. Sabrina buru-buru berlalu dan menghindari William. Gadis itu memilih berjalan menuju taman belakang. Ya, sedikit mengurangi rasa meledak di dalam hatinya. Gadis itu duduk di bangku taman. Kedua matanya menerawang ke langit gelap. Sesekali Sabrina menghembuskan napas. Ia memikirkan bagaimana ke depannya.


"Apa aku salah mengambil tindakan ya? Jika aku bersama Uncle William dalam satu kamar, aku benar-benar tak bisa bergerak. Bagaimana jika sewaktu-waktu Paman Danar menghubungiku? Ah, sudahlah. Toh ini hal baik untuk hubunganku dengan Uncle William yang begitu canggung. Tapi, apa yang dimaksud dengan tuduhan Uncle William tadi sore?" Sabrina membatin gelisah.


"Hei, kenapa di sini?" Seorang pria mendudukkan bokongnya di samping Sabrina.


Sabrina mendadak salah tingkah. "Kenapa Uncle William kemari?"


William menoleh. "Kau sendiri kenapa? Menurutmu, bagaimana jika kita hari Minggu nanti pergi berkencan?"


Kedua alis Sabrina bertaut. "Uncle William sedang menawariku untuk berkencan?"


Pria itu mengangguk lalu tersenyum manis. Membuat ledakan di hati Sabrina.


"Huaa! Aku ingin koprol!" batin Sabrina kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2