Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 380. Tugas Kelompok


__ADS_3

"Hei, kita satu kelompok ya?" Lexi menawarkan diri.


"Nggak bisa!" tolak Dixton dengan tegas.


"Kenapa? Katanya per kelompok itu 5 orang. Kalian kan masih 4 orang! Kurang satu," ucap Lexi. Pria itu menatap Artur, Dixton, Justin dan Sabrina secara bergantian.


"Kata siapa? Ada Aretha. Tuh, dia sudah kemari." Sabrina menunjuk sosok Aretha yang perlahan menuju ke meja Sabrina.


"Ck! Dia nggak level sama kamu. Mending, kamu ganti aja dia sama aku," kekeh Lexi.


"Mending, kau ke tempat Masya. Lihat, dia berjalan kemari. Sudah pergilah, jangan membuatku terkena banyak masalah," usir Sabrina.


"Lexi, kelompokku kurang orang. Gabung kelompokku yuk," bujuk Masya. Gadis itu melirik sinis ke arah Sabrina. Sedangkan Sabrina, memalingkan wajah dengan malas.


"Mending gini, Masya. Aretha biar sama kamu. Lalu aku ikut kelompoknya Sabrina. Nah, kan. Benar, begitu saja," usul Lexi dengan kedua mata yang berbinar.


Mendengar itu, kedua mata Masya melotot. Lalu dengan tatapan marah ia menatap ke arah Sabrina. "Sabrina! Kau benar-benar tak tahu malu. Semua pria kenapa ingin satu kelompok denganmu? Aku curiga, kau pasti memberikan mereka tubuhmu bukan? Ngaku sana!" Masya mengibaskan rambutnya.

__ADS_1


Sabrina cukup mlas dibuatnya. Gadis itu masih santai di tempat. Lalu menghembuskan napas berat. Sabrina melirik ke arah Aretha yang berdiri mematung di samping tubuhnya. Lantas Sabrina menarik tangan Aretha dan memaksanya duduk di sebelahnya.


"Semua pria? Lihat, ada Aretha yang sesama perempuan. Matanya dibuka. Jangan aslinya jal*ng malah teriak jal*ng! Itu sangat menjijikkan." Tatapan remeh Sabrina berikan kepada Masya.


"Hei, Bung. Tidak ada tempat lagi di sini. Pergilah dengan wanitamu. Tidak baik, membuat wanita menunggu," ejek Justin.


Lexi mengepalkan kedua tangannya. Kemudian berjalan menjauh. Ternyata ia tidak bergabung dengan Masya. Melainkan dengan teman-teman laki-laki.


"Dia Nathan. Yang pernah menaruh coklat di bangkumu, Sabrina," ungkap Justin.


"Banyak sekali," timpal Artur.


"Di samping Nathan, ada Yanzi. Sama seperti Nathan, Yanzi juga memiliki rasa padamu. Sepertinya kau harus bersiap, Sabrina. Mereka bisa saja balas dendam padamu karena sakit hati," pesan Justin.


"Benar. Berhati-hatilah, Sabrina. Pasalnya, mereka dulu di SMA adalah sekumpulan pembuat onar," imbuh Dixton.


"Lebih baik kalian semua berhenti bergosip. Sekarang mari diskusikan tugas yang dua minggu lagi dikumpulkan ini. Bukankah kita perlu riset juga? Kita harus bergerak," sela Sabrina.

__ADS_1


"Memang, kita mau mewawancarai perusahaan mana?" tanya Dixton.


"Kenapa tidak Wijaya Grup saja?" celetuk Justin.


Deg.


Jantung Sabrina dan Artur membeku. Keduanya saling melirik satu sama lain. Memang, keluarga Wijaya adalah legenda. Sudah sangat jelas, jika banyak yang akan meliriknya sebagai narasumber kesuksesan dalam kerajaan bisnis.


"Apa tidak ada yang lainnya? Itu sangat mustahil untuk membuat janji dengan Wijaya Grup. Ada opsi lainnya tidak?" tolak Sabrina.


"Dirgantara Grup sudah pasti diambil oleh mereka. Kenapa kita tidak mencoba membuat janji saja?" Dixton terlihat antusias. Halnitu disahut dengan anggukan kepala Aretha.


"Em, Aretha. Menurutmu, kita lebih baik ke perusahaan mana?" tanya Sabrina.


"Xander Grup bagaimana? Bukankah grup itu baru saja mengakuisisi dua perusahaan baru sekaligus? Bahkan, mereka akhir-akhir ini mendapat sorotan dari publik," jawab Aretha dengan enteng.


Sabrina menyipitkan kedua mata. "Darimana kau dapat informasi penting seperti itu?"

__ADS_1


__ADS_2