Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 362. Gelisah


__ADS_3

William membeku sejenak. Lidahnya cukup kelu untuk membalas perkataan Sabrina. Perlahan, cekalan tangan William mengendur. Hal itu dimanfaatkan oleh Sabrina untuk pergi dari hadapan William. Membiarkan pria itu bergeming di tempatnya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk.


"Aku bukan menyesal. Aku hanya bingung. Kenapa kau malah pergi dan tidak menjelaskannya padaku? Apa kau masih tidak percaya padaku?" William menggumam lirih.


Perlahan, pria itu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Padahal baru semalam Sabrina tidur di kamarnya. William menoleh ke arah belakang. Mengamati ranjang yang entah mengapa malam ini terasa kosong dan dingin. William mendesah. Hatinya gelisah dan pikirannya terlalu rumit. Mencoba menelaah satu-persatu, namun hasilnya nihil. William tetap tak bisa menemukan jawabannya.


Keesokan harinya, Sabrina telah bersiap. Gadis itu sudah menunggu fajar menyingsing. Semalaman, Sabrina tak bisa tidur memikirkan raut wajah William. Takut-takut, jika William menyesal telah menikahinya. Lagi, sudut hati kecilnya merasa sesak. Dengan langkah gontai, Sabrina bangkit dan membuka pintu kamar. 


Namun, gadis itu menghentikan langkah. Saat tak sengaja bersitatap dengan William. Setengah berlari Sabrina menuruni tangga. Sangat takut jika William akan melemparkan kalimat tajam untuk dirinya. Sebongkah daging yang kerap dinamakan hati, tak akan mampu jika terhunus tajamnya lidah sang kekasih hati.


"Sabrina! Kau mau kemana? Hei kau tidak sarapan?" tanya Artur. Pria itu buru-buru menyamai langkah Sabrina.

__ADS_1


"Aku sarapan di kantin kampus. Aku lelah," jawab Sabrina.


"Ya sudah. Aku ambil motorku dulu. Kau tunggu di sini," pinta Artur.


Sabrina menghembuskan napas. Menetralkan hatinya yang masih perih. Artur menghilang dari pandangan Sabrina. Tak lama kemudian, Artur kembali dengan sepeda motornya. 


Setelah keduanya memakai helm, Artur melajukan sepeda motornya. Pria muda itu tak banyak bicara. Akan tetapi, ia sedikit heran dengan Sabrina yang seolah terburu-buru. Sedangkan jam pelajaran pertama mereka masih jauh.


William berlari menuju garasi mobil. Biasanya Ryu pasti sudah menunggunya untuk bekerja. Akan tetapi, semenjak William longgar, Ryu akan menjemputnya sedikit siang. William mulai melajukan mobilnya. Tujuannya hanya satu tempat. Dengan perasaan campur aduk, William pada akhirnya telah sampai di tempat tujuan. Rumah kediaman Rendy Saputra Wijaya.


Tok tok tok.

__ADS_1


Berulang kali William mengetuk pintu. William sadar jika ini masih pagi buta. Akan tetapi, ia tak mampu lagi menahan diri. Ia harus memastikan sesuatu. Tak lama, seorang pelayan membukakan pintu.


"Tuan Rendy Saputra Wijaya, apa ada?" tanya William dengan kikuk.


Pelayan itu mengangguk lalu membuka pintu lebih lebar lagi. Mempersilahkan William untuk masuk ke dalam rumah. Pelayan itu membawa William ke tempat di mana para majikannya berada.


"Ya Tuhan. Aku terlalu nekat. Tapi, aku tidak ingin menyimpan kebingungan ini lebih lama lagi. Aku ingin tahu kebenarannya," batin William.


"Tuan, ada tamu yang mencari Anda," ucap pelayan tersebut kepada Rendy. 


Pria itu mendongakkan kepala. Tersentak karena William bertamu di pagi buta. "William, kemarilah." Rendy bangkit dan memeluk sahabat sekaligus menantu pertamanya.

__ADS_1


"Maaf, aku datang sepagi ini. Tapi aku tidak bisa menahannya lagi, Rendy. Bisakah, aku meminta waktumu?" pinta William dengan wajah gelisah yang tak lagi bisa disembunyikan.


__ADS_2