Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 120


__ADS_3

Dor.....dor....dor.... Begitu Agnes dan Michkael telah sampai diluar gudang kosong itu. Suara tembakan kembali terdengar. Namun seperkian detik kemudian Agnes roboh. Begitu juga dengan Michkael.


Sial !! Harusnya aku tau itu semua pengalihan. Aku terlalu ceroboh.


Tembakan itu melukai kaki kirinya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Mencoba mencari siapa dalang di balik ini semua.


"Nona sepertinya kita terkecoh," kata Michkael. Agnes tak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Matanya sekali lagi mengedarkan kesekeliling.


"Cari persembunyian. Kita tak bisa disini karena kita terlalu mengekspose diri kita. Mundur kembali ke gudang,"


"Uukkhh....." lenguh Michkael. Agnes tersadar bahwa tak hanya dirinya yang terkena tembakan.


"Ayo aku bantu memapah dia," mereka memapah Rianna dengan kaki yang terpincang-pincang. Mencoba masuk kembali kegudang kosong. Beberapa anak buahnya masih ada yang selamat.


Sniper brengsek !!

__ADS_1


Agnes merobek kain dari ujung dress yang dikenakan oleh Rianna kemudian membalutkannya di lukanya hanya untuk menahan darahnya yang menetes akibat dari timah panas yang melesat tadi.


Kemudian dia melongokkan kepalanya untuk mencari tahu dimana sniper tadi berada. Setidaknya dia bisa mengarahkan senjata apinya tepat dikepalanya. Benar-benar diluar dugaan saat dia keluar dari gudang kosong itu malah dirinya terkena tembakan sesaat sesudah berhasil menyelamatkan Rianna.


Matanya terus mengawasi keadaan sekitar. Jika dia masih belum bisa menemukan sniper itu. Maka bisa dipastikan sebelum dia Sampai didalam mobil dia bisa saja sudah tewas karena sniper itu.


"Coba gunakan drone mu sekali lagi Michkael. Biar kita tidak mati secepat mungkin,"


"Nona anda bicara apa? Kita tidak akan mungkin mati cepat disini,"


"Sial jangan kebanyakan bicara ikuti perintahku. Kalau tidak kita bisa mati disini,"


Dor dor....


Suara tembakan kembali terdengar bersamaan dengan layar monitornya yang berubah menjadi buram.

__ADS_1


"Michkael ?"


"Mereka menembaknya !!"


"Ah sial," Agnes melempar layar monitor kecil itu. Benda itu terpelanting jauh.


Dasar brengs***. Kalian mencoba bermain halus ya? Cih niat hati ingin main halus tapi ternyata malah kami yang dipermainkan. Tetap saja mereka tahu bahwa kami menyusup masuk.


"Tunggu....Michkael kita dari awal tau disini penjaganya memang banyak tapi aneh bukan kita secara lancar dapat menyelamatkan Rianna. Mereka seakan tersebar dan tidak banyak penjaga yang berada di satu tempat,"


"Ada dua kemungkinan. Satu mungkin saja markas yang sesungguhnya bukan disini. Kedua, ini cuma pengalihan. Dan sepertinya memang markas mereka bukan disini nona. Mereka mungkin hanya menangkap nona Rianna dan belum menuju kemarkas pusat. Serta menempatkan seorang sniper handal diluar gedung. Otomatis untuk kita yang seakan sudah berhasil, kewaspadaan kita menjadi berkurang. Dan beginilah kita sekarang," Michkael meringis karena luka tembakannya tepat mengenai kakinya sebelah kanan.


"Kenapa mereka lama sekali menemukan sniper itu?" sungut Agnes kesal.


"Uh...." suara lenguhan kecil itu membuat Agnes dan Michkael mengalihkan perhatian kepadanya. Rianna terbangun. "Ah," mencoba mengamati keadaan sekitar yang masih asing.

__ADS_1


"Kau sudah sadar?" tanya Agnes.


Begitu menyadari apa yang terjadi tubuh Rianna mundur. Tiba-tiba saja tubuhnya bergetar hebat. Dia melihat Agnes dengan baju ala bertempurnya dan senjata yang menggantung dilehernya. Senjata yang mematikan begitu pikir. Pikirannya kalut. Air mata mulai mengalir diwajahnya yang cantik. Belum lagi dengan luka tembak dikakinya yang terlihat noda darah mengalir dari kain ujung dress miliknya.


__ADS_2