Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 367. Kebenaran 2


__ADS_3

baca novel author di noveltoon sudah rilis. "Kapten Rojali, I Love You. Buat pemenang 2 buku novel kapten rojali ditunggu ya. sabar. masih ada kesempatan untuk mendapatkan 2 buku gratis ya.


"Sedari bayi, Aretha sudah berada di sini. Ngomong-ngomong, terima kasih Nona Sabrina sudah menjadi teman untuk anak saya. Saya terkadang merasa bersalah, karena tidak bisa memberikan kehidupan yang baik untuk anak-anak saya," ungkap Bunda Ratih.


"Apa di sini tidak memiliki donatur tetap?" tanya Sabrina.


"Ada. Tapi, tidak tetap. Hanya dalam waktu beberapa bulan sekali. Sekarang kan, banyak sekali panti asuhan yang berdiri. Sedangkan panti asuhan ini, sudah lama berdiri dan terkadang terlupakan," jawab Bunda Ratih sembari meringis.


Sabrina mengedarkan pandangan ke sekitar. Memang benar, apa yang dikatakan oleh Bunda Ratih. Semua barang yang ada di tempat ini terlihat usang. Seperti sudah dipergunakan dalam waktu yang lama.


"Sabrina, maaf hanya ada teh saja di dapur," ucap Aretha seraya menurunkan dua cangkir teh untuk Aretha dan Bunda Ratih.


"Seperti terasingkan. Aku akan mencari tahu tentang panti asuhan ini. Kenapa aku tidak pernah melihat panti asuhan ini ya? Oh, benar. Ini di dalam gang kecil." Sabrina membatin.


*****

__ADS_1


"Hei! Kenapa kau terlambat sekali menyusulku?" gerutu Sabrina.


"Ck! Masih untung aku menjemputmu! Lagian, ngapain sih kamu mendadak ke tempat Aretha itu? Lagian ujung-ujungnya kamu minta aku untuk menjemputmu!" Artur mencebikkan bibirnya. Menyodorkan helm kepada Sabrina meskipun bibirnya mengomel.


"Hei, aku ini istri ayahmu. Tentu aku ini ibu tirimu! Wajar dong, aku minta tolong padamu! Ngomong-ngomong, kau biasanya pegang cash atau pakai kartu?" tanya Sanrina.


"Aku selalu dijatah per satu minggu, oleh ayah. Kenapa?" balas Artur. Kini Artur melajukan sepeda motornya.


"Hanya tanya saja!" tukas Sabrina.


Sabrina memilih masuk ke dalam kamarnya yang lama. Gadis itu segera membersihkan diri dan mengganti pakaian. Celana hot pants dipadu atasan kaos oblong berwarna putih.  Setelahnya, Sabrina berjalan menuju meja belajarnya. Di mana ada satu komputer yang akan menemaninya untuk mencari jawaban.


Jari-jari Sabrina bergerak di atas keyboard. Ia membobol satu data yang membuatnya penasaran. Masalahnya saat ini ada begitu banyak kemungkinan. Terlebih, setelah kejadian teror yang mengerikan tersebut. Siapa yang tahu, orang terdekat yang akan melakukannya.


"Aretha Larasati berusia 21 tahun berprofesi sebagai mahasiswi melalui jalur beasiswa. Hidup di lingkungan panti asuhan semenjak ia ditemukan di depan panti asuhan ketika bayi? Jadi, Aretha sudah hidup lama di panti asuhan?" Sabrina menggigit ujung kukunya.

__ADS_1


Imbuh Sabrina, "Apa aku telah mencurigai orang yang salah?"


"Curiga dengan orang yang salah? Siapa?" suara bariton yang tegas menyentak Sabrina. Membuat gadis itu menoleh ke ambang pintu. William, telah berdiri di sana.


"Uncle William?" Mendadak lidah Sabrina menjadi kelu. 


Mengapa ia bisa kecolongan begitu? Membiarkan pintu kamar miliknya terbuka. Jantung Sabrina mendadak bertalu kencang saat William berjalan ke arahnya. Sabrina memilih diam di tempatnya. Ia sudah kepalang basah berada di sana.


"Kau mencurigai sesuatu?" tanya William. Pria itu menatap layar monitor komputer. Milik Sabrina. "Kau sedang mencari data diri seseorang?" William seolah melupakan hal yang tadi pagi membuatnya marah.


"I-iya, Uncle," cicit Sabrina.


"Aku tadi ke rumah kedua orangtuamu. Aku juga bertemu dengan seorang wanita yang dipanggil dengan nama Queen," ujar William tanpa menoleh.


Mendengar nama Queen disebut William, mendadak wajah Sabrina pucat pasi. Bagaimana bisa, William mengetahui julukan sang mama sebagai ketua mafia?

__ADS_1


__ADS_2