Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 322. Sekretaris Baru


__ADS_3

Seminggu berlalu. Tak terasa, Sabrina masih saja betah berada di rumah minimalis itu. Akan tetapi, Sabrina mulai was-was. Pasalnya, William jarang sekali pulang ke rumah.


"Ini hari ketiga, Uncle William belum muncul. Kemana dia? Nomor ponselnya, juga tidak diangkat pas aku telfon. Aku yakin, ia menjauhiku. Tapi, nggak gini juga dong!"


Sabrina mondar-mandir di dalam kamarnya. Gadis itu melirik jam di dinding. Pukul 19:02 malam. Ia menjadi gelisah. Artur di sekolah pun sama. Remaja itu, mulai menghindarinya.


"Jika malam ini Uncle William tidak pulang lagi, besok aku akan nekat datang ke perusahaannya," gumam Sabrina.


Gadis itu lalu duduk di bibi ranjang. Menyugar rambutnya yang panjang, dengan jemarinya. Sesekali Sabrina menghela napas. Kekesalan Sabrina semakin menjadi, tak kala hingga larut William tak nampak.


"Brengsek! Baiklah, kau yang mengusikku!" gerutu Sabrina.


Gadis itu merangkak naik ke atas ranjang. Menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal. Malam kian beranjak naik. Sabrina perlahan terbuai sang mimpi. Hingga gadis itu mulai benar-benar terlelap. Terdengar dengkuran halus dan teratur, dari Sabrina.


Keesokan harinya, Sabrina telah bersiap. Seminggu lagi, akan ada liburan kenaikan kelas. Tetapi lihatlah. William sama sekali tak berbasa-basi sekedar, bertanya tentang ujian yang berlalu.


Saat sampai di sekolah, seperti biasa. Ketika ia berpapasan dengan Artur, maka remaja itu akan membuang muka. Semua siswa dan siswi, sudah mendengar isu tentang keduanya. Tentu saja membuat seseorang senang, karena keduanya kini nampak berjauhan.


"Lihat. Mereka bertengkar, bukan? Artur hanya milik Lita. Sabrina bukan apa-apa. Beruntung, kau Brina. Artur dan kau menjauh. Jika tidak, aku akan membuatmu malu," tukas Lita.


"Tapi Lit, nggak seru dong kalau Sabrina lepas gitu aja?" ucap Risma.


"Tenang saja. Sepertinya, Lita sudah memiliki ide," timpal Nuri.


Memang yang namanya penyakit hati itu, susah dihilangkan. Entah apa rencana mereka bertiga, padahal sudsh jelas Artur dan Sabrina saling menjauh. Nampaknya, hati nurani telah dikikis oleh penyakit hati.


Hari ini, Sabrina benar-benar tak fokus dalam pelajaran. Pikirannya tertuju pada William, yang sudah genap 3 hari 3 malam tak pulang. Mirip bang toyib, yang sedang mencari berlian. Akan tetapi berbeda dengan William, yang kehidupannya jauh lebih baik.


Bukankah William telah menerima bantuan dari Rendy? Pikiran Sabrina menjadi kalut. Dengan tangan terkepal, Sabrina akan mendatangi kantor William. Biar saja, William marah. Akan tetapi, William sudah keterlaluan.


Malam pertama, kami pisah ranjang. Malam-malam berikutnya, ia malah tidak pulang! Mamumu apa, Uncle William? Jangan membuatku serba nekat. Nyatanya, aku harus berbuat nekat lagi. Setelah itu, aku akan menghilang menjalankan misi pertamaku. Sabrina membatin gelisah.

__ADS_1


Beruntung, hari ini tak ada banyak pelajaran. Mengingat mereka semua telah selesai ujian. Sabrina langsung melesat keluar kelas, tatkala terdengar bel berbunyi. Gadis itu segera melesat menggunakan sepeda motornya, menuju kantor William. Tetapi ia mengumpat ketika di tengah jalan. Menyadari ia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Karena takut diusir, Sabrina mencari toko pakaian, terdekat. Setelah memilih dan berganti pakaian, Sabrina membayar bajunya kemudian berlalu.



Empat puluh kemudian, ia telah sampai di perusahaan William. Saat ia bertanya kepada sang resepsionis, ia justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.


"Aduh, Dek. Pulang sana. Ngapain sih, mau ngegebet om-om? Nggak baik, sana pulang," usir resepsionis itu bername tag Sasa.


Sialan! Suamiku memang om-om! Sabrina mencoba bersabar.


"Mbak Sasa, maaf. Tapi saya memang ada perlu, dengan Uncle William. Coba telfon Uncle William. Katakan padanya, putri dari anak Tuan Rendy Saputra Wijaya telah menunggu di meja resepsionis." Sabrina menekankan putri dari Rendy.


Maaf, Pa. Aku jual namamu. Hiks, aku tidak diakui oleh suamiku sendiri. Sabrina membatin perih.


Sabrina melihat dua orang resepsionis itu, saling menyikut satu sama lain. Ingin sekali Sabrina membalik meja. Tetapi ia urung. Hei, disini kantor milik suaminya. Bagaimana bisa, ia bersikap bar-bar? Sabrina berdecak kesal. Nasib-nasib. Bisa-bisa Sabrina mencari lubang semut, untuk menyembunyikan wajahnya.


Gadis itu mengulum senyuman terpaksa. Tapi nyatanya, dua orang itu malah mengabaikannya. Belum sempat Sabrina membuka suara untuk mengumpat, Ryu terlihat berjalan mendekati Sabrina.


"Nona Sabrina, apa yang Anda lakukan disini?" tanya Ryu.


Sontak saja, dua orang wanita pongah itu terkejut. Bagaimana tidak? Ryu, adalah orang kedua yang mesti dihormati setelah William. Posisi Ryu, tak kalah pentingnya dengan William. Tentu saja dua wanita itu, terlonjak kaget. Pasalnya, tiang dari perusahaan ini justru bersikap hormat kepada bocah ingusan di depan mereka.


"Mencari om-om," celetuk Sabrina. Membuat dua wanita itu berwajah pias.


"Om-om?" Dahi Ryu mengernyit. "Apa maksud Anda, Tuan William?" tebak Ryu.


"Memangnya, om-om mana lagi? Aku 'kan hanya punya dia! Kenapa masih bertanya?" debat Sabrina. "Cepat, antar aku ke ruangannya. Jangan membuatku emosi. Atau, kau ingin aku berbuat nekat disini?" ancam Sabrina.


"Baiklah, Nona Sabrina. Mari ikuti saya." Ryu pasrah.


Pria itu sadar diri. Karena saat ini, berkat Rendylah perusahaan William kembali aman. Akan tetapi dalam hati, Ryu memuji keunikan Sabrina. Dia adalah gadis yang masih muda. Terlebih, Sabrina memiliki wajah yang cantik. Sangat cantik malah. Akan tetapi, lucunya gadis belia itu justru tergila-gila pada pria berstatus duda.

__ADS_1


Diluar itu, Sabrina tak terlalu heboh seperti wanita kebanyakan. Ryu melirik sekilas pada Sabrina. Gadis itu nampak anggun. Tetapi Ryu sendiri sadar, sebesar apa rasa cinta dan penyesalan William terhadap mendiang istrinya terdahulu.


Jalan hidup seseorang, memang tidak akan bisa tertebak dengan mudah. Biarkan sajalah. Toh yang menjalani pernikahan mereka berdua. Kini Sabrina dan Ryu, terjebak dalam kebungkaman. Keduanya hanya berdiri, saat berada di dalam lift.


Ting.


Suara yang menandakan, lift telah sampai di lantai tujuan. Pintu lift terbuka. Sabrina dan Ryu keluar dari lift. Keduanya menuju ruangan, yang bertuliskan presdir. Saat pintu terbuka, iris biru Sabrina melotot sempurna. Di dalam sana, William sedang memangku seorang wanita bertubuh sintal. Bahkan pakaian wanita itu terlihat sekali, minim bahan.


"Apa ini yang dinamakan kerja?" suara tegas Sabrina membahana di ruangan milik William.


Wanita itu tersenyum sinis kearah Sabrina. Ia bangkit dari pangkuan William. Sedangkan William sendiri, hanya membenahi pakaiannya.


"Siapa Anda, Nona?" tanya Wanita itu.


"Aku? Kau tidak berhak tahu. Kau siapa? Apa itu etikat seorang pekerja?" tanya Sabrina.


Dari kalimat penegasan Sabrina, William nampak mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Saat ini di matanya, Sabrina terlihat begitu berbeda.


"Anda tidak akan mengerti, Nona. Kami sedang berdiskusi, tentang hasil laporan perusahaan." Wanita itu mencoba untuk mengelak.


"Laporan?" ulang Sabrina.


Detik berikutnya, denting suara langkah kaki terdengar. Sabrina berjalan mendekati meja presdir. Dengan santai, Sabrina mengamati laporan berkas. Sabrina melirik wanita itu dengan sinis. Sudit bibirnya terangkat.


"Apa ini pekerjaanmu?" desak Sabrina.


"Benar. Kenapa, Nona? Apa Anda tidak mengerti tentang laporan itu? Ah, maaf. Anda kan masih bau ingusan," ejek wanita itu.


Pak. Sabrina melemparkan berkas yang dimaksud wanita itu. "Dasar brengsek! Ini adalah perusahaan berkembang! Bagaimana bisa, kau bermain-main dengan laporan perusahaan itu? Matamu bermasalah? Oh, maaf. Kau sudah tua. Ups! Keceplosan. Lagipula, kau harusnya ingat umur dan tempat dong. Masa ngerayu di tempat orang mencari rezeki, sih! Gimana kalau rejeki para karyawan disini, hilang karena perbuatan kotormu itu?"


William dan Ryu nampak terkekeh. Sekuat tenaga, mereka menahan tawa. Bagaimana tidak? Mereka tahu seperti apa, niat sang sekretaris baru itu.

__ADS_1


Ya Tuhan. Sindiran Sabrina tepat sasaran sekali. Batin William dalam hati.


__ADS_2