
"Ma, lihat ini. Kamu pesan banyak makanan apa bisa menghabiskannya?" Artur meletakkan pesanan Sabrina di meja.
Sabrina pun menjulurkan lehernya. Seulas senyuman tipis terbit di bibirnya. "Terima kasih, Artur."
"Ayolah, Will. Kami ke sini ingin menawarkan kerjasama." Dante mendesak. Seolah tak sabar untuk menjalin kerjasama dengan William. Akhir-akhir ini Xander Grup menjadi topik panas. Mengakuisisi dua perusahaan sekaligus. Terlebih, Xander Grup yang digadang-gadang menjalin kerjasama dengan perusahaan Wijaya.
William melirik Sabrina. Pria itu meminta persetujuan dari sang istri. Setelah Sabrina mengangguk, William menghela napas dan beranjak dari posisinya. Ia terlihat lesu. Sabrina paham. Akan tetapi Sabrina ingin William menghargai temannya. Sekalipun teman-teman William memiliki sifat culas.
"Tidak menutup kemungkinan, jika Dante dan Ardi akan berulah ke depannya. William, aku harap mereka tidak mengusik kita. Terlebih Anggi." Sabrina membatin seraya mengepalkan kedua tangannya.
Artur dan Sabrina menikmati makan siang dalam diam. Keduanya tahu jika William dan sahabatnya sedang membahas kerjasama. Untuk itulah, Sabrina dan Artur makan dalam diam. Sesekali berbicara masalah tugas kampus.
"Bukannya perusahaan ini atas namamu, Will? Kenapa kamu harus minta izin pada istrimu? Dia tidak akan mengerti apapun tentang ini. Jangan bodoh soal cinta, Will!" Anggi berseru. Wajahnya yang merah menandakan jika ia sedang marah.
William tampak bangkit. "Maaf, ini masalahku. Jika kalian keberatan dengan kerjasama kita, aku tidak masalah. Karena memang apapun yang bersangkutan dengan perusahaan ini, istriku berhak membacanya."
__ADS_1
William berjalan mendekati Sabrina yang telah selesai menikmati makan siang. Pria itu memberikan berkas yang baru saja ia bahas dengan sahabat lamanya. Sabrina menatap William seksama. Tatapan yang dalam dan penuh cinta. Semburat rona jingga terbit di kedua pipi Sabrina.
"Jika kau setuju, aku akan menandatanganinya," ujar William.
"Aku tidak percaya ini. Sahabatku terlalu mencintai gadis belia." Ardi menggerutu seraya menatap sinis ke arah Sabrina.
Sedangkan gadis yang disindir, memilih diam. Bukankah pepatah mengatakan jika tong kosong nyaring bunyinya? Sabrina tidak ingin terlalu memasukkan dalam hati kata-kata pedas orang lain. Ia memilih mengamati setiap tulisan-tulisan dari berkas yang diberikan oleh William. Gadis itu terus menelisik semua kesepakatan yang telah dibahas oleh William dan sahabatnya.
"Kupikir ini bukan ide baru," ucap Sabrina setelah sekian lama ia bungkam.
Sontak saja pandangan Dante, Ardi dan Anggi memandang dengan sorotan tajam ke arah Sabrina. Yang ditatap hanya fokus dengan berkas di tangannya.
Sabrina menghela napas. Lalu berkata, "Memang kita hidup di zaman modern. Zaman canggih serta berbagai sarana dan prasarana yang lebih maju. Namun, jangan lupakan kita sebagai manusia bisa lelah. Rutinitas dengan jadwal yang padat bisa membuat manusia stres. Dengan pemandangan alam yang menyejukkan mungkin bisa."
Sabrina mengambil pensil dan kertas kosong. Lalu mulai dengan menuangkan gambaran yang ada di dalam pikirannya. Ditambah keterangan-keterangan tentang fasilitas yang modern mungkin bisa dipadukan dengan suasana alam.
__ADS_1
"Kupikir ini ide bagus." Ardi mendatangi Sabrina dan mengamati gambaran yang diterangkan oleh Sabrina. "Ini sudah ada si pelososk-pelosok. Tidak ada salahnya memang, mencobanya di tengah-tengah kota. Dengan fasilitas salon yang lengkap, ditambah hotel serta restauran. Karena biasanya restoran di pinggiran kota memang alamnya sudah indah dan mendukung. Bukankah ini menantang? Kita memulainya dari nol. Ini benar-benar kita yang memulainya." Ardi terlihat sangat puas.
"Sabrina, aku semakin ingin menjadikanmu milikku. Tidak kupingkiri jika William sendiri bisa tergila-gila padamu. Namun, jangan memanggilku Dante jika aku tidak bisa menaklukkan gadis sepertimu." Dante berkata dalam hati.
"Will, kayaknya aku harus pulang deh. Papaku nyuruh aku nemenin mama. Nanti bicarakan saja kelanjutannya dan buat kesepakatan yang tertulis. Kirim di grup yang ada kita-kita ya? Katakan saja, berapa investasi yang menjadi bagianku. Aku permisi." Anggi berlalu dengan terburu-buru.
Dante pun bangkit. Ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. "Will, aku juga pamit ya. Kita sudah sepakat. Suruh asistent pribadimu yang mengurus hasil meeting kita. Juga berapa yang harus aku investasikan."
Pria itu berlalu setelah mengatakannya. Selang beberapa saat, Ardi juga pamit undur diri. Kini di dalam ruangan hanya tersisa tiga orang saja. Ryu masih ada di ruangan sebelah.
"Honey, kau baik-baik saja?" tanya William.
Sabrina memijit pelipisnya. "Mereka terlalu banyak bicara."
"Ayah, sepertinya Mama sedang sakit. Dari tadi wajahnya pucat. Aku sudah bilang akan mengantarnya ke rumah sakit. Sayangnya, Mama menolak." Artur mengadu ke William tentang keadaan Sabrina.
__ADS_1
"Honey, jika kamu sedang sakit, kenapa tidak pulang saja?" tanya William.
"Jika aku tidak ke sini, maka tidak menutup kemungkinan suamiku akan digoda ulet bulu!" Sabrina berucap lantang.