
Elena mendesis saat dirinya mendapari satu fakta bahwa Rendy telah pergi dari mansion. Gadis itu terlihat termenung di meja makan. Mencoba mengingat kesalahan yang ia perbuat. Hingga membuat Rendy pergi dari mansion. Rasa kekalutannya tak terelakkan. Ia begitu takut jika ia ditinggalkan lagi. Menjadi seseorang yang tak berharga didunia ini.
"Kenapa begini paman? Apakah benar kau juga tak ingin aku ada dihidupmu? Tak bisakah aku ada di dekatmu? Kenapa lagi-lagi aku ditinggalkan? Aku hanya terlambat pulang sebentar. Karena ada misi yang luar biasa penting. Kenapa paman justru malah meninggalkanku dimansion ini? Apa kau tidak takut jika aku merampok di mansion ini?" gumam Elena.
"Nona … Ini sarapan anda," ucap salah seorang maid yang ada disana.
"Terima kasih." Elena sejenak menatap nasi goreng seafood yang kini tersaji dihadapannya. Perutnya reflek berbunyi melihat pemandangan yang begitu menggiurkan.
"Sama-sama Nona. Kalau begitu saya undur diri." Saat maid itu hendak pergi meninggalkannya, Elena segera bertanya kepadanya.
"Hei … Anu apa kau mendapat kabar dimana paman Rendy berada? Kenapa dia tidak pulang ke mansion?" tanya Elena penasaran.
"Maaf Nona saya hanya bekerja disini. Karena memang terkadang tuan muda tidak pulang. Meski begitu, beliau tidak mengatakan apapun saat dia kembali dan saya disini hanya seorang pelayan. Permisi Nona." Maid tersebut undur diri sebelum Elena melemparkan pertanyaan berikutnya.
"Kemana kau paman? Kau tidak lihat? Nasi goreng yang terlihat begitu nikmat ini ada dimejaku tapi rasanya aku tak nasfsu makan. Seperti ada sesuatu yang hilang saja." Elena menjatuhkan kepalanya diatas meja.
"Kenapa kau mencariku hah?" sebuah suara bariton menyadarkan lamunannya. "Tolong, aku mau nasi goreng itu."
__ADS_1
"Baik Tuan Muda." Maid segera beranjak untuk menyiapkan titah dari sang majikan.
"Paman!" panggil Elena dengan kencang. Bahkan wajah gadis itu terlihat berseri-seri.
"Sedetik yang lalu kau sama sekali tak tersenyum. Lalu mengapa sekarang kau tersenyum seolah ada sinar mentari yang bersinar cukup terang?" tanya Rendy sembari mendudukkan bokongnya dikursi. Diikuti Kei yang senantiasa berada disampingnya. "Kei duduk!"
Kei menurut. Lelaki dingin itu menjatuhkan bokongnya dikursi. Tepat disamping Rendy. Kemudian lelaki itu menatap tajam kearah Elena yang masih saja tersenyum tanpa suatu hal yang jelas. Elena mencebik saat dirinya tak sengaja menangkap tatapan tajam dari Kei.
"Aku hanya mencari angin saja tadi malam. Ada apa mencariku?" tanya Rendy.
Bruft. Seketika Rendy terkejut saat dirinya sedang meminum air putih. Lelaki itu segera menatap tajam kearah Elena. Tetapi gadis itu masih sama, dia masih saja tersenyum tanpa sebab yang pasti. Membuat Rendy salah tingkah. Sesaat dua orang maid menyuguhkan nasi goreng, Rendy segera mengalihkan topik.
"Ayo kita sarapan. Nasi goreng ini tidak akan selezat ini jika sudah dingin," ucap Rendy.
"Baik Paman!" Elena segera memulai rutinitas mengisi perutnya. Rasanya cacing didalam perutnya saat ini sedang berdemo karena dirinya yang terlalu lama merenung.
****
__ADS_1
"Paman … Ayo kita jalan-jalan," ajak Elena saat keduanya telah selesai sarapan.
"Aku masih harus kekantor. Ada banyak pekerjaan yang hari ini harus ku selesaikan. Kau tidak kuliah?" tanya Rendy.
"Paman … Jika kau tidak ingin jalan-jalan denganku, ya sudah. Jangan mengejekku. Mana mungkin aku punya uang untuk kuliah. Lebih baik gaji dari Paman aku tabung saja. Untuk berjaga-jaga jika suatu hari nanti Paman menendangku," sahut Elena.
"Apa maksudmu?" tanya Rendy penasaran dengan ucapan yang dilontarkan oleh Elena.
"Paman … Kau dan aku berbeda. Kau mungkin bisa mendapatkan uang dengan mudah. Tetapi tidak denganku. Aku harus bekerja keras terlebih dahulu jika aku ingin mengisi perutku. Sedangkan kau, dengan menjentikkan jarimu saja kau pasti sudah punya uang. Kau dan aku berasal dari dua dunia yang berbeda. Kita hanya disatukan oleh sebuah kesepatan saja. Bukankah begitu? Sudahlah Paman. Aku mau ke taman belakang dulu," tutur Elena. Ada rasa sesak didalam hatinya yang entah itu apa. Yang jelas, perbedaan antara dirinya dan Rendy begitu jauh selain usia.
Rendy mendesah sembari menatap punggung Elena yang semakin jauh dari pandangan kedua matanya. Pikirannya berkecamuk tentang Elena. Jika diperhatikan gadis itu tak pernah berulah. Hanya kemarin saja dia pulang terlalu malam.
"Ada begitu banyak rahasia tentang Elena yang masih belum bisa terungkap. Identitas aslinya, masa lalunya, lalu kata-kata Elena yang seperti pernah dibuang. Bukankah begitu Kei?" Rendy mendesah pelan.
"Benar Tuan Muda. Terlebih ketakutan dari nona Elena saat mendengar anda mengatakan kepada saya untuk melemparnya kejalanan. Saya rasa masa lalunya tak menyenangkan sehingga membuat nona Elena bersikap lain. Bukankah saat anda menyinggung tentang kuliah itu nona Elena terlihat berbeda?" Kei membenarkan ucapan Rendy.
"Hem." Rendy masih menatap nanar punggung Elena yang semakin menjauh dari pandangannya.
__ADS_1