
Tubuh William terasa mau patah ketika esok harinya. Pria itu merenggangkan badannya yang terasa kaku dan sakit. Sesekali William meringis mendapati kenyataan begitu miris hidupnya setelah salah paham itu.
"Lo, Ayah kenapa ada di sini?" Artur tampak telah selesai bersiap. Sepertinya ia hendak sarapan.
"Ck! Biasa. Ada masalah sama Sabrina. Jam berapa ini?" tanya William.
"Jam 8 pagi." Jawaban Artur membuat William segera berdiri. Pria itu tanpa mengatakan apapun berlalu dari hadapan Artur. "Ayah kenapa sih? Aneh banget. Sudah tidur di sofa ruang tamu. Sekarang malah ngeloyor pergi gitu aja." Artur menggerutu.
Lalu ia berjalan menuju ruang makan. Di satu kamar terlihat seorang gadis yang telah rapi. Ia mengambil tas kecil yang ada di rak khusus tasnya. Tanpa sengaja ia berhadapan dengan pria yang tengah terburu-buru.
"Honey, kenapa kau tidak membangunkanku?" William mendekati Sabrina.
"Hm. Aku baru bangun. Setelah dari kampus, aku akan ke kantor. Jika aku tahu kau macam-macam lagi, ingat aku akan menghukummu. Sudah, aku buru-buru." Sabrina berlalu meninggalkan William yang termangu.
"Baiklah, William. Kau harus tahu kesalahanmu." William berlalu menuju kamar mandi. Ia harus bergerak cepat. Setelah mandi dan berpakaian rapi, ia berjalan menuju ke ruang makan. Benar saja, Sabrina dan Artur telah selesai sarapan.
"Kok nggak nungguin?" tanya William.
__ADS_1
Artur tak menjawab. Ia melirik Sabrina. "Maaf, Yah. Buru-buru."
Sabrina bangkit lalu mengulurkan tangan. William yang paham, ia segera mengulurkan tangannya. Sabrina pun mencium punggung tangannya dengan takzim. Setelahnya Sabrina melangkahkan kaki meninggalkan ruang makan.
"Ayah tenang saja. Aku akan menjaga mama," ucap Artur.
"Mama?" William mengerutkan dahi.
"Dia kan mamaku. Jelas aku manggil mama. Kenapa Ayah kaget?" tukas Artur.
Artur menganggukkan kepala. Setelah mencium tangan William ia kemudian berlalu tanpa bersuara lagi. William menggelengkan kepala pelan. Sabrina benar-benar menghukumnya dengan cara sendiri.
"Mama dan Ayah bertengkar?" tanya Artur.
Kini keduanya berada di dalam mobil Lamborghini Veneno milik Artur. Mobil pemberian dari Elena kemarin malam. Padahal dia hanya mengatakan asal jika ia menginginkan mobil yang sama seperti milik Sabrina.
"Di kampus jangan memanggil mama." Sabrina berkata tanpa menoleh. "Aku hanya memberikan pelajaran kepada ayahmu. Agar dia lebih menjaga hatiku. Aku mencintainya dengan tulus, Artur. Aku hanya ingin dia bisa memahami hatiku. Sekalipun ada banyak wanita di sekitarnya. Setidaknya tolong jaga hatiku. Sedikit lebih tegas pada wanita yang gatel. Padahal aku menjaga dengan sangat perasaannya. Kau tahu itu kan?"
__ADS_1
"Yakinlah, Ma. Hanya Mama yang bisa mematahkan hatinya. Karena dia baru saja menerima Mama menjadi istrinya kan?" Artur menyahut.
"Ih, gelay! Jangan manggil mama dong!" protes Sabrina. Kali ini ia menoleh ke arah Artur. Terlihat sekali jika wajahnya sangat kesal.
"Lo. Bagaimana sih? Kau kan istri ayahku. Jelas aku manggil Mama dong. Nggak sopan manggil' nama saja." Artur menolak keluhan Sabrina.
Sabrina merinding. "Yakin, nih. Aku merinding. Jangan manggil mama dong. Usiamu aja seumuran denganku."
Artur memutar bola mata. "Nggak usah protes deh. Takutnya ayah dan oma akan memarahiku. Bukannya harusnya Mama senang aku manggil Mama?"
Sabrina yang kesal tak langsung menjawab. Ia menatap tajam Artur. "Oke. Kalau begitu jangan panggil aku mama di kampus. Takutnya orang akan berpikir macam-macam."
"Ih, nggak bisa dong. Harus tetap Mama." Artur kekeh tak ingin menuruti kata-kata Sabrina.
"Artur!"
"Bisa gawat kalau mereka berpikir macam-macam. Ya kali mereka percaya Artur anak sambungku. Takutnya enggak. Lebih buruknya lagi akan ada banyak hujatan yang ditujukan padaku. Serba salah!" Sabrina membatin resah.
__ADS_1