
Like tembus 500 aku up banyak ya sayang 💖
Gerakan singkat namun mematikan memang hanya Ardan lah yang mampu menguasainya. Maka dari itu, jika Ardan sudah mengajak berduel tangan kosong itu berarti dia mulai serius menanggapi.
Selama ini tidak ada yang memahami dengan jelas karakter dari Ardan Wijaya. Dimana biasanya dia menjadi sosok yang begitu dingin dan misterius. Hingga lelaki itu mendapatkan julukan Dark Knight atau Satria Kegelapan. Tak banyak yang mengetahui sosok Ardan Wijaya memang.
Lelaki bertopeng itu menggerakkan perlahan tangannya. Hingga membuat terdengar suara bidikan tembakan senjata api yang begitu memekakkan telinganya.
Dor!
"Arghhhttt ... " Terdengar sebuah erangan panjang dari mulut lelaki bertopeng itu.
__ADS_1
Ardan menyipitkan kedua matanya. Untuk melihat siapa orang yang mengeluarkan senjata apinya. Sesosok dalam kegelapan melangkah dengan pasti menuju kearahnya. Kaisar, sosok itulah yang melaju dengan wajah tanpa ekspresi. Lelaki itu menenteng sebuah senjata api berjenis Heckler & Koch HK416. Kemampuan senapan ini dapat menembakkan 900 butir peluru tiap menit.
Kaisar telah sampai disampingnya. Jika disamping Smith, ada Rangga sang eksekusi. Maka dari itu, disamping seorang Ardan Wijaya ada Kaisar sang eksekusi. Dengan sebuh isyarat kecil, pasukan tambahan yang dibawa oleh Kaisar bergerak.
Memberikan tembakan hingga tak terhitung kearah lawan. Seketika pasukan lawan yang hendak membalas tembakan itupun sudah kalah telak terlebih dahulu. Karena pasukan tambahan milik Kaisar adalah pasukan yang tersembunyi. Maka hanya saat mereka menembaklah, baru bisa diketahui keberadaannya. Mereka biasa disebut pasukan bayangan.
"Ardan Wijaya kau curang!" Teriak William.
Kaisar membawa lututnya untuk menendang lelaki bertopeng itu. Terdengar suara gemelutuk dari giginya yang saling bergesekan. Kedua netra hitamnya menatap horor ada sosok yang telah terjungkal.
"Omong kosong!" Kaisar emosi. "Kau pikir aku buta? Aku melihat sebuah isyarat dari tanganmu. Meskipun perlahan namun aku masih mampu melihatnya dengan jelas."
__ADS_1
"Ha ha ha ... Baiklah baiklah. Aku mengaku kalah kali ini. Eh aku lupa. Bagaimana dengan nyawa seorng gadis yang bermata biru itu? Bukankah dia seorang gadis yang sangat cantik bukan Ardan?" William menyeringai. Dia sekarang percaya diri. Jika Ardan Wijaya pastinya akan menyerah.
"Dasar brengs*k!" Umpat Smith. Lelaki paruh baya itu lalu maju kedepan. Kedua tangannya mencengkeram kerah kemeja milik William. "Beraninya kau bermain curang! Cepat beritahu aku dimana Rianna! Kalau tidak aku akan membunuhmu!"
"Ha ha ha sebelum itu terjadi aku bisa memastikan jika gadis itu pasti lebih dulu digarap oleh anak buahku. Ha ha ha Smith ... Tak kusangka kau memiliki seorang anak gadis yang cukup menawan. Kau tau awalnya aku sama sekali tak percaya. Tetapi saat aku melihat kau mengurus semua berkas-berkas gadis itu, aku semakin yakin jika kau memang ayahnya. Serta Ardan sangat menyayanginya bukan?" William kembali tertawa. Seakan tak peduli jika nyawanya justru kini diujung tanduk. Padahal semua anak buahnya sudah tumbang berlumuran darah.
"Kau bajing*n! Jika sampai seujung kukunya hilang atau sehelai rambutnya hilang, lihat saja aku akan mengulitimu William!" Teriak Smith dengan kedua mata yang tajam. Apa saja, mungkin jika William mengusik hartanya dia akan merelakan. Tetapi tidak dengan anak gadisnya. Terlebih Rianna sudah menderita sedari kecil. Dirinya pasti tak akan mampu jika harus hidup dengan melihat anak gadisnya terluka.
"Smith ... Kau tau? Anak buahku rata-rata laki-laki. Aku tanya padamu. Apa yang akan terjadi saat para lelaki yang kesepian itu melihat anak gadismi yang begitu molek? Sudah pasti akan digarap bahkan digilir Smith! Ha ha ha." Kata-kata dari William membuat darah Smith mendidih.
"Beraninya kau!" Gertak Smith dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Papa!"