
Ani masih terdiam. Mencoba menelaah semua kejadian yang membuatnya sesak. Namun tetap melanjutkan aktivitasnya menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya. Entah apa yang seru, sehingga membuat Ardan sedikit mengabaikannya.
Mending aku segera kabur aja dari sini. Ketimbang makan ati.
"Mas.... Aku udah selesai." Bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyambar kotak bekal yang sudah dia siapkan untuk anaknya. "Aku tinggal ya ..... Mau siap-siap dulu."
Ardan memandang lekat punggung istrinya. Dari kata-kata istrinya dia merasa ada yang salah.
Kenapa dia buru-buru banget ya.
"Kak? Ada apa?" Tanya Riana heran ternyata dia memperhatikan setiap mimik wajah Ardan.
"Enggak..... Oh ya Kevin mana?" tanya Ardan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin kencan." Sarkas Dion.
"Wah masih langgeng aja sama Cindy. Aku pikir gak bakalan lama. Betah juga ya." Sahut Rianna sembari tersenyum.
"Mereka sudah putus tuh?" Ceplos Dion.
"Yang bener kak Ardan? Lah tadi kak Dion bilang katanya kencan. Kalau gak sama Cindy sama siapa lagi? Punya pacar baru? Ah aku penasaran."
"Jangan penasaran. Sudah makan yang banyak. Aku mau nyusul istriku dulu." Mulai bangkita dari tempatnya duduk. Namun sebuah tangan menahannya.
"Tunggu kak. Memangnya kakak ipar mau kemana? Ini hari Minggu loh." Meletakkan sendoknyaa setelah dia menyuapkan suapan terakhir kedalam mulutnya.
"Mau kemansion mami sama papi. Biasanya hari Minggu pasti kesana."
__ADS_1
"Boleh aku ikut kak?" Tanya Rianna dengan mata berbinar.
"Kamu baru aja nyampek!!! Jangan bikin ulah. Sudah Kakak iparmu pasti sudah menunggu." Ardan segera melesat menuju kamarnya. Dia yakin istrinya pasti salah paham. Karena sejak kedatangan Rianna istrinya bahkan membuang muka sesaat dia mulai menatap matanya. Dia tahu betul istrinya seperti apa. Ani, memiliki sikap ramah pada siapapun, lembut dan tegas. Namun saat ini wanita itu bahkan terkesan menghindarinya. Dia hafal betul.
Tok tok tok..... Ardan mengetuk pintu kamarnya. Kemudian seseorang membukakan dia pintu. Setelah pintu kamar itu terbuka. Ani bahkan menyambutnya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Sayang kamu kenapa?" Mulai beringsut ke tempat istrinya berada. Pertanyaan yang dia lontarkan pun nihil tak dijawab olehnya.
"Sayang..... Tolong jangan begini. Ada apa?" Sekali lagi mencoba mengajak sang istri untuk bicara. Dan lagi, sekali lagi pertanyaan itu hanya mampu terlewat begitu saja seperti angin. Bagi istrinya itu, aktivitas yang dilakukannya saat ini seakan lebih penting dari apapun.
"Sayang!!" Membalikkan tubuh istrinya. Karna berkali-kali mengajak bicara. Lawannya malah diam seribu bahasa.
"Apa sih mas? Aku buru-buru loh.Ngapain mas Ardan kesini. Mas gak nemenin dia?" Mencoba mengekspresikan wajahnya sedatar mungkin.
"Dia?"
"Kamu kenapa buru-buru?" Tanya Ardan. Kini suaranya sudah turun dua oktaf.
"Ya ampun mas apa lagi? Ya kan aku mau ketempat Rendy pasti Rendy sekarang udah nungguin aku."
"Yakin?" Ani menganggukkan kepalanya dengan cepat. Niat hati ingin segera pergi dari tempat sialan ini namun Ardan malah merecokinya batinnya. "Kok aku ngerasa kamu ada yang aneh ya sayang."
Ani memutar bola matanya. Kesal.
"Kenapa diam? Apa gara-gara Rianna?" Tanya Ardan.
Tepat !!! Tapi kamu gak peka jugakan.
__ADS_1
"Kenapa Riana? Udah dong mas ini masih pagi. Jangan ngajak ribut gini."
"Aku gak ngajak ribut!!! Aku kan cuma ngomong kamu aneh semenjak pagi."
"Kakak ipar !!!" Teriakan Rianna membuat Ani dan Ardan menoleh kearah sumber suara. Bahkan gadis itu kini sudah muncul diambang pintu kamar mereka dengan senyum yang merekah. Dan lagi Rianna terlihat sudah mengganti pakaiannya.
💕💕💕
Ani POV
Tunggu..... Dia mau kemana. Kulirik mas Ardan yang masih termangu. Kalau orang lain pasti udah habis. Baiklah apa memang seharusnya aku menghempaskan Rianna dari hidup kami. Kenapa sepertinya aku yang bakalan ngenes.
"Tunggu.... Kamu mau kemana RI? Aku kan nyuruh kamu untuk istirahat bukan untuk keluyuran!!!" Sentak Ardan.
Aku terlonjak kaget. Bagaimana bisa mas Ardan seperhatian itu pada gadis lain. Bukankah mas Ardan orang tertutup. Selama aku bersamanya dia memang tipe laki-laki yang dingin. Ah tunggu laki-laki...... Benar.... Sepertinya semua laki-laki sama !!!
"Kakak!!! Aku mau ikut kakak ipar. Bukan keluyuran!!!" Rianna kembali berteriak sesuka hatinya. Aku mendengus kesal. Memang kapan aku mengajaknya?
"Diam!!!" Teriakku. Aku paling tak suka jika ada yang berteriak didepanku. Terlebih lagi gadis dihadapanku ini. Yang membuat emosiku tersulut sejak semalam. "Udah mas. Aku makin kesiangan. Kalau dia ikut aku ya udah. Jangan bikin kesel gini."
"Sayang!!! Dia baru aja turun dari pesawat !!! Seharusnya dia tidur melingkar di kasur yang hangat !! Ini malah mau keluyuran."
Bodoh amat. Kusambar kotak bekal dengan kasar untuk anakku. Kemudian aku melangkahkan kakiku dengan mantap menjauh dari kamar kami. Hatiku seakan tercabik mendengar kata-kata dari mas Ardan.
"Kakak ipar tunggu!!"
Kuabaikan semua panggilan dan teriakan dari mereka yang membuatku kesal. Aku melangkahkan kakiku dengan mantap dan cepat untuk segera menjauh dari mereka semua. Benar-benar pagi yang buruk. Umpatku kesal.
__ADS_1