Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 53


__ADS_3

"Itu nomorku. Simpan !!! Dan jangan banyak nanya !!" Kevin menatap Monica yang keheranan.


"Iiiiya tapi.... Darimana kamu dapat nomorku?"


"Surat lamaran !!" Kata Kevin tegas. Seorang pelayan pun menghampiri meja mereka menyerahkan bungkusan makanan. "Terima kasih. Ayo pulang." Kevin pun berdiri. Monica mengangguk dan mengikuti Kevin. Mulutnya sudah ia bungkam rapat-rapat takutnya kejadian sewaktu memasuki restorant terulang lagi.


Hening tak ada pembicaraan sama sekali. Terbungkam dengan pikirannya masing-masing. Hingga tak terasa mobil Kevin sudah sampai dihalaman rumah Monica. Rumah itu biasa. Seperti rumah-rumah kebanyakan.


"Makasih mas udah mau nganterin saya pulang. Makasih juga buat makanannya." Monica tersenyum. Sebenarnya dia tahu jika Kevin memesan banyak makanan namun sebagian yang dibungkus itu bahkan belum tersentuh sekalipun. Mungkin lelaki didepannya itu memang sudah berniat dari awal membawakan makanan untuk keluarganya dirumah.


"Iya... sudah sana masuk. Habis mandi langsung tidur."


"Iya mas. Mas Kevin hati-hati juga dijalan." Monica mengembangkan senyum manisnya.


Deg deg deg.... Astaga ni jantung. Kevin.


"Oke." Kevin pun berjalan menuju mobilnya. Didalam mobil dia benar-benar gelisah merutuki sikap kekanakannya tadi. Selanjutnya dia mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.


Monica pun berbalik setelah mobil Kevin tak terlihat. Dia pun masuk ke dalam rumah.


"Diantar siapa nak?" Tanya Gunawan. Saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya dia membuka sedikit gordyn jendelanya. Terlihat sosok anak gadisnya pulang diantar seorang lelaki. Belum sempat menjawab pertanyaan ayahnya ibunya pun ikut nimbrung. Siti.


"Pacarmu ya?" Tanyanya kepo. Pasalnya anak gadisnya itu selama ini tak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Mereka tak melarang jika anak gadisnya menjalin hubungan asmara. Namun mereka harus tau dengan jelas siapa laki-laki itu. Dan Monica harus tahu batasannya.


"Monica kan udah bilang sama ayah sama ibu kalau Monica dapat kerjaan. Na itu bos Monica".


Ayah dan ibunya saling melemparkan pandangan. Bagaimana mungkin seorang atasan mau repot-repot mengantarkan karyawannya pulang sampai kerumah bahkan memberikan makanan sebelum pulang. Kalau bukan kekasih berarti teman dekat. Begitu pikir mereka.


"Yang bener?" Ayah Monica pun melontarkan pertanyaan. Seakan tak percaya jika laki-laki yang mengantarnya pulang adalah atasannya tempat dia bekerja.


"Iya yah. Mana mungkin Monica bohong sama ayah sama ibu. Itu teman suami Ani."

__ADS_1


"Ani yang kamu ceritakan kemarin?" Ibu Siti pun mencoba memperjelas.


"He'eh." Monica menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah sana bersih-bersih. Makanannya ibu hidangkan dimeja ya nak. Ibu tau kamu pasti capek. Ibu bikinin teh anget juga."


"Monic udah makan kok Bu. Itu buat ayah ibu sama adik-adik saja. Monica mandi dulu. Teh anget ya boleh Bu."


Ibunya mengangguk. Tak ingin bertanya lebih lanjut lagi.




"Ya ampun Monica. Kamu bener\-bener deh bikin jantungan terus. Gila. Gini ya rasanya harus berjuang demi cinta. Pantesan Ardan frustasi. Dulu waktu sama cecyl gak gini banget deh. Butuh berapa lama ya aku bisa taklukin hatimu? Ardan saja butuh waktu dua bulan dapetin hati istrinya. Ckckck... Tapi aku gak bakalan nyerah. Aku harus dapetin kamu." Kevin bergumam saat mengemudi mobilnya. Dia tak pernah berjuang seperti ini. Bersikap sok cool hanya untuk seorang gadis.




"Sayang menurutmu apa Monica akan membuka hatinya untuk Kevin?" Tanya Ardan sambil merebahkan tubuhnya disamping istrinya yang sedang membaca novel milik Monica.



"Aku gak tau mas soalnya Monica itu anaknya kurang perduli masalah percintaan. Anaknya terlalu santai." Ani menoleh sebentar kearah Ardan dilihatnya suaminya itu memainkan ponselnya.



"Coba besok tanyakan. Kevin sama kayak aku. Didesak oleh mamanya secepatnya nikah. Tapi anak itu sampai sekarang bahkan belum menemukan sosok yang cocok. Namanya juga lelaki dengan status sosial tinggi. Ya dikejar gadia\-gadis lah."


__ADS_1


"Emmm... Apa papanya mas Kevin galak?" Ani membayangkan jika saja orang tua Kevin galak. Pasti kasihan Monica.



"Papanya udah gak ada. Tinggal mamanya saja dalam hidupnya. Kemarin dia putus sama pacarnya karna yahhhh pacarnya malah selingkuh sama orang tua yang bahkan lebih pantes jadi paman atau ayahnya."



"Kayaknya sama deh kayak aku. Aku kan juga sudah menikah dengan laki\-laki berumur."



"Hei beraninya ya kamu memanggilku tua !! Nyatanya aku bisa mengikatmu." Ardan memonyongkan bibirnya.



"Maksudku kan sama\-sama pria yang sudah berumur. Bukan bilang mas sudah tua." Ani tak mau kalah. Dia memang bilang Ardan berumur bukan bilang Ardan sudah tua. Tapi kalau dipikir\-pikir sekali lagi. Memang berumur dan sudah tua memiliki arti yang sama. Mungkin maksud berumur adalah kata yang lebih halus. Untuk menyinggung seseorang yang memiliki usia lebih banyak.



"Sama saja !!! Tapi sayang menurutmu Kevin bakalan diterima apa ditolak ya?" Ardan pun penasaran akan kelanjutan kisah asmara Kevin, sahabatnya.



"Ya gak tau juga mas. Kan masalah hati berbeda\-beda. Kalau mas tanya aku. Nanti gimana sama Monic sendiri. Jelas beda. Tapi mas kan Kevin baru aja kenal sama Monica. Apa si Kevin itu benar\-benar tulus sama Monica? Kan cuma bertemu satu kali."



"Kevin gak bakalan pernah penasaran sama gadis dan gak bakalan berjuang sejauh ini. Aku tahu betul Kevin. Karna dia hanya punya seorang mama saja satu\-satunya hal yang paling Kevin jaga. Jadi dia bakalan menghormati gadis manapun yang menarik hatinya. Siapapun itu." Ardan menarik tubuh mungil istrinya mendekapnya kedalam dadanya. "Ayo bobok udah malam. Besok kamu juga masih harus ngampus bukan?"


__ADS_1


"Iya mas." Ani merekahkan senyumnya kemudian Ardan mengecup puncak ubun\-ubun Ani. Ani merasa dia benar\-benar dicintai. Dan itu merupakan hal besar baginya. Perlakuan Ardan dan kedua orangtuanya. Tak dapat dipungkiri kini hatinya pun sedikit demi sedikit mulai mencair menerima cinta Ardan. Membahagiakan ... dia pikir setelah menikah dengan Ardan nantinya dia akan mengalami hal yang sama dengan biduk rumah tangganya bersama Johan. Karna mengingat Ardan memaksanya menikah dengannya. Namun kenyataannya dia benar\-benar dihujani dengan berbagai cinta dari segala arah. Cinta dari sang suami. Kemudian cinta dari sahabatnya, Monica. Dan yang terakhir cinta dari mertuanya. Yang benar\-benar merupakan hal penting. Keduanya pun menutup mata kemudian sama\-sama terlelap kealam bawah sadar mereka.


__ADS_2