Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 35


__ADS_3

Tok tok tok....


"Masuk...." Sekretaris Herman membukakan pintu.


Ya Tuhan bagaimana ini aku gak mungkin bisa kabur lagi sekarang. Intan.


Intan menggigit bibirnya. Hatinya kelu. Bagaimanapun dia sangat mencintai Johan. Mantan suami sahabatnya sendiri.


"Tuan muda." Marzuki menaruh hormat. Sedangkan anaknya benar-benar gemetar ketakutan dia menundukkan kepalanya belum berani menatap siapa itu tuan muda.


"Hem.." Ardan menyahut sekenanya. Dia tahu siapa mereka berdua. Karna dia sempat menelusuri kehidupan istrinya.


"Apa maksud kedatanganmu tuan?" Sekretaris Herman bertanya sekenanya.


"Ah ini Intan anakku tadi membawakanku makan siang dan saya rasa porsinya berlebihan. Bagaimana kalau tuan muda makan bersama kami? Dan sekalian mencicipi masakan anak saya. Siapa tahu anda suka tuan."


"Tidak perlu.!!! Aku sudah dimasakkan oleh istriku !!! Sebentar lagi dia kesini. Kau tak perlu basa basi. Keluarlah."


Dasar anak tak berguna !!! Kenapa kamu malah menundukkan kepalamu?! Sehingga Presdir menjadi beralasan sudah punya istri segala !!!! Kamu benar-benar tak berguna !! Apa yang ada di dalam kepalamu isinya hanya Johan saja ?!!! Belum apa-apa sudah kalah. Kenapa kamu bahkan tak memikat laki-laki yang ada di hadapanmu ini!!! Marzuki.


Hah? sudah punya istri itu berarti dia sudah menolakku kan? Johan.... Akhirnya aku tak mengkhianatimu. Intan.


Kemudian Intan mengangkat kepalanya. Rasanya sekarang dia tak perlu takut untuk menatap sang Presdir. Karna sang Presdir sendiri yang menolaknya.


Deg... deg.... deg.... Hah? Jadi.... Jadi orang ini yang dimaksud papa? Tapi... tapi. ... Dia bahkan belum tua sekali. Dia gagah. !!! Sangat berwibawa sekali. Glek.... Bahkan dia masih tampan. Aaaahhhhh kenapa papa gak bilang sih dia masih exsotis begini? Terus gimana ini?!!! Kalau dia siapapun juga mau!!! aahhhhhh papa..


"Anu.... apa anda tak ingin mencicipinya sedikit saja?" Intan akhirnya membuka suara. Membuat sang papa tersenyum. Intan mulai goyah melihat wajah dan postur sang Presdir. Laki-laki dewasa yang mapan dan terkenal. Senyum pun ia sungging mantap. Tak ragu-ragu lagi.


Sungguh membuatku jijik. Herman


"Cih.... Kau tak dengar ha? Aku bilang aku sedang menunggu istriku kemari!!! Dia sudah memasakkan untuk makan siangku !! Jadi aku tak butuh Makan siang darimu!!!"


"Tapi tuan anak saya sudah masak banyak. Tolong anda cicipi."


"Kalau aku mencicipi masakan anakmu. Lalu bagaimana dengan masakan istriku? Kalau kamu bilang anakmu sudah repot-repot untuk memasak. Lalu bagaimana dengan istriku? Aku sudah memintanya masak tadi pagi. Dan ini sudah pukul 11 aku yakin dia sudah perjalanan kesini. Apa pantas aku memperlakukan istriku dengan memakan masakan anakmu yang bukan siapa-siapaku? Sedangkan masakannya yang sudah dia sibukkan dari pagi tak kumakan? Hah? Katakan." Ardan menyinggung halus dua orang didepannya.


"Tapi anda kan belum menikah tuan?"


"Hahahahahaaa memang kamu tahu dari mana aku belum menikah?"

__ADS_1


Kenapa dia tertawa? Marzuki


"Da...dari berita." Marzuki kini tergagap. Intan sudah merinding disampingnya papanya.


Brakkk....!!!! Ardan berdiri.


Ap ...apa?! Intan.


Kalian benar-benar sudah putus urat malunya. Kalian tahu istrinya benar-benar hal yang sangat berharga untuk tuan muda. Bisa-bisanya kalian tak tahu malu begitu. Herman


"Heh hanya orang-orang terdekatku saja yang berhak tahu!!! Kalian hanya orang luar tak perlu tahu!!! Pergi sebelum aku bertindak lebih!!!" Ardan sudah muak mendengar kata-kata Marzuki Seakan dia benar-benar beralasan kalau sudah memiliki istri.


"Kalian keluarlah sebelum lebih parah dari ini." Herman menuntun kedua orang itu.


Mereka menganggukkan kepalanya. Dengan tubuh yang masih gemetar mereka keluar dari ruangan Presdir.


"Mereka benar-benar tak tahu malu tuan muda. Kenapa anda meladeni mereka?" Tanya Herman karna bingung sang majikan yang meladeni kedua orang brengsek itu.


"Sudahlah Herman aku hanya ingin tau sejauh apa Marzuki menuntutku. Bedebah itu tak akan tinggal diam begitu saja. Suruh mata-matamu itu terus melanjutkan pekerjaannya aku ingin tahu sejelas-jelasnya bagaimana dia bertingkah. Aku akan meladeni mereka. Namun jika sampai mereka menyakitiki istriku. Lihat saja akan aku hancurkan berkeping-keping."


"Baik tuan muda saya mengerti. Kalau begitu saya undur diri."


"Hem."


Kini mereka sampai ditempat parkir. Mereka berdebat. Marzuki kesal lantaran anaknya ditolak sebelum memulai. Sedangkan intan kecewa karna ternyata sang Presdir masih tampan dan berwibawa.


"Apa maksud papa? Aku juga gak tahu pa kenapa dia menolakku!!! Lagian intan juga mau kalau sama dia. Dia masih keren. Kenapa papa gak bilang dia masih muda ? Kupikir dia sudah tua."


"Heh berusahalah lebih keras. Sering-seringlah kemari."


"Tapi pa emang bener ya tuan muda Ardan sudah punya istri?"


"Setahu papa belum. Sudahlah itu mungkin alasan tuan muda Ardan saja untuk menghindarimu. Karna kalau tuan muda Ardan sudah menikah pasti beritanya gak akan selesai selama seminggu. Tapi lihat media saja semua anteng-anteng saja kan? Kamu masih punya kesempatan. Hanya perlu berusaha lebih keras saja."


"Iya ya pa." Intan menganggukkan kepalanya. Tanda mengerti. Namun sekelebat bayangan menyambar perhatiannya. Sosok yang sangat dia benci. "Pa bukannya itu Ani ya?"


Sontak saja Marzuki menoleh. Dan mereka mendapati Ani berjalan menuju kantor.


"Hei!!!" Marzuki berteriak. Sosok yang dia teriaki pun menoleh.

__ADS_1


Ya Allah kenapa harus aku bertemu dua orang itu?


"Ada apa?" Ani berusaha bersikap tenang. Namun tiba-tiba...


**Plakkkk**...


Marzuki menampar Ani.


"Aku sudah bilang jangan muncul dihadapanku!!! Kenapa kamu muncul disini juga?"


"Aku juga punya hak untuk berada disini. Kenapa anda menampar saya?"


"Gila ya kamu itu siapa? Kamu gak punya hak disini karna kamu orang miskin!!!!" Kata Intan dengan nada mengejek.


"Maaf tapi disini tempat umum."


"Gak sembarang orang bisa berada disini tahu cepat pergi kamu sialan!!!" Intan meraih tangan Ani.


"Tunggu itu apa yang kau bawa cewek sialan?!!" Marzuki merebut paksa rantang berisi makan siang Ardan.


"Kembalikan!!! Itu makan siang untuk suamiku!!"


"Suami? Kau sudah menikah? Hahaha jadi siapa laki-laki sial yang menikahimu? Kau bawakan bekal murahan ha? Kerja dibagian apa suamimu? Biar aku pecat." Marzuki tak hentinya memainkan rantang makanan itu.


"Punya hak apa kamu memecat suamiku?" tanya Ani sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman intan.


"Tentu saja papaku punya hak !!! Dia memiliki saham 7 persen diperusahaan Wijaya !!!" Intan tersenyum sinis.


Apa? Jadi karena itu mereka hari ini barada disini? Karena itu beberapa waktu yang lalu Pak Marzuki ada di sini? Ya Allah permainan macam apa ini.


"Intan lepaskan!!!"


"Enggak!!!"


"Kenapa? Aku punya salah apa sama kamu?"


Plakkkk.. Lagi-lagi Marzuki menampar Ani. Ani tak bisa berbuat banyak dia berusaha melepaskan tangan intan yang mencengkeram kedua tangannya. Sehingga tangannya terkunci.


"Salah kamu karna kamu muncul lagi dihadapanku Ani?!!! Aku sudah memperingatkanmu untuk itu !!!"

__ADS_1


"Lepaskan tangan kotor kalian dari istriku !!!"


 


__ADS_2