
"Aku sudah tahu tentang kabar itu. Untuk itu kan, kalian kemari?" tebak Rendy.
"Benar. Aku heran. Selama ini, aku tidak memiliki musuh yang memiliki dendam besar. Tapi hari ini, aku malah mendapati satu hal kejadian yang mengerikan. Bahkan, berkat Sabrina, kami semua bisa menemukan di mana letak b*m itu ada. Terlebih, Sabrina bisa menjinakkan b*m. Itu sungguh luar biasa, Rendy! Kau benar-benar mendidik Sabrina dengan sangat hebat. Aku kagum." Kedua mata William menampakkan kekagumannya ketika sedang bercerita.
Rendy tersenyum jumawa. "Benar. Aku mendidiknya dengan sangat keras. Untuk itulah, waktu itu aku memperingatkanmu, William. Kau sudah menutup perusahaanmu?"
William mengangguk. "Sudah. Aku terancam bangkrut lagi, Rendy. Perusahaanku tak bisa diselamatkan lagi." Pria itu menunduk. Wajahnya terlihat lesu.
"Kenapa kau terlihat sedih? Ayolah, ada banyak jalan keluar. Sabrina pasti memiliki cara sendiri. Dia jalan keluarmu," ujar Rendy dengan santai.
"Tapi, Rendy. Aku butuh investasi besar. Itu bukan hanya tentang perusahaanku. Tetapi perjuanganku bersama mendiang istriku terdahulu. Aku butuh milyaran. Mungkin, mencapai titik fantastis," keluh William.
"Sudah aku bilang, Sabrina jalan keluarmu. Dia akan mencari jalan keluar untukmu. Bagaimana, Sabrina? Melihatmu yang santai begini, kau pasti sudah memikirkan sesuatu bukan?" tebak Rendy.
__ADS_1
Saat ini Sabrina tengah diobati oleh Elena. Luka-luka di tubuh Sabrina memang tidak banyak. Akan tetapi, Sabrina takut akan meninggalkan bekas. Mendengar kata-kata Rendy, Elena dan Sabrina menoleh. Keduanya lalu saling berpandangan.
"Sudah. Aku sudah memikirkan tentang investasi itu. Tapi yang aku khawatirkan adalah perusahaan yang terancam bangkrut. Aku takut, jika akan ada tangan yang mengusik perusahaan itu. Kupikir, harus menggerakkan orang untuk mengawasinya dalam jangka waktu tertentu," papar Sabrina.
"Kau memiliki dua kunci untuk melakukannya. Bukankah kau memiliki kuasa?" timpal Rendy.
Mendengar itu, Sabrina mencebikkan bibirnya. Ia tahu apa maksud dari Rendy. Sedangkan William dan Artur, hanya terdiam membeku. Elena lalu menepuk bahu Sabrina pelan.
"Lakukan apa yang menurutmu baik, Sayang. Papa dan mama akan mendukungmu. Mama yakin, kau pasti memiliki jalan untuk itu." Elena tersenyum.
"Para investor dari Xander Grup?" sapa Sabrina.
__ADS_1
Semua mata menatap liar pada sosok Sabrina yang menawan. Ditambah lagi, gadis itu berdiri angkuh dengan kacamata hitam yang bertengger di telinga. Di belakang, ada Atur dan juga William. Sedangkan Darren, pria itu mengawasi dari kejauhan.
"Em, iya. Anda siapa?" tanya salah satu pria paruh baya di sana.
Sabrina menarik sudut bibirnya. William segera menarik satu kursi yang kosong untuk Sabrina. Memahami maksud William, Sabrina duduk seraya menyilangkan satu kaki. Menampakkan paha mulus dan jenjang. Beberapa pria paruh baya dan beberapa pria muda, tampak melirik nakal ke arah paha Sabrina. Kemudian Artur dan William duduk di kursi yang masih kosong.
"Perkenalkan, saya Sabrina Azzahra Wijaya. Putri kedua dari Tuan Rendy Wijaya Saputra. Saya di sini selaku wanita dari Tuan William. Ingin mendiskusikan beberapa masalah. Tentu saja tentang investasi Anda semua. Sedikit memberikan satu penawaran," ucap Sabrina.
"Penawaran? Tunggu, Anda wanita dari Tuan William? Anda jangan bercanda! Lalu Anda mengatakan, jika Anda putri dari Tuan Rendy? Mustahil! Tolong, Anda memahami situasi. Banyak uang kami yang sedang dipertaruhkan, Nona! Jangan kelewatan membohongi kami!" seru pria paruh baya.
Sejenak Sabrina mengeluarkan sebuah pistol revolver berkaliber 22 dari tas yang ia genggam di tangannya. Membuat semuanya terhenyak kaget. Begitu pula dengan William dan Artur yang mendadak horor.
Dengan senyuman seringai terbit di bibirnya, Sabrina menarik pelatuk pistol tersebut dan mengarahkannya ke arah vas bunga yang ada di dekat dinding. Tak lama kemudian, vas bunga keramik itu pecah berhamburan.
__ADS_1
"Bagaimana? Masih meragukan status saya sebagai putri kedua Tuan Rendy Wijaya Saputra?" ejek Sabrina.