
William menatap tak percaya, kepada Sabrina yang saat ini tengah presentasi di depan. Kedua matanya beberapa kali terlihat mengerjap. Dilihatnya semua karyawan, yang ikut dalam meeting. Nampak seperti terhipnotis pada cara penyampaian Sabrina.
"Baiklah. Apa ada pertanyaan Tuan dan Nyonya?" tanya Sabrina saat ia telah mengakhiri presentasinya.
"Tidak, Nona Sabrina. Cara penyampaian Anda begitu sederhana, namun kami semua masih bisa memahaminya." Salah satu mewakili teman-temannya.
Sabrina tersenyum. "Terima kasih. Kalau begitu, meeting saya akhiri."
Sabrinapun mengakhiri meeting, dengan baik. Gadis itu lalu menjatuhkan bokongnya di kursi. Sabrina lalu mengeluarkan tisu, untuk mengelap keringatnya.
"Aku gugup sekali," cicit Sabrina. Tatkala, semua orang telah meninggalkan ruang meeting.
William menatap lekat Sabrina. "Kurasa, itu presentasi yang bagus. Kau bisa menghafal, semua itu dalam waktu yang singkat?" tanya William.
Sabrina mengangguk. "Ya, Tuan William. Papa mengajariku, banyak hal. Jadi, aku tidak kaget akan hal itu. Baiklah, masih ada banyak hal yang mesti diurus." Sabrina bangkit dari duduknya. Membereskan berkas-berkas yang tadi ia bawa. Berjalan menuju pintu, dan menghilang di baliknya.
Hening melenggang. Di ruang meeting itu, hanya ada William dan Ryu. Keduanya membeku di tempatnya. Detik berikutnya, William bangkit dalam diam, kemudian keluar dari ruang meeting. Ryu hanya mengekor di belakang, tanpa bersuara. Hingga kedua pria itu, tiba-tiba menghentikan langkah. Dari kejauhan, mereka dapat melihat seorang pria muda berbicara dengan Sabrina.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya William.
Ryu memilih bungkam. Cukup enggan untuk menjawab. Ia sendiri, juga tidak tahu. Tak berapa lama, pria muda itu berjalan meninggalkan Sabrina. Gadis itu lalu duduk di kursinya. Terlihat ia mulai bekerja kembali.
William lalu berjalan menuju ruangannya. Mengabaikan Sabrina, yang nampak masih fokus pada pekerjaannya. Di dalam ruangan presdir, Artur justru sedang bermain game. Sesekali suaranya, terdengar mengumpat dan memaki.
Apa aku telah salah mendidik anak? Kenapa dia berbeda sekali, dengan Sabrina? Di saat Sabrina, bahkan sudah siap terjun di dunia kerja. Tapi lihatlah, anakku. William memejamkan kedua matanya.
"Eh, Ayah. Sudah selesai meetingnya? Aku bosan!" keluh Artur.
__ADS_1
William berjalan menuju mejanya. Lalu duduk, dan kembali menyalakan laptop. "Memangnya, siapa yang menyuruhmu ikut kemari?" sinis William.
"Aku hanya takut, Sabrina menggoda Ayah!" tegas Artur.
"Menggodaku?" Dahi William mengerut. Apanya yang menggoda? Bahkan Sabrina dengan elegannya, membuatku salah tingkah. Dengan berbagai kemungkinan kelebihan yang ia miliki, tentu dengan sendirinya aku akan terjatuh dalam pesonanya. William mengusap wajahnya kasar.
"Benar. Apa Ayah lupa? Bukankah sebelum menikah, Sabrina begitu agresif mendekati Ayah?" ejek Artur.
Agresif apanya? Lagi William membatin. Pasalnya, justru Sabrina terlihat biasa saja setelah menikah. Tiba-tiba hati William menjadi resah. Bukankah sebelum menikah, Sabrina memang nekat sekali? Ah, William menepis rasa yang aneh dalam hatinya.
"Artur, kau jangan berfikiran aneh-aneh. Sabrina menjadi urusanku. Kau setidaknya, harus belajar lebih rajin. Mengingat sekarang kau telah kelas 3 SMA. Jangan membuat ayahmu ini, merasa gagal mendidikmu. Pulanglah. Jangan membuat onar," ujar William dengan lembut.
"Oh, demi Sabrina. Ayah mengusirku?" Artur merasa dadanya terasa sesak.
"Artur! Ayah tidak mengusirmu! Kenapa pikiranmu, selalu buruk saja kepada ayah? Ini di kantor, bukan tempat untuk bermain! Bukankah lebih baik, kau pulang dan belajar?" William memijit pelipisnya.
"Artur, cukup!" Suara William tak kalah nyaring.
Dada bidang William, terlihat naik turun. Nafasnya memburu. Sungguh sakut, dituduh sang anak tercinta. Sejak kapan Artur menjadi pembangkang begini? Ah, benar. Sejak pernikahannya, dengan Sabrina.
Artur tersenyum smirk. "Baiklah. Ayah lebih memilih Sabrina, ketimbang Artur. Ayah ternyata telah dibutakan oleh Sabrina." Setelah mengatakan hal itu, Artur melangkah pergi. Meninggalkan William, dan ruangan presdir. Saat melihat Sabrina, Artur bergumam, "dasar j*l*ng."
Sabrina yang masih bisa mendengarnya, tentu saja naik pitam. Gadis itu memicingkan mata. Dilihatnya ponsel miliknya, yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat, Sabrina melesatkan ponselnya mengudara, dan dengan telak mendarat tepat di kepala Artur. Karena pintu ruangan presdir yang terbuka, William dapat melihat Artur sedang terjatuh seraya memegangi kepalanya.
Sabrina bangkit dari duduknya. Sekilas menghampiri Artur dan melayangkan tinjuan, tepat mengenai wajah remaja itu. William melotot seketika. Segera ia berlari, menghampiri Sabrina yang memukuli Artur.
"Sabrina! Apa yang kau lakukan?" jerit William.
__ADS_1
Mendorong tubuh Sabrina, dan segera meneliti wajah Artur. William lalu menoleh ke arah Sabrina, dengan kedua mata yang memerah. Emosi William membuncah.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukuli anakku?" bentak William.
"Oh, jadi menurutmu aku harus diam saja? Saat dia mengataiku j*l*ng?" tantang Sabrina.
"Tapi kau seharusnya tidak memukulinya! Apa kau gila? Lihat wajahnya!" William masih saja membela Artur.
"Lalu maksudmu, aku harus apa?" tanya Sabrina.
Hatinya terasa nyeri. Bagaimana bisa, ia diam saja saat dikatai ******? Padahal dia sendiri, tidak pernah mengusik atau mengejek Artur. Haruskah ia bertekuk lutut pada cintanya? Apapun selain kata j*lang, bolehlah cintanya itu menghinanya. Bukankah kata j*lang sendiri, merujuk pada merendahkan harga diri seseorang? Bagaimana bisa Sabrina berdiam diri? Sabrina merasakan embun di kedua pelupuk matanya, hendak jatuh. Benar saja. Saat gadis itu mngerjapkan kedua matanya, air mata itu tak urung jatuh juga.
"Artur tidak mungkin mengatakan hal itu!" sentak William.
Hei, Artur adalah anak satu-satunya. Mana mungkin William justru bisa membiarkan orang asing, memukuli putra satu-satunya? Ya. Sabrina adalah orang asing bagi mereka berdua.
Sabrina melirik Artur yang tengah bersimpuh disana dengan senyuman sinis. Lalu pandangan Sabrina tertuju pada William, yang masih saja menatapnya dengan penuh amarah.
Sabrina berkata, "langit tak bertiang. Jangan pongah atas posisi tinggi yang kau tempati. Karena kita tidak tau, kapan kita akan terjatuh. Apa ini artinya, kau sama saja mengiyakan aku ini seorang ******? Dalam hidup, kehormatan tertinggi seorang wanita adalah dia yang sebaik-baiknya menjaga iman dan harga dirinya hanya untuk kekasih halalnya kelak. Aku selalu bercermin dalam hal itu. Tapi nyatanya, ada seseorang yang mengataiku j*lang, dan aku harus berdiam diri tanpa pembelaan."
Sorot mata Sabrina terlihat putus asa. "Baiklah. Sepertinya, aku harus mengingkari janji. Carilah sekretaris. Mulai besok, aku tidak akan datang lagi. Permisi!" Sabrina membungkukkan tubuhnya. Lalu menyambar ponsel yang tergeletak di lantai. Setelahnya, Sabrina berjalan cepat, membawa hatinya pergi meninggalkan William dan Artur yang tersenyum puas.
Hai hai hai😍😍 silahkan mampir ke novel temanku ya. dijamin seru loh
__ADS_1